kabari flag 2
 
 
 Web  Majalah Kabari 
 
Chand Parwez Servia : Bangga Menjadi Anak Kampung
Rate This Article:
2
Chand Parwez Servia
Slide Show
ABOUT THE AUTHOR

Ia bukan berangkat dari keluarga berkecukupan. Lahir di Tasikmalaya, masa kecilnya dihabiskan sebagaimana anak kampung lainnnya. Main layangan, menangkap belut, main bola, main kelereng, mengaji di Musholla kampung atau sekedar berlarian di sawah. Tapi itulah yang membuatnya bangga. Baginya, justru dari sanalah ia banyak belajar mengenai nilai-nilai kearifan. Pengalaman bersahaja masa kecil itu kemudian ia sebut sebagai karunia dari Allah SWT.

Berbincang dengan Chand Parwez Servia, bos Starvision Plus, sebuah production house di Jakarta, seolah kita diajak ke masa kecilnya yang indah dan sederhana. Ia juga mengaku gila nonton film, apalagi sejak kakaknya membuka bisnis bioskop di Tasikmalaya, hampir saban hari ia menonton film di bioskop kakaknya itu. “Saya sampai hafal dialog-dialognya, dan saya belajar bahasa Hindi justru dari film-film India yang saya tonton.” katanya mengenang.

Lahir dari keluarga muslim yang taat, Parwez kecil justru termasuk anak yang nakal. Namun dari semua saudaranya, Parwez terbilang memiliki otak paling encer. Ia cepat menerima pelajaran dan selalu juara kelas sejak kelas empat SD. Menginjak bangku SMA, kegilaannya pada film membuatnya ‘tercebur’ semakin jauh. Kelas dua SMA dia sudah memegang lima bioskop sekaligus. Dan karena dasar berotak cerdas, meski sibuk mengurusi bioskop ia masih sanggup menyeleasikan kuliahnya di IPB serta menyabet gelar Insinyur. Bahkan pada tahun 1981 ia sempat menjadi asisten Dosen di IPB dan menjadi salah satu pendiri Fakultas Pertanian Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon, pada tahun 1983. “Tapi panggilan jiwa saya memang di film, kemanapun saya melangkah, perfilman selalu menyeret saya kembali.” katanya berbinar. Selama kurun waktu 1980-an, bioskop Bandung Theatre miliknya menyabet tiga kali penghargaan Malidar Hadiyuwono sebagai bioskop yang paling sering memutar film Indoensia di ajang Festival Film Indonesia (FFI).

Pertengahan tahun 1985 ia mendirikan PT. Kharisma Jabar Film di Bandung. Dan dari Kharisma Jabar Film inilah lahir film fenomenal di masa itu, Si Kabayan Saba Kota yang diperankan Didi Petet. Film ini berhasil menyabet penghargaan film komedi terbaik FFI 1989. Selanjutanya ia juga memproduksi Kabayan Mencari Jodoh yang terkenal dengan tokoh Glenn Kemon-nya.

Sebelumnya, tahun 1987 ia menggagas ajang Festival Film Bandung (FFB). Meski waktu itu, Menteri Penerangan Harmoko menetapkan FFI sebagai satu-satunya festival film yang ‘sah’ dan ‘diakui’ pemerintah, FFB jalan terus dan sekarang malah menjadi festival film ‘independen’ yang lumayan kondang.

Sukses film Si Kabayan Saba Kota semakin meyakinkan dirinya bahwa bisnis perfilman merupakan panggilan jiwanya. Sayang, ketika sedang semangat-semangatnya, industri film saat itu kemudian malah terpuruk digantikan dengan booming televisi swasta dan sinetron. Tapi Parwez tak pernah putus asa, ia menjawab tantangan bisnis itu dengan mendirikan PT. Kharisma Starvison Plus. “Saya menyadari betul pada masa itu, perfilman kita lagi mati suri dan bisnis pertelevisians sedang bangkit, maka dibukalah PT. Kharisma Starvison Plus di Jakarta pada tahun 1995.” ujar pria yang senang joging dan berenang ini.
Starvison Plus kemudian memproduksi puluhan judul sinetron di televisi termasuk reality show “Spontan” yang cukup ngetop. “Dalam hidup, kita selalu diminta saling mengingatkan dalam kebaikan, Nah karena saya hidup di industri film, saya selalu berusaha menyampaikan pesan moral lewat tayangan-tayangan yang dibuat Starvision.” ujarnya lagi. Disela obrolan hangat, sekali lagi Parwez mensyukuri kehidupan masa kecilnya yang yang bersahaja dan dekat dengan orang-orang kampung.
Di Starvision, Parwez pun memimpin dengan bersahaja. Ia dikenal dengan dekat karyawannya dan tak mau terlalu mencampuri proses kreatif sebuah produksi. “Memang pemilihan naskah, sutradara dan bintang-bintang utama harus melalui pertimbangan saya sebagai produser, namun ketika sudah sampai proses produksi saya serahkan semuanya kepada sutradara dan tim kreatif, saya hanya mensupervisi saja dari belakang.” lanjutnya.
Memang dasarnya orang film, tangan Parwez mulai gatal memproduksi film lagi. Saat muncul momentum kebangkitan film nasional era 2000-an, ia segera melempar film “Reinkarnasi” kemudian “Kafir (Satanic)” yang mendapat apresiasi cukup tinggi dari penonton, lalu “Soul” dan “Virgin”. Film “Virgin” sendiri adalah film Indonesia pertama yang diputar di bioskop-bioskop India pada tahun 2006.
Energinya sebagai produser, pemimpin perusahaan, dan ayah dari dua orang anak, seolah tak pernah habis. Ia terus mencetak film-film hits, seperti “Heart” dan “Get Married” yang dimainkan artis berbakat Nirina Zubir. “Get Merried” bahkan menyabet dua piala FFI sekaligus pada tahun 2007.
Film-film lainnya adalah, “17th”, “Bangku Kosong”, “Me Vs High Heels”, “Lantai 13”, “Peti Mati”, “Missing”, “Love is Cinta” dan masih banyak lagi.
Ketika ditanya bagaimana ia bisa demikian produktif, Parwez menjawab “Saya amat mencintai pekerjaan ini, rasa cinta pekerjaanlah yang membuat saya bisa terus berkarya dan berkarya.”
Tahun 2008 Starvision berencana melempar 7 film, lima film sudah beredar yakni, “Extra Large”, “Tarix Jabrix”, “Mengaku Rasul”, “Basahhh”, dan “Barbie3” yang baru launching akhir September kemarin. “Bulan depan kami akan meluncurkan film berjudul “Si Jago Merah” dilanjutkan dengan “Wanita yang berkalung Sorban” pada akhir tahun.” paparnya. Starvision juga mematok target 7 film pada tahun 2009.
Ketika ia diminta menggambarkan dirinya dalam sebuah kalimat, Parwez menjawab “Saya adalah orang yang masih ingin terus belajar.”
Sosok Parwez bukanlah sosok ‘main-main’ dalam industri film Indonesia, meski kiprahnya selama hampir dua puluh lima tahun nyaris tenggelam dibanding kemegahan nama-nama artis yang justru ia bayar, Parwez jelas-jelas memberi kontribusi yang tak sedikit bagi industri perfilman Indonesia.(yayat)

Nama : Chand Parwez Servia
Tempat, Tgl. Lahir : Tasikmalaya, 18 Februari 1959
Pendidikan : S1 Pertanian di Institut Pertanian Bogor
Organisasi :
1983-sekarang : Anggota Dewan Pembina Gabungan Perusahaan Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI Pusat)
1984 : Pendiri Fakultas Pertanian Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon
1985-sekarang : Ketua I Dewan Pengurus Daerah Jawa Barat Gabungan Perusahaan Bioskop Seluruh Indonesia (DPD GPBSI Jawa Barat)
1987-sekarang : Pendiri, Ketua Pertama, dan terakhir Ketua Dewan Pembina Forum Film Bandung sebagai Penyelenggara Festival Film Bandung
2004-2007 : Ketua Umum PPFI (Persatuan Perusahaan Film Indonesia)
2007-2010 ; Ketua yang Membidangi Peredaran Film & TV Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI)
Pekerjaan :
1. Direktur Utama PT KHARISMA STARVISION PLUS
2. Direktur Utama PT KHARISMA JABAR FILM

Untuk Share Artikel ini, Silakan Klik www.KabariNews.com/?32011

Klik Disini untuk Baca Artikel ini di Majalah Kabari Oktober 2008 ( E-Magazine )

Mohon Beri Nilai dan Komentar di bawah Artikel ini

_____________________________________________________

Supported by :

Photobucket

Post A Comment
* Indicates required information
Comment Title:
* Comments:
Nickname:
* Validation:
Comments 0 comments for this article
Google