| Rate This Article: | ||
|
Menyambung blog 25 Agustus 2009 yang mana telah diuraikan definisi dari konsep kebahagiaan, alangkah bermaanfaat kalau kita telusuri sedikit arti yang bertolak belakang dengan perasaan yang tidak berbahagia.
Mudah dirasakan di badan dan batin, contohnya bila kita dalam keadaan marah, iri hati, kesal, sedih, jengkel, kecanduan, dendam atau perasaan lainnya yang timbul secara kentara. Sedangkan yang kurang kentara, sebagai contohnya seperti perasaan berdebar, resah, kurang nyaman, gerah, khawatir, ragu-ragu, malu, sungkan, sibuk, dan rasa malas.
Seringkali sulit untuk dapat sadar bahwa perasaan kurang berbahagia itu untuk dapat dikenali. Marilah kita himbau masalah nomor dua dari urutan yang disebut dalam blog bulan yang lalu, yaitu: rintangan untuk mencapai kabahagiaaan.
Rintangan tersebut berasal dari dua tempat: yaitu dari dalam diri sendiri dan dari lingkungan di luar diri kita. Walaupun rintangan yang berasal dari luar diri kita cukup penting artinya, tapi lebih penting bila kita menelusuri yang berasal dari dalam diri kita.
Bila kita pusatkan penelitian kita atas hal yang datang dari dalam diri kita maka ini memungkinkan untuk menambah kepintaran dan kebijaksanaan. Selain alas an untuk menambah ilmu, alasan lainnya adalah karena lebih mungkin untuk mengontrol diri kita daripada mengontrol hal yang di luar diri kita.
Kekurang sadaran (sebagai rintangan) atas perasaan kurang berbahagia kadang kala diakibatkan oleh:
1. Tidak sadar adanya perasaan kurang bahagia: ini diakibatkan kurang perhatian atas perasaan di badan dan batin, seolah kebal. Hidup hari ke hari tanpa dapat memperhatikan rasa di sanubari dan di badan yang dikarenakan kurang sadar, mungkin karena terlalu sibuk atau hanya belum pernah memberikan perhatian atas perasaan yang kurang enak di badan atau jiwa.
2. Sadar tapi menekan perasaannya: ini diakibatkan tidak berkeingininan untuk meninjau perasaan yang kurang baik dengan pikiran ini cara yang baik untuk tidak merasa kurang bahagia. Karena kalau ditinjau itu akan mengakibatkan kesadaran perasaan yang kurang diminati. Jadi menipu diri yang akhirnya menyesatkan diri dari pengertiaan atas apa yang sebenarnya.
3. Merasa kuat: ini sering terjadi atas kaum pria yang tidak baik untuk mengaku supaya tidak terlihat kurang jantan. Kalau mengaku bahwa adanya timbul perasaan kurang bahagia, maka dapat diaanggap kurang kuat dalam meghadapi tantangan hidup sehari-hari.
4. Merasa sudah takdirnya: ini diakibatkan perasaan yang menyalahkan diri atas perbuatan yang sudah atau dari keturunan yang mengakibatkan sengsara atau perasaan yang kurang bahagia sebagai suratan takdir. Sudah mestinya hidup ini penuh sengsara.
Jadi kekurang sadaran adalah suatu rintangan untuk mencapai kebahagiaan. Selain kekurang sadaran ada hal-hal lain yang dapat menjadi rintangan untuk kebahagiaan:
1. Ketamakan: keinginan yang meminta lebih atau perasaan kekurangan yang sulit dipenuhi akan menjadi rintangan untuk mencapai kebahagiaan. Walau sudah terpenuhi keinginan yang pertama, timbul lagi perasaan yang ingin lagi atau lebih dari yang telah didapat. Bukan saja karena memang kekurangan, tapi sudah terpenuhi keinginannya , malah bertambah keinginan yang melebihkan atau mengulangi perasaan yang membahagiaan semula.
2. Kebenciaan: pemikiran yang kurang baik atas orang lain, situasi atau keadaan, terhadap mahluk lain, atau barang yang tidak disukai akan menjadi rintangan untuk mencapai kebahagiaan. Perasaan yang ingin menghindari atau ingin untuk menyakiti , akan menjadi ringtangan.
Rintangan-rintangan yang terurai diatas dapat menambah atau mengurang bila seseorang terpengaruh atas lingkungan hidup, diluar dari diri kita. Sulit untuk tidah terpengaruh atas lingkungan, tapi tidak mustahil bila mempunyai kekuatan batin dan pengertian bahwa rintangan tersebut perlu disingkarkan.
Suatu kesadaran yang dapat membantu keinginan untuk menyingkarkan rintangan tersebut adalah pengertian bahwa akibat hidup tidak berbahagia akan menimbulkan sakit, seperti jantungan, darah tinggi, lemah zakar,urat tegang, sakit jiwa, dan lainnya. Selain menimbulkan sakit, hubungan dengan keluarga, lingkungan, dan terhadap dirinya sendiripun akan merana.
Sebaliknya hidup berbahagia akan mengakibatkan rasa sehat badan dan batin, serta juga mempunyai teman yang banyak , keluarga yang tenteram, dan rasa harga diri yang baik.
Maka ada baiknya mencari lingkungan yang dapat memberikan kebahagiaan yang murni dan hindari lingkungan yang kurang baik. Selanjutnya cari lah jalan yang dapat memupuk kebahagiaan, yang akan diuraikan pada blog edisi yang akan datang: Kondisi lingkungan yang diperlukan untuk memupuk kebahagiaan.
Untuk share artikel ini, Klik www.KabariNews.com/?33791
Mohon beri nilai dan komentar di bawah artikel ini
______________________________________________________
Supported by :

| ||||||||||||
| ||||||||||||
| ||||||||||||
|
| - The Ugly Duckling From Berkeley |
| Rating: 272 |
| - Utama: Daftar 100 Orang Paling Berpengaruh Di Dunia |
| Rating: 200 |
| - 22 KHASIAT BAWANG PUTIH |
| Rating: 177 |
| - RAYMOND DISUNTIK OBAT SAKIT JIWA SEBELUM USAHA DEPORTASI |
| Rating: 165 |
| - 10 Cerita Heboh Karena Facebook (Bagian II) |
| Rating: 132 |
| - K-Video: "Perempuan Berkalung Sorban" |
| Rating: 89 |
| - Eulogy untuk Gusdur oleh Romo Mutiara Andalas |
| Rating: 69 |
| - Hidupku Direngkuh Sahabat |
| Rating: 62 |
| - 14 Cara mengurangi Global Warming |
| Rating: 51 |
| - Seni: Seni Kreatif Membuat Layang-layang |
| Rating: 50 |