| Rate This Article: | ||
|
Menyimak unsur kehidupan bagi manusia di dunia ini, tidak perduli dari negara, suku, umur, atau sifat kelaminnya, jurus utama yang kita inginkan adalah kebahagiaan.
Kita bekerja, makan, berkeluarga, beribadah, dan aktifitas lain berdasarkan kehendak untuk mendapatkan kebahagiaan. Walau terkadang aktifitas tertentu dilakukan, seperti mencari uang, sebagai akhir dari tujuan kita karena lupa atas yang sebenarnya dicari adalah kebahagiaan, bukannya uang yang dicari.
Sudah menjadi fakta bahwa kekayaan tidak menjamin kebahagiaan, sebagai contohnya:
Stalin, pemimpin Russia diceritakan oleh putrinya, bahwa walaupun ia kaya-raya, penuh kekuasaan, dan dapat melakukan apa pun yang dia inginkan, sangatlah menderita. Sewaktu ajalnya datang Stalin tidak dapat percaya kepada siapapun termasuk dirinya sendiri. Dia sempat membunuh anaknya sendiri dan merasa sangat kesepian dan penuh derita.
Jadi alangkah bergunanya untuk direnungkan apakah yang kita lakukan akan memberikan kebahagiaan. Jangan kita menempuh jalan yang sebenarnya menambah penderitaan dan menjauhi kebahagiaan.
Mudah sekali kita dapat terpengaruh melihat orang lain yang bermobil istimewa, mempunyai istri cantik atau suami yang ganteng, berpakaian mewah, beranak banyak, dan mempunyai kekuasaan, seolah berbahagia dengan segala materi itu.
Sebenarnya kalau kita telusuri, kebahagiaan berasal dari dalam kita, bukan tergantung dari apa yang terjadi diluar kita. Dalam hal ini tidak dapat kita memungkiri kenyataan yang mana uang, dalam kebanyakan situasi diperlukan untuk kehidupan. Juga tidak kalah pentingnya untuk menyimak berapa banyak uang yang diperlukan dan seatasnya adalah berlebihan.
Pada contoh yang kita telusuri: kekayaan, perlu juga kita pelajari pengaruh uang atas penerimaan sosial. Tidak asing bila kita temukan kumpulan manusia yang tidak akan menghormati sesamanya kalau dia itu miskin. Perlu juga kita bertanya manusia macam apa yang menghindari sesamanya kecuali dia itu kaya raya.
Apakah manfaatnya untuk bergaul dengan orang yang menilai manusia atas dasar kekayaan? Apakah orang bermacam tersebut dapat diandalkan sebagai seorang teman?
Kalau kita pikirkan secara mendalam, sebenarnya kebahagiaan itu berbentuk keadaan batin. Bukan sesuatu yang berbentuk materi. Arti sakit atau penderitaan dapat diartikan yang berlainan dari orang ke orang lain. Untuk seseorang, dicambuk menghasilkan rasa sakit, sedangkan untuk orang lain dapat menimbulkan rasa kepuasan seksual, sebagai contohnya. Maka alangkah baiknya kalau kita telusuri masalah kebahagiaan dari segi ilmu jiwa, bukan materi.
Jadi walaupun hal materi seperti perobatan, teknologi canggih, seni-rupa, dan lain lainnya ada bermaanfaat. Untuk masalah kebahagiaan sebaiknya kita akan lebih melihat pada bagaimana kita melihat konsep. Seperti hari Senin, bulan Maret, Katulistiwa, International Dateline, Latitude & Longtitude, adalah konsep yang tidak dapat dipegang oleh kulit kita, atau dilihat dengan mata kita, atau di cicipi dengan lidah kita. Konsep ini, seperti kebahagiaan berada dalam dunia yang abstrak dan bermukim di dalam hal jiwa, bukan materi.
Untuk selanjutnya akan kita telusuri beberapa hal sehubungan dengan kebahagiaan dan pertanyaan apakah mungkin untuk dapat memupuk kebahagiaan, serta resepnya untuk memupuk kebahagiaan.
Perlu kiranya dalam mengerti kebahagiaan dan caranya untuk memupuk hal tersebut kalau kita megerti hal-hal sebagai berikut:
1. DEFINISI KEBAHAGIAAN:
Yang diartikan kebahagiaan adalah suatu perasaan yang tenang, tidak tegang. Merasa ringan, tidak berat. Berasal di dalam sanubari, bukannya dari luar. Tidak melonjak-lonjak seperti mendapat lotre. Tenteram dan kecukupan, bukan menagihkan. Merasa penuh keyakinan, tidak membingungkan. Bersenyum kecil, tidak tertawa terbahak-bahak. Merasa rela dan pasrah, tidak kuatir. Terasa besar hati, tidak kecil hati. Kebanyakan orang dan binatang merasa aman disebelah kita, tidak takut atau kuatir atau cemburu. Raut muka terasa cerah tidak meledak. Daya konsentrasi yang tajam tidak kabur. Merasa berani, tidak takut atau menakuti.
Mungkin kita semua pernah merasa bahagia seperti yang terurai diatas. Dapatkah kita pupuk perasaan tersebut? Dapatkah kita adakan, bukannya hanya kalau kebetulan? Sebelum kita melihat jawaban dari pertanyaan tersebut, alangkah baiknya kalau kita selidiki hal-hal yang menjadi rintangan untuk kebahagiaan.
Selanjutnya akan kita teruskan pembicaraan ini di edisi yang akan datang.
Tetap semangat...
Untuk share artikel ini, Klik www.KabariNews.com/?33638
Mohon beri nilai dan komentar di bawah artikel ini
______________________________________________________
Supported by :

| ||||||||||||
| ||||||||||||
| ||||||||||||
|
| - The Ugly Duckling From Berkeley |
| Rating: 272 |
| - Utama: Daftar 100 Orang Paling Berpengaruh Di Dunia |
| Rating: 209 |
| - 22 KHASIAT BAWANG PUTIH |
| Rating: 197 |
| - RAYMOND DISUNTIK OBAT SAKIT JIWA SEBELUM USAHA DEPORTASI |
| Rating: 166 |
| - 10 Cerita Heboh Karena Facebook (Bagian II) |
| Rating: 137 |
| - K-Video: "Perempuan Berkalung Sorban" |
| Rating: 90 |
| - Eulogy untuk Gusdur oleh Romo Mutiara Andalas |
| Rating: 69 |
| - Hidupku Direngkuh Sahabat |
| Rating: 63 |
| - Seni: Seni Kreatif Membuat Layang-layang |
| Rating: 59 |
| - 14 Cara mengurangi Global Warming |
| Rating: 56 |