SENI
K-Video: Jabang Tetuko, Seni Wayang Dengan Citra Rasa Hollywood
Rate This Article:
0
ABOUT THE AUTHOR

Bentuk kesenian dan budaya di Tanah Air memang sangat banyak. Di setiap daerah di seluruh pelosok nusantara ini sudah bisa dipastikan memiliki seni dan budaya masing-masing yang berbeda dengan daerah lainnya. Dan salah satunya adalah Kesenian Wayang.

Kesenian wayang sangat populer di kalangan masyarakat umum, terlebih lagi bagi masyarakat Jawa dan Bali. Bahkan kesenian inipun sudah mendapatkan perhatian khusus dari Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang membidangi pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan (UNESCO). Sehingga tidak sedikit warga asing yang sengaja datang ke Indonesia hanya untuk mendalami kesenian yang satu ini.

Kesenian wayang sendiri terbagi dari beberapa kategori, di antaranya adalah wayang orang dan wayang kulit. Dan alur cerita yang biasa dibawakan dalam setiap pagelaran biasanya diangkat dari kisah Mahabarata atau Ramayana.

Kembali Mengenalkan Wayang Di kalangan Anak Muda


Semakin berkurangnya minat masyarakat untuk melihat dan mempelajari kesenian wayang, khususnya di kalangan anak muda, membuat para pelaku seni wayang di Tanah Air khawatir dengan keberlangsungan kesenian tersebut di masa yang akan datang. Hal inilah yang menjadi inspirasi salah seorang sutradara muda, Mirwan Suwarso, untuk membuat suatu pagelaran Wayang Orang yang berbeda dari biasanya dan jauh dari kesan “Membosankan”.

“Saya dulu sering diajak sama orangtua untuk lihat wayang. Tapi sekarang anak-anak lebih suka dengan film kartun dan film-film luar negeri, termasuk anak saya, dan tidak tahu dengan kesenian daerah seperti wayang. Ini yang menjadi keresahan saya sampai akhirnya saya berfikir untuk membuat suatu pagelaran wayang yang bisa menarik minat orang banyak, bahkan khususnya anak-anak muda,” ujar Mirwan.

Dengan menggabungkan seni wayang orang, wayang kulit, ketoprak, orkestra dan teater modern serta unsur sinema, Mirwan menggarap pagelaran wayang dengan judul Jabang Tetuko dengan dibantu para pelaku kesenian wayang dan penata musik dan penata laga dari Hollywood.

Sebuah pertunjukan yang menceritakan tentang lahirnya Jabang Tetuko (nama kecil Gatotkaca) putra Bimasena dan Dewi Arimbi yang dalam riwayat hidupnya telah digariskan untuk menjadi seorang ksatria dewa dengan mengalahkan Raja Raksasa Kala Pracona.

Dimainkan oleh kelompok Wayang Orang Bharata yang biasa pentas di Gedung Kesenian Wayang Orang Bharata di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Mirwan selaku sutradara menyerahkan urusan musik pendukungnya kepada Deane Ogden, yakni seorang penata musik Hollywood yang sebelumnya tidak tahu-menahu tentang kesenian di Indonesia.

“Saya belum pernah tahu tentang kebudayaan Indonesia, sampai akhirnya saya dihubungi untuk membantu pagelaran ini. Saya kagum dengan kesenian di Indonesia karena sangat indah,” ucap Deane yang telah menggarap musik dalam film The Surrogates, The Way Home, Friday Night Lights, Tron dan The Hitlist.

Sementara itu untuk aksi laga dalam pertunjukan yang digelar di The Hall Senayan City, tanggal 27-28 Mei 2011 tersebut, Mirwan mengundang Benjamin Rowe, penata laga yang menggabungkan unsur beladiri wushu dalam tarian perang wayang orang.

“Ini merupakan kehormatan besar bagi saya karena telah menjadi bagian dari pagelaran yang baru pertama kalinya di dunia yang menggabungkan antara wayang orang, wayang kulit dan film,” tutur Rowe yang juga telah menggarap film Transporter 2, 2 Fast and 2 Furios, Transfomer 3, Bad Boys 2 dan Miami Vice.

Meski mengkolaborasikan banyak unsur modern, namun hal yang dilakukan Mirwan dan rekan-rekannya ini tidak mengganggu “pakem-pakem” dalam pementasan wayang. Hal tersebut disampaikan Ki Dalang Agus Sambowo yang dalam pagelaran tersebut menjadi Dalang Wayang Kulit.

“Tata lampu dan musiknya berkembang dari dulu. Lampunya yang dulu hanya menggunakan bara api terus berkembang jadi lampu petromak hingga sekarang lighting, ini adalah bentuk berkembangnya seni wayang. Jadi tidak mengganggu sama sekali dengan unsur tradisi dalam wayang,” ungkap Ki Sambowo.

Meski waktu pertunjukan hanya sekitar 55 menit, pagelaran yang didukung oleh Djarum Foundation tersebut terbukti berhasil menarik minat masyarakat, khususnya anak-anak muda untuk datang dan melihat langsung pertunjukan film, wayang orang, wayang kulit dan orkestra dalam satu panggung.

Dengan harga tiket mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 1,5 juta, penonton yang hadir selama masa pertunjukan dua hari tersebut mencapai sekitar 3000 orang. (Arip)


Untuk share artikel ini klik www.KabariNews.com/?36843

Untuk melihat artikel Seni lainnya, Klik disini

Mohon beri nilai dan komentar di bawah artikel ini

______________________________________________________

Supported by :


 
 
 
Post A Comment
* Indicates required information
Comment Title:
* Comments:
Nickname:
* Validation:
0 comments for this article Reverse Comment Order
Google