SENI
Patutkah Kesejahteraan Menggusur Hati Nurani?
Rate This Article:
0

Apa yang terpikirkan orang ketika bangkrut ? Menawarkan dan menjual modal? Atau meminjam uang dan kemudian melunasinya pelan-pelan.

Kebanyakan orang memilih menjual modalnya. Itulah juga yang jadi pilihan walikota Antigoneo, sebuah kota kecil diambang kebangkrutan. Hanya dengan membangun hotel, kasino serta lapangan golf diyakini mampu menyelamatkan kota itu. Warga kota menuntut kesejahteraan bagi mereka.

Kompleks pemakaman pun digusur. Tapi, satu kuburan tetap bertahan. Seorang perempuan muda mempertahankan dari keinginan petugas membongkar makam adiknya. Dilema. Jika lahan kuburan tidak dibebaskan seluruhnya, para investor mengancam untuk membatalkan suntikan dana.

Konflik penggusuran makam tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan dan menjadi obyek wisata yang dijual oleh pengelola perjalanan di kota itu. Para wisatawan bersemangat mengikuti tur kubur ke atas bukit karena penasaran dengan berita-berita yang mereka dengar dan baca di koran tentang seorang gadis yang mati-matian mempertahankan makam saudaranya agar tidak dibongkar.

Sayang mereka tidak bisa menemui gadis tersebut di taman pemakaman, padahal diantara wisatawan ada yang ikut tur karena ingin berfoto bersama si gadis. Klara, nama gadis itu, berpikir bahwa pendiriannya untuk mempertahankan kuburan adiknya Andrew akan mendapat perlindungan dari sang paman yang saat itu menjabat sebagai Walikota. Sebagai keponakan tersayang Walikota, Klara percaya sang paman selalu mendengarkan keluhannya.


Sementara di sisi lain Walikota seperti makan buah simalakama menghadapi ulah Klara. Walikota mendapat tekanan dari para investor untuk segera menggusur lahan pemakaman atau dana tidak dialirkan. Sedangkan untuk menggusur lahan pemakaman dia dihadapkan pada konflik bathin, haruskah menyingkirkan keponakan sendiri?

Beragam konflik terjadi di bukit itu, dari konflik secara fisik hingga pertentangan bathin karena beragam misi/kepentingan. Seorang anak yang ingin menunjukkan baktinya kepada orang tua datang untuk menguburkan kembali tulang belulang ibunya yang dikumpulkan dari tempat penampungan. Dia mati karena dadanya ditembus peluru dari pistol dua orang pembunuh bayaran yang ditugaskan untuk menghilangkan warga yang tidak menurut.

Di atas bukit itu pula, sang Walikota tertunduk sedih meresapi alunan Ave Maria yang diberikan oleh Klara sebagai musik pengantar kematiannya. Walau berhasil “menyingkirkan” Klara ke rumah sakit jiwa, nyawa Klara tak dapat ditolong. Kepalanya pecah membentur karang saat terjun bebas dari jendela rumah sakit jiwa tempat dia dititipkan untuk menjalani terapi.

Para investor angkat kaki. Bangunan hotel yang tidak pernah selesai dialihkan menjadi panti rehabilitasi bagi anak cacat. Krematorium yang tidak pernah dibangun dibatalkan pembangunannya, dan semua tulang belulang yang telah digali akan dikembalikan ke pemakaman yang lahannya tidak jadi digunakan sebagai lapangan golf.


Itulah produksi Teater Koma ke 124 pada awal sampai pertengahan Oktober lalu pentas di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Teater ini menyuguhkan naskah yang disadur dari Antigoneo karya Evald Flisar. Kejujuran pada nurani masih saja menjadi tema yang merasa perlu diangkat oleh teater legendaris ini. Kesannya masih sama. Kuat, berpihak pada kepapaan dan menyuguhkan hal yang menyentuh nurani.
Tak seperti lakon-lakonnya terdahulu, Teater koma kali ini berskala “menengah”. Yaitu hanya melibatkan 17 pemain, tidak seperti biasanya 30-40 pemain. Kali ini pentasnya pun relatif lebih singkat karena hanya 10 hari. Tidak seperti lakon Sie Jin Kwie, Kena Fitnah yang pentas 20 hari atau Sandiwara Para Binatang yang pentas 23 hari.

Waktunya juga tidak telalu lama, yaitu 2 jam 45 menit tanpa istirahat. Bandingkan dengan Sie Jin Kwie yang waktunya sampai 5 jam. Sutradara kali ini bukanlah Nano Riantiarno, pemimpin teater Koma. Namun, Rangga Satrya Buana Riantiarno – anak Nanolah yang menyutradarainya. Nano sendiri menjadi salah satu pemain pada lakon ini.

(Indah)

Untuk share artikel ini, Klik www.KabariNews.com/?37531

Untuk melihat artikel Seni lainnya, Klik disini

Mohon beri nilai dan komentar di bawah artikel ini

______________________________________________________

Supported by :




 
 
 
Post A Comment
* Indicates required information
Comment Title:
* Comments:
Nickname:
* Validation:
0 comments for this article Reverse Comment Order
Google