EDDY FANCES
JODOH TIDAK DITENTUKAN TUHAN!
Rate This Article:
0

JODOH TIDAK DITENTUKAN TUHAN!

Apakah Anda selama ini menganut “Teologi Takdir” yang percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini sudah ditentukan oleh Tuhan yang Maha Kuasa? Termasuk jodoh (istri atau suami atau pacar) Anda sekarang ini? Dan juga setiap pernikahan yang ada di dunia ini, termasuk yang tidak cocok, banyak cekcok, diambang perpecahan, ataupun yang sudah bercerai? Semua pasangan itu ditentukan oleh Tuhan??

Saya yakin kalau keluarga Anda berbahagia, Anda akan bilang, “Betul, jodohku itu memang sudah ditentukan Tuhan. Bahkan sejak saya dari kandungan ibu, Dia sudah siapkan seorang jodoh yang terbaik sebagai pasangan hidupku”. Tetapi bila keluarga Anda sekarang ini amburadul, dan kritis ibarat telur di ujung tanduk, apakah Anda masih percaya semua itu sudah takdir Allah, atau nasib yang sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa? Yang benar aja! Mungkinkah Allah yang Maha Baik menakdirkan yang buruk dan jahat untuk Anda? Hati-hati! Jangan sampai Anda terjebak memfitnah Tuhan!

Sejak manusia pertama Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, Kitab Suci menyaksikan bahwa semua manusia di dunia ini juga lahir dengan pikiran dan hati yang tercemar oleh dosa (Roma 3:23). Hal ini membuat manusia meleset dalam pengenalannya terhadap Allah, terhadap manusia termasuk dirinya sendiri, dan terhadap alam semesta. Walaupun demikian Allah tetap menghargai “kehendak bebas” yang diberikanNya kepada manusia; termasuk dalam hal memilih dan menentukan jodoh dalam hidup pernikahannya. Namun sayang, manusia yang gagal dalam pernikahannya seringkali memakai konsep “jodoh ditentukan Tuhan” [Teologi Takdir] untuk membenarkan diri, dan melemparkan kesalahan kepada Allah dan orang lain, lalu mengambil keputusan untuk bercerai.

Coba perhatikan contoh dibawah ini. Sinyo yang sudah menikah dua tahun merasakan hubungannya dengan istrinya tidak harmonis. Hampir setiap hari keluarganya diwarnai dengan percekcokan yang membuatnya stress, frustrasi dan putus asa. Istrinya, Nonik yang juga sudah tidak tahan, berkata dalam kepada Sinyo, “Melihat keadaan keluarga kita, saya rasa kayaknya kau bukan jodohku yang sudah ditakdirkan Tuhan.”

“O ya? Kok saya juga berpikir hal yang sama? Memang kau bukanlah ‘tulang rusukku’ yang tepat. Makanya tidak pernah pas”, jawab Sinyo tersenyum setuju. “Kalau begitu seharusnya kita bercerai saja dan masing-masing mencari jodoh kita yang sesungguhnya – yang terbaik, yang pas, yang ditentukan Tuhan dari sejak semula. Setuju?”, lanjut Sinyo dengan nada yakin sambil menantang Nonik.

“Saya setuju! Besok kita ke pengadilan bersama pak pendeta”, jawab Nonik menerima tantangan suaminya.

Konsep “Teologi Takdir” yang percaya bahwa “Jodoh itu ditentukan Tuhan” sesungguhnya memiliki beberapa ranjau yang amat berbahaya. Antara lain:

  1. Membuka “pintu perceraian” dengan mudah dan seenaknya jika sebuah pernikahan tidak berjalan harmonis dan bahagia sesuai yang diharapkan.

  1. Manusia akan melarikan diri dari tanggung jawabnya dan “mengkambing-hitamkan” Tuhan jika keluarganya tidak bahagia; seolah-olah Tuhanlah yang memberikan jodoh yang tidak baik dan mentakdirkan keluarga yang tidak harmonis baginya.

  1. Kalau Allah menentukan setiap manusia sudah ada jodohnya masing-masing, maka sampai saat ini sudah berapa juta pasang pernikahan yang salah dan tertukar jodohnya, karena ada banyak yang kawin cerai? Hal ini sangat spekulatif sifatnya.

  1. Setiap pasangan yang merasa kurang cocok dan yang suka cekcok, akan mencurigai pasangannya sebagai “jodohnya” orang lain, dan hidup dalam ketidak-pastian, dan stress yang berat.

  1. Bagi mereka yang tidak menikah, akan menyalahkan Tuhan seolah-olah Dia tidak memberikan jodoh bagi mereka. Atau jodohnya diambil orang lain?

“Teologi Takdir” sesungguhnya adalah teologi yang menghasilkan sikap hidup yang negatif, yang melarikan diri dari tanggung jawab pribadi, dan yang diperalat oleh Iblis untuk memfitnah dan menuduh Allah itu jahat. Alkitab memberitahukan kita bahwa Allah memberikan prinsip-prinsip absolut dalam membangun sebuah keluarga yang harmonis dan bahagia. Siapapun dia, asal sungguh-sungguh mentaati prinsip Firman Tuhan tersebut, keluarganya pasti akan bahagia. Jadi, kebahagiaan pernikahan tidak tergantung kepada pribadi tertentu [jodoh yang khusus] – yang ditentukan oleh Allah, melainkan tergantung kepada ketaatan kita kepada Firman Tuhan. Prinsip-prinsip itu adalah:

  1. Pernikahan itu harus bersifat monogami dan berlawanan jenis kelamin (Kejadian 2:18-25).

  1. Keduanya haruslah orang yang beriman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan [Tuan] dalam hidup mereka (II Korintus 6:14-18).

  1. Keduanya bertekad mengikat perjanjian/sumpah nikah seumur hidup di hadapan Tuhan (Matius 19:4-9).

  1. Keduanya harus memelihara kekudusan dan kesetiaan pernikahan apapun yang terjadi (Ibrani 13:4).

  1. Suami harus mengasihi istri dengan kasih Kristus, dan istri tunduk kepada suami seperti kepada Kristus – artinya menjadikan Kristus sebagai Kepala keluarga yang sebenarnya. Keduanya tunduk kepada Firman Tuhan (Efesus 5:22-33).

  1. Keduanya bertekad mendidik anak-anak sesuai dengan ajaran Firman Tuhan (Ulangan 6:5-9; Efesus 6:4).

  1. Semua masalah dan konflik yang ada, diselesaikan berdasarkan kebenaran Firman Tuhan (II Timotius 3:16-17). Kebenaranlah yang harus menang, bukan pribadi.

Semua prinsip Alkitab diatas adalah mutlak sifatnya. Artinya, harus ditaati agar memperoleh kebahagiaan yang sejati. Hal-hal lainnya misalnya: umur, suku, pendidikan, kekayaan, status sosial, kecantikan, kecakapan, dan sejenisnya, adalah relatif sifatnya. Artinya, tidak menentukan kebahagiaan. Hanya soal selera pribadi saja.

Salam Kasih,

Eddy Fances

April 2010

 
 
 
Post A Comment
* Indicates required information
Comment Title:
* Comments:
Nickname:
* Validation:
2 comments for this article Reverse Comment Order
Added: October 19, 2011. 06:47 AM GMT
aini01
UGGS Nederland
aini01
Alert a moderator
Added: July 07, 2010. 06:31 PM GMT
knp x percaya apa yg telah ditakdirkan Allah?...knp x pernah cuba mengkaji Al-Quran.......Firman Allah di dalam Surah Al-Mulk ayat 2, “Dia lah yang telah mentakdirkan adanya mati dan hidup (kamu) – untuk menguji dan menzahirkan keadaan kamu: siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya;”......renung2kn...
Anonymous
Alert a moderator
Reverse Comment Order
Google
 
More From This Author