| Rate This Article: | ||
|
Seberapa kental rasa suka anda terhadap dunia persilatan? Baiklah, bukan soal ilmu bela diri per se, tetapi soal pengisahannya, hikayatnya, komiknya, filmnya dan sebagainya?
Saya termasuk penggemar berat.
Kalau anda menonton film animasi Kungfu Panda
(2008) yang dirilis di bioskop, tentu suasananya akan semakin
terasa. Bukan soal animasinya, atau fakta bahwa film ini dibuat oleh Dreamworks bukan Golden Harvest
berbasis Hongkong; oleh sutradara Barat, berbintangkan Joe Black
sebagai sang panda gemuk, Po, dan seterusnya. Sebagai film dengan rating PG, ini animasi lucu yang manis saja, termasuk penampilan sang guru (shifu)
oleh Dustin Hoffman yang dibuat mirip Obi Wan Kanobi-nya Star Wars.
Tetapi, bagaimana pun ini memang film silat, lengkap dengan pakem
persilatan yang sangat khas Daratan Cina.
Apapun
format penyuguhannya, termasuk film animasi, hikayat dunia persilatan
bagi saya sangat mengesankan. Ketika dulu kecil dan belum masuk
sekolah, ketertarikan saya untuk bisa membaca teks komik-komik
persilatan yang penuh gambar menarik itu telah memotivasi untuk
cepat-cepat pandai membaca. Hanya di kwartal pertama di kelas satu,
saya sudah langsung lancar membaca. Berkat komik persilatan.
Selain
komik, tentu semua tahu tentang deretan panjang cerita silat buah karya
Khoo Ping Ho. Berpuluh-puluh jilid cerita silat berbentuk stensilan itu
dilahap habis penggemar dunia persilatan dari tanah Tiongkok. Tak
usahlah disebutkan lagi nama-namanya atau jurus-jurusnya. Yang pasti
semua penuh kehebatan; lengkap dengan jurus-jurus mumpuni dengan ilmu
meringankan tubuh (ginkang) yang tinggi.
Memang
bagi saya, setiap kali disebutkan tentang dunia persilatan, ada sebuah
imagi otak yang selalu berulang. Kata orang yang mendalami psikologi,
kenangan pertama yang muncul dalam benak kita setiap kali
dirujukkan sesuatu hal adalah gambaran yang paling mewakili dasar
ingatan kita.
Setiap kali dunia persilatan itu disinggung, kelebatan ingatan
yang tampil sebagai bentuk asosiasi dari konteks itu bukanlah dari Legend of the Condor Heroes,
perguruan Shaolin atau lainnya. Herannya, yang selalu muncul di benak
saya adalah seorang pendekar pedang yang berjalan menuju sebuah rumah
kecil tepat di sisi kaki ngarai yang bersemak hijau rimbun, dengan
pohon-pohon besar di belakangnya. Udara saat itu terasa sejuk, seperti
saat setelah turunnya sedikit hujan yang melembabkan.
Saya
tidak tahu bagaimana dengan anda, tetapi untuk saya itulah bentuk
asosiatif yang selalu hadir. Seingat saya, setting cerita komik itu
menampilkan seorang pendekar bernama Mahesa. Judulnya pun telah lupa, namun suasananya terasa lengket sekali. Apakah itu karya Djair, Jan
Mintaraga, Ganes TH atau siapa, tak lagi saya ingat persis. Ia
tinggal menjadi kenangan batin yang melekat, terbawa ke mana-mana.
Dunia
persilatan ini dapat pula menjadi pembeda antara sejarah perhikayatan
dunia kepahlawanan di Barat dan Timur. Meskipun sama-sama diwarnai
benang merah pertarungan antara baik dan buruk yang selalu memunculkan
pahlawan penegak keadilan, tetapi tema besar (dasar) ini diwujudkan
dengan metode yang berbeda.
Ketika
di Barat, kehebatan selalu dibasiskan pada senjata keras, baju besi,
kuda dan akhirnya senjata api, tembak-menembak para koboi; di dunia
Timur, kisah masa lalu lebih berbasiskan upaya memantapkan diri pada
filosofi batin, melalui tapa meditasi, latihan gerak tubuh dan
jurus-jurus. Para pendekar mempelajari ilmu kebal, bukan dengan
memasang pelapis baja, tetapi ketahanan dari dalam.
Dalam
seribu satu legenda yang diceritakan, para pendekar itu pun dikisahkan
memiliki ilmu tenaga dalam yang mumpuni, bahkan dengan kemampuan
meringankan tubuh sedemikian rupa sehingga seperti bisa melayang dan
terbang. Itulah sebabnya mengapa dalam hikayat para pendekar kita,
kedalaman sebuah ilmu justru akan semakin mengambil bentuk yang halus
(subtil) dan tidak mencolok.
Seorang
pendekar pedang mumpuni yang turun gunung, di mata saya, bukanlah
sebuah figur sombong yang menggotong pedang besar ke mana-mana. Akan
tetapi adalah seorang jelata yang bahkan pedangnya pun demikian
tersamar seperti tidak penting. Sebab, semakin mumpuni seorang pendekar
pedang semakin tidak penting bentuk fisik pedang itu. Seperti seorang
ahli sufi, pendekar pedang sejati tentu sudah mencapai tingkat
kedalaman yang tinggi, sehingga dapat menggunakan apa saja sebagai
pedang, sepotong ranting sekali pun.
Demikianlah
dunia persilatan itu; sebuah dunia yang mengagumkan. Lalu sekarang ini,
ketika hikayatnya disuguhkan dengan sofistifikasi teknik perfilman yang
canggih, dunia persilatan yang kita saksikan menjadi semakin menarik.
Selain komik yang lebih tradisional, film-film layar lebar telah mampu
menampilkan dunia para pendekar ini dengan pesona yang sangat menawan,
lengkap dengan segala macam jurus dan ilmu yang bahkan melampaui batas
harapan si penggubah cerita yang asli.
Dengan sutradara
sekaliber Tsui Hark, Zhang Yimou dan beberapa lainnya, misalnya [bahkan
yang berbasis Korea], dunia persilatan tampil sangat ajaib dan menawan.
Di antaranya, yang paling artistik di mata saya adalah Hero-nya Jet Li, dari buah tangan sutradara Zhang Yimou.
Menonton film-film persilatan itu, bagi saya seakan dibawa pulang
kepada kenangan lama, tentang seorang pendekar pedang di sebuah rumah
kecil di kaki ngarai hijau yang sejuk, dengan pohon-pohon besar di
belakangnya.
Yang
pasti, kombinasi dunia persilatan dan perfilman telah mengangkat RRC ke
tingkat dunia melaui legenda para pendekar kungfu. Kita tentu sangat
berharap kiranya akan sampai juga kemampuan Indonesia mengangkat
karya-karya Jan Mintaraga dan lainnya ke layar lebar dengan kualitas
internasional yang setara, sebagai bentuk promosi karya anak bangsa. Betul, kisah komik persilatan sekali pun merupakan aset untuk mengangkat nama bangsa.
LA, 9/30 Juni 2008
(Kolom ini diunggah lebih awal di Kolom-kolom Agusti Anwar)
Untuk Share Artikel ini, Silakan Klik www.KabariNews.com/?31530
Mohon Memberi Nilai dan Komentar di bawah Artikel ini
_____________________________________________________
Supported by :
Lebih dari 1 juta rumah di Amerika
Klik www.InteroSF.com
Email : Info@InteroSF.com atau telpon 1-800 281 6175
| ||||||||||||
| ||||||||||||
| ||||||||||||
| ||||||||||||
|
| - The Ugly Duckling From Berkeley |
| Rating: 272 |
| - Utama: Daftar 100 Orang Paling Berpengaruh Di Dunia |
| Rating: 199 |
| - 22 KHASIAT BAWANG PUTIH |
| Rating: 177 |
| - RAYMOND DISUNTIK OBAT SAKIT JIWA SEBELUM USAHA DEPORTASI |
| Rating: 165 |
| - 10 Cerita Heboh Karena Facebook (Bagian II) |
| Rating: 132 |
| - K-Video: "Perempuan Berkalung Sorban" |
| Rating: 89 |
| - Eulogy untuk Gusdur oleh Romo Mutiara Andalas |
| Rating: 69 |
| - Hidupku Direngkuh Sahabat |
| Rating: 61 |
| - 14 Cara mengurangi Global Warming |
| Rating: 51 |
| - Seni: Seni Kreatif Membuat Layang-layang |
| Rating: 50 |