PROFIL
Profil: Pejabat Yang Jadi 'Bos Toprak'..
Rate This Article:
7
Credit - k
Slide Show

Namanya Luluk Sumiarso. Seperti orang Jawa kebanyakan, pria jebolan University of Pennsylvania USA jurusan Energy Management and Policy ini murah senyum dan berpembawaaan tenang. Dalam dirinya melekat dua identitas, sebagai birokrat dan seniman.

Sebagai birokrat, Luluk bukan pegawai sembarangan, dia pernah menduduki posisi-posisi penting. Seperti Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi, Sekretaris Jenderal Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi dan terakhir menjadi Komisaris PT. Pusri Palembang, sebuah perusahaan pupuk milik pemerintah.

Yang menarik, ditengah kesibukannya yang padat, Luluk Sumiarso tak penah lupa untuk berkesenian, terutama ketoprak. Ketoprak adalah sejenis pertunjukan tradisional yang berasal dan tubuh subur di tanah Jawa.

Sampai saat ini Luluk dengan Paguyuban Puspo Budoyo, yang dibina bersama beberapa sahabat dekat dan diketuai istrinya, Lies, telah mementaskan sedikitnya 33 pergelaran, terdiri atas 26 ketoprak, 4 ludruk, 2 wayang orang, dan sekali lenong.

Menurut Luluk, komitmennya pada seni budaya tradisional itu lahir dari keprihatinan, bahwa seni tradisi semakin kehilangan daya tarik. Menonton saja enggan, apalagi menjadi pemain atau membiayai pagelaran.

Mengajak Para Tokoh

Di tengah keprihatinan itu, pada tahun 2005, saat Luluk menjadi Sekjen Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, datanglah Aries Mukadi, mantan anggota grup Ketoprak Humor yang disutradarai alm. Timbul. Ia menyampaikan bahwa setelah ketoprak humor berhenti tayang di sebuah televisi swasta, kelompok itu tak punya penghasilan.

Luluk kemudian mau menolong tapi dengan caranya sendiri, yakni tetap menggunakan pendekatan humor tapi dengan mengajak para tokoh main ketoprak. Mereka yang pernah ikut antara lain Ketua Mahkamah Konstitusi, beberapa menteri dan mantan menteri, deputi gubernur BI, gubernur, dirjen, komisaris, dirut, serta para direksi Badan usaha Milik Negara (BUMN). Pernah pula dia mengajak rektor, guru besar, para eksekutif perusahaan swasta, kalangan media, bahkan ekspatriat untuk bermain ketoprak.

Sebetulnya persoalan pentingnya bukan pada keberhasilan Luluk mengajak para tokoh bermain ketoprak. Tetapi dengan apa yang tampaknya dilakukan dalam suasana pertemanan itu, sesungguhnya Luluk berhasil mengatasi beberapa tantangan, terutama menyangkut dana dan penonton.

Dengan mengajak dan melibatkan para tokoh ikut bermain dalam pertunjukannya, perusahaan atau kolega tokoh itu pun mau diajak mensponsori atau membiayai pergelaran, baik melalui dana corporate social responsibility (CSR) maupun dari kocek sendiri.

Lalu, kolega dan keluarga mereka juga ikut menonton. Dengan cara ini, selain penontonnya ada, tontonan yang semula dicitrakan untuk kalangan menengah ke bawah secara bertahap diubah menjadi tontonan menengah ke atas.

Cara ini terbukti ampuh. Kesenian tradisi seperti mendapatkan ruangnya kembali untuk hidup. Pun bagi para tokoh yang diajak Luluk, mereka bukan saja senang bisa ikut-ikutan ‘ngetop’ di panggung ketoprak, tetapi juga secara langsung maupun tidak membuat mereka menyadari pentingnya arti mencintai kesenian tradisi.

Mengapa memilih Ketoprak humor, Luluk sepertinya punya alasan sendiri. Tapi yang jelas bagi Luluk, “Ketoprak humor lebih pas dan sampai kepada penonton.” ujarnya.

Dengan mengusung humor, memang dialog lebih mengalir lancar, karena lebih banyak mengandalkan improvisasi pemain. Apalagi mereka notebene tokoh atau pejabat, banyak yang jarang mengikuti latihan secara intens mengingat kesibukan mereka. Maka dialog-dialog ‘tak terduga’ dari mulut mereka menjadi hiburan yang alami, dan ini ternyata disukai penonton.

Dari segi honor, para pemain ‘cabutan’ ini justru tak dibayar. Bahkan sempat muncul canda, ”Kalau seniman profesional setelah main dibayar, tapi kalau para tokoh setelah main malah membayar.” kata Luluk.

Luluk juga melihat, para tokoh yang biasanya tampak formal ternyata bisa lepas dan ‘mbanyol’ di panggung. Banyak pula dari mereka yang justru bangga dengan kostum kebesaran ketoprak atau wayang, lalu membuat foto dengan kostum tersebut untuk dipasang di kantor atau facebook.

Apa yang dilakukan Luluk Sumiarso, sungguh menjadi inspirasi bagi banyak orang. Bahwa berkesenian adalah bagian penting dalam kehidupan seseorang, tak peduli betapapun tinggi jabatannya. (yayat)

Untuk share artikel ini klik www.KabariNews.com/?33120

Untuk melihat Berita Indonesia / Profil lainnya, Klik disini

Klik disini untuk Forum Tanya Jawab

Mohon beri nilai dan komentar di bawah artikel ini

______________________________________________________

Supported by :

Photobucket

 
 
 
Post A Comment
* Indicates required information
Comment Title:
* Comments:
Nickname:
* Validation:
0 comments for this article Reverse Comment Order
Google