PROFIL
(K-Video)"Perias Jenazah"
Rate This Article:
0

Memiliki pekerjaan yang formal biasanya menjadi impian semua orang, apalagi pekerjaan tersebut sesuai dengan pendidikan kita. Namun di zaman yang serba sulit ini, semua jenis pekerjaan pun dilakoni demi memenuhi kebutuhan hidup.
Pernahkah terbayangkan oleh kita pekerjaan yang berurusan dengan mayat, hm… mendengarnya saja sudah merinding, apalagi menjalaninya. Tapi tidak bagi Avelina, karyawan bagian pemulasaran jenazah di RS. St. Carolus Jakarta. Empat tahun lamanya gadis asal Flores ini sehari-hari berkutat dengan mayat. Maklum, pekerjaannnya adalah sebagai perias jenazah.

Profesi ini memang tidak umum, kalau perias kecantikan di salon-salon berhubungan dengan orang-orang masih hidup, kalau perias jenazah, hubungannnya tentu dengan mayat.

Berkerja sebagai perias jenazah ternyata tidak gampang, selain harus sanggup dan berani berhadapan dengan mayat, perias juga harus belajar melalui kursus singkat di RS. Biasanya kursus jenis ini tak dilakukan secara terbuka, tetapi diberikan kepada mereka yang memang sudah diterima bekerja saja. Sehari-hari Avelina bersama teman-temannya mengurus sekitar lima hingga sepuluh jenazah di RS tersebut.

Avelina mengakui memang ada rasa takut saat pertama kali melakukan pekerjaan itu, apalagi tak pernah terbayang sebelumnya jika ia harus mendandani jenazah. Namun, seiring waktu ia kini sudah terbiasa.

Tanggung jawab Avelina dalam pekerjaan ini adalah mengawetkan, memandikan dan merias jenazah. Jenazah yang baru datang pertama-tama dimasukkan ke ruangan transit jenazah untuk diawetkan dengan cara disuntikan zat formalin. Selanjutnya jenazah dimandikan hingga bersih dan diberi wangi-wangian, setelah itu dirias. Jenazah pria biasanya memakai stelan jas lengkap. Sementara jenazah wanita memakai gaun. Bukan hanya itu saja, jenazah juga diberi make up agar terlihat cantik dan tampan saat menghadap Tuhan. Demikian ungkap Avelina.

Avelina juga mengaku pekerjaan ini justru semakin membuatnya merasa dekat dengan Tuhan. “Saya selalu dingatkan oleh kematian, semua orang di dunia ini kan mengalami yang namanya mati dan bertemu dengan Tuhan-nya. Nah, menghadapi kematian itu, apa kita sudah membawa bekal yang cukup?” katanya pelan.

Ia juga bercerita kesulitannya saat merias jenazah korban kecelakaan. Karena umumnya jenazah dalam keadaan hancur atau rusak, Avelina harus bisa ‘mendadaninya’ agar jenazah tidak terlalu terlihat rusak. “Jika kondisinya parah, saya hanya bisa menutupi dengan perban agar terlihat rapih” ucap Avelina.

Dalam bekerja Avelina selalu berusaha bertanggung jawab menjalaninya. Ia bahkan mengatakan, meski sudah tak bernyawa, jenazah patut dihormati, jangan sembarangan memperlakukannya. Alhasil ia selalu berhati-hati saat sedang mendandani jenzah. Pernah satu kali ia mengalami hal aneh, “Saya pernah merasa diikuti “roh” salah satu jenazah yang saya urus, bukan dikuti oleh bayang-bayang atau sosok semacam hantu-hantuan di televisi, melainkan dikuti oleh bau wangi-wangian yang khas, kemanapun saya pergi, bau itu seolah menempel di tubuh saya dan tak mau hilang.” katanya.

Avelina kemudian merenung dan mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Ia ingat beberapa hari sebelumnya ketika sedang memandikan salah satu jenazah, ia dan temannya sembari ngobrol dan tertawa. “Mungkin jenazah tak suka itu, meski saya bukan sedang menertawakan ‘dia’.” jelasnya. Akhirnya ia berdoa dan meminta maaf atas tindakannya itu. “Tak lama kemudian wangi-wangian tu hilang sendiri.” ujarnya lagi. Kejadian itu adalah pelajaran berharga baginya, Ia mengatakan “Semenjak itu saya saya harus benar-benar menghormati jenazah sebagaimana layaknya.”

Sisi lainnya pekerjaan ini, Avelina mengaku senang dapat berkenalan dengan keluarganya jenazah. Umumnya keluarga jenazah memperlakukan Avelina dengan baik, mereka bahkan kadang menumpahkan kesedihannya pada Avelina dan kawan-kawan. Mereka juga kerap menitipkan kepercayaan kepada Avelina supaya mengurus jenazah keluarga mereka dengan baik. Tentu saja Avelina senang mendapat kepercayaan itu dan berusaha menjalaninya sebaik mungkin.
Avelina sangat menyenangi pekerjaanya, materi bukanlah hal yang utama bagi dirinya. “Saya bekerja sebagai perias jenazah agar dapat lebih dekat dengan Tuhan dan dapat membantu sesama, melihat keluarga almarhum senang saja, merupakan kebahagiaan tersendiri bagi saya.” ujar Avelina menutup obrolan.

Lihat video wawancaranya di sini

Untuk Share Artikel ini, Silakan Klik www.KabariNews.com/?32133

Mohon Beri Nilai dan Komentar di bawah Artikel ini

______________________________________________________

Supported by :

MedicIns

 
 
 
Post A Comment
* Indicates required information
Comment Title:
* Comments:
Nickname:
* Validation:
1 comments for this article Reverse Comment Order
Added: December 11, 2011. 01:30 PM GMT
luar biasa pejuang keluarga
yy
Alert a moderator
Reverse Comment Order
Google