PROFIL
Pengusaha Ayam Bakar Bermodal Dengkul
Rate This Article:
3

Bisnis ayam bakar berkembang bak jamur di musim hujan. Pasalnya, usaha ini hanya membutuhkan modal kecil dan menghasilkan untung besar jika ditekuni.

Seperti halnya warung Ayam Bakar Mas Mono. Menunya memang sederhana dan terlihat sepele. Hanya ada ayam bakar legit sedikit pedas, nasi putih hangat, dua iris mentimun, daun kemangi, kol, dan sambal merah. Namun, dengan menu ini, Ayam Bakar Mas Mono mampu beranak pinak hingga memiliki 10 cabang, delapan diantaranya terdapat di Jakarta dan dua di Madiun, kampung kelahiran Mono.

Semula, Agus Pramono atau yang akrab disapa Mas Mono mengawali usahanya sebagai penjaja gorengan dari kampung ke kampung. Keuntungannya sangat kecil. Di benaknya hanya ada satu pemikiran untuk berjualan menu yang bisa diterima segala lapisan masyarakat. “Tercetuslah ide berjualan ayam bakar. Terlebih kebutuhan pada masa itu semakin meningkat, tidak ada motivasi macam-macam selain desakan ekonomi yang semakin tinggi.”ujar Mono. Dibantu istrinya, Mono lantas membuka warung ayam bakar kalasan di depan Universitas Sahid Jakarta pada tahun 2000. Kala itu, modalnya hanya Rp 500.000 yang digunakan untuk membeli 5 ekor ayam, bumbu lalapan, dan beberapa peralatan memasak. Waktu itu ia menjual sepotong ayam bakar plus nasi putih dan sambel lalapan dengan harga Rp 5000. “Saya pengusaha yang tidak punya utang jadi hanya dengan modal dengkul dan duit 500 ribu, saya mulai dengan berjualan ayam bakar.” katanya menekankan.

“Dulu, di depan Universitas Sahid, pelanggan saya cukup banyak, sehingga saya senang berjualan disana. Tapi kemudian tempat itu digusur dan saya terpaksa pindah. Ketika itu saya dapat tempat di daerah Tebet, di tempat itu usaha saya semakin berkembang dan mulai ada rencana membuka cabang. Padahal saat masih di depan Universitas Sahid, enggak kepikiran sama sekali mau buka cabang. Jadi ini saya anggap anugerah dari Tuhan yang harus saya syukuri”. papar Mono

Seiring bertambahnya pelanggan, Mono pun mulai merekrut karyawan. Dalam mengelola warung dia menerapkan standar restoran papan atas, seperti karyawan tidak boleh berkuku panjang, berambut gondrong, dan tidak berkumis serta berjenggot. “Ini berdasarkan pengalaman saya saat bekerja menjadi karyawan mulai dari tukang cuci hingga manajer restoran fast food,” tambahnya.

Mengandalkan racikan bumbu sang istri yang hobi memasak, kini Mono mampu mendongkrak penjualan ayam bakarnya dari 5 ekor ayam menjadi 200 ekor ayam per hari dalam satu outlet. “Sekarang, di Tebet Timur saja, sehari bisa menghabiskan 200 ekor,” ujarnya pada Kabari. Kini Ayam Bakar Mas Mono menghabiskan lebih dari 1.000 ekor ayam dengan berat rata-rata 800 gram per ekor. Untuk seporsi ayam bakar ditambah segelas minuman, Ayam Bakar Mas Mono mematok harga berkisar Rp 12.500 – Rp 15.000.

Mono mengatakan ketika orang ramai membicarakan flu burung, omzetnya sempat turun hingga 50 persen. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Perlahan orang mulai mengerti dan berani makan ayam. “Awalnya memang omzet turun hingga 50 persen, tapi warung kembali ramai lagi, meski begitu saya tetap bersyukur masih bisa berjualan hingga sekarang.” katanya lagi.

Selain pelayanan yang cepat, untuk memikat pembeli, Ayam Bakar Mas Mono memajang sederet potret artis terkenal yang pernah bersantap di warungnya. Mas Mono memiliki trik tersendiri untuk membakar ayam dan menghasilkan rasa yang khas. Yakni, ayamnya tidak dibakar sampai kehitaman dan kering agar tidak terlihat legam. Selain itu, cara ini juga untuk menghindarkan rasa pahit yang biasanya menyertai ayam bakar. Mono mengaku, sebelum dibakar, daging ayam sebelumnya direbus (diungkep) dengan mencampurkan air dan bumbu. Agar dagingnya empuk dan bumbu meresap, pengungkepan dilakukan selama satu jam lebih dengan suhu 100 derajat celsius. “Karena itu tidak usah khawatir, kami bebas flu burung.” ujarnya.

Disela-sela padatnya pengunjung yang datang untuk makan, ada sapaan khas yang dilontarkan pelayan Ayam Bakar Mas Mono, yaitu “Mono Silakan” plesetan dari campuran bahasa Indonesia dan Jawa “Monggo Silahkan” yang berarti mempersilahkan.
Selain menu ayam bakar, tersedia juga tahu, dan tempe bacem yang dibanderol Rp 2000 per buah. Tidak hanya itu Ayam bakar Mas Mono juga menerima pemesanan nasi box dan tumpeng.

Sukses dalam usahanya tidak membuat Bapak satu putri ini menjadi puas, bahkan ia merasa patut membagi pengalamannya dan menularkan kesuksesannya itu kepada pengusaha-pengusaha kecil lainnya. Mono berbagi pengalaman usahanya sampai ke pelosok-pelosok bersama dengan HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia).

Nama : Agus Pramono
Tempat Tanggal Lahir : Madiun, 28 Agustus 1974
Istri : Nunung
Anak : Novita Anung Pramono
Alamat : Jl. Tebet Raya No 57 Telp 021 8350847
Pekerjaan : Pemilik gerai makanan “Ayam Bakar Mas Mono”

Untuk Share Artikel ini, Silakan Klik www.KabariNews.com/?32153

Mohon Beri Nilai dan Komentar di bawah Artikel ini

______________________________________________________

Supported by :

Photobucket

 
 
 
Post A Comment
* Indicates required information
Comment Title:
* Comments:
Nickname:
* Validation:
3 comments for this article Reverse Comment Order
Added: May 20, 2011. 11:35 AM GMT
ayam potong
saya pgn drop ayam potong ade link ga pa mono?
bahru
Alert a moderator
Added: March 04, 2009. 01:01 PM GMT
thanks..!! artikel bapak membantu kami yang baru saja mau berwirausaha
fida
Alert a moderator
Added: February 28, 2009. 12:57 AM GMT
sukses
trims, jangan lupa terus bagi ilmu nya pak.......
pik
Alert a moderator
Reverse Comment Order
Google