NUSANTARA
Nusantara: Elegi Kampung Batik Laweyan
Rate This Article:
0

Kampung Laweyan adalah sentra batik yang terkenal di Kota Solo. Mayoritas penduduk di kampung ini bekerja sebagai pengrajin batik. Batik-batik itu dipajang langsung di depan rumah mereka yang disulap menjadi ruang pamer atau butik. Ada yang terlihat mewah ada pula yang sederhana. Tapi nuansa kuno tetap dipertahankan.

Kampung Laweyan sebelah utara kebanyakan membentuk “jalan mati”, di mana jalan ini terkesan sepi karena berada di antara tembok-tembok rumah yang saling membelakangi. Sedangkan di daerah selatan dekat Kali Kabangan, rumahnya cenderung terbuka dan membentuk “jalan hidup” di mana pintu-pintu bagian depan rumah saling berhadap-hadapan sehingga memungkinkan interaksi.

Berjalan di kampung Laweyan seperti menyusuri masa lalu. Tembok bangunan dan gang-gang sempit dipercaya masih seperti dulu. Belum banyak berubah. Bahkan di kawasan utama kampung Laweyan dimana banyak terdapat rumah butik, suasananya sedikit mirip seperti nuansa KotaGede di Yogyakarta atau kawasan di belakang museum Fatahillah, Jakarta. Begitu tua dan anggun.

Cerita Batik dan Mbok Mase

Kampung Laweyan sudah ada sejak 1500 sebelum masehi. Dan sejak kerajaan Pajang, Laweyan yang berasal dari kata Lawe (bahan sandang) telah menjadi pusat perdagangan bahan sandang seperti kapas dan aneka kain. Laweyan semakin pesat ketika Kyai Ageng Anis (keturunan Brawijaya V) dan cucunya yaitu Raden Ngabehi Lor Ing Pasar yang kelak menjadi raja pertama Mataram bermukim di Laweyan tahun 1546 M. Kyai Ageng Anislah yang kemudian mengajarkan cara membuat batik kepada masyarakat Laweyan.

Lama kelamaan Laweyan berkembang menjadi pusat industri batik sejak jaman kerajaan Mataram. Dulu para saudagar batik yang tinggal di Laweyan membangun rumah besar-besar dengan tembok menjulang. Konon para juragan batik juga membangun lorong atau jalan rahasia di dalam rumah mereka menuju rumah juragan batik lainnya di Laweyan. Kabarnya ketika itu mereka bersikap oposan alias berseberangan dengan pihak keraton. Sehingga lewat jalan-jalan rahasia mereka bisa leluasa melakukan pertemuan-pertemuan dengan sesama saudagar batik untuk membahas kondisi sosial politik saat itu.

Ada satu cerita menarik menjelang runtuhnya Keraton Kartasura Hadiningrat pada periode 1740-1750. Kala itu laskar etnis Tionghoa mengobrak-abrik keraton karena marah akan inkonsistensi Pakubowono II dalam melawan Belanda. Pakubowono II melarikan diri ke sebuah goa di tepi Sungai Laweyan, Solo. Beliau meminta bantuan pinjaman puluhan kuda dari para saudagar batik Laweyan. Tetapi, permintaan itu ditolak mentah-mentah. Kenapa?

Menurut peneliti sejarah dari Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Surakarta Soedarmono, meski patriakis sebenarnya penguasa kampung Laweyan adalah kaum perempuan atau yang disebut Mbok Mase. Kelompok Mbok Mase ini anti gaya hidup priyayi yang suka foya-foya, gila hormat dan juga berpoligami.

Gaya hidup keluarga Mbok Mase bertolak belakang dengan kehidupan priyayi ketika itu. Jika kaum priyayi mendapatkan kehidupan enak karena garis keturunan, Mbok Mase sebaliknya. Mereka terbiasa keras sejak kecil untuk mendapatkan hasil. Sehingga Mbok Mase amat menghargai uang. Tapi yang unik, untuk menyaingi kaum priyayi yang mereka benci itu, para Mbok Mase juga membangun rumah-rumah besar mirip keraton.

Dalam tesis yang ditulisnya, Soedarmono menyebutkan Mbok Mase adalah pemegang kuasa atas jalannya perdagangan batik Laweyan. Mengapa demikian? Karena pekerjaan membatik butuh ketelitian dan kesabaran tinggi, dan hanya kaum perempuan yang dianggap mampu melakukannya. Sang suami hanya memegang peranan 25 persen dengan sebutan Mas Nganten. Seorang Mas Nganten boleh melakukan apa saja yang diinginkannya asal tidak poligami, foya-foya, dan tidak menyakiti hati Mbok Mase.

Secara psikologis boleh dibilang usaha batik menjadi cara bagi Mbok Mase agar terhindar dari penindasan kaum lelaki. Dengan menguasai usaha batik, Mbok Mase memiliki bargaining kuat ketika berhadapan dengan lelaki.

Laweyan Redup

Pada awal abad ke 20, industri batik tulis bergeser menjadi batik cap. Pergeseran ini membuat banyak tenaga kerja lelaki masuk ke industri ini sebagai tukang cap.
Laporan De Kat Angelino tahun 1930 menunjukkan, sebuah perusahaan batik besar di Laweyan bisa memproduksi 60.400 potong batik per tahun. Dan dalam satu tahun, penghasilan bersih juragan batik Laweyan bisa mencapai 60.400 gulden!

Hingga tahun 70-an, masih banyak Mbok Mase-Mbok Mase di Laweyan. Perdagangan batik ketika juga masih semarak. Tapi keadaan berubah begitu masuk dekade 70-an dimana rezim Soeharto menggalakkan industri batik printing yang biayanya jauh lebih murah dan efisien. Sontak batik Laweyan redup pamornya. Banyak pabrik batik tutup. Satu persatu Mbok Mase-Mbok Mase pun tumbang menyisakan saksi kejayaan berupa rumah-rumah besar bertembok menjulang. Keturunan keluarga Laweyan yang sampai sekarang masih bertahan adalah Danar Hadi dengan nama produk batiknya yang juga bermerk “Danar Hadi”.

Lebih dari 30 tahun Batik Laweyan bagai hidup segan mati tak mau. Lalu pada tahun 2004 pemuda bernama Alpha Febela Priyatmono yang menikah dengan seorang wanita dari keturunan pembatik Laweyan, menulis sebuah tesis untuk program S-2 Arsitektur UGM tentang kampung Laweyan. Usai menulis tesis, Alpha semakin jatuh cinta dengan kampung Laweyan. Ia lalu berupaya menghidupkan kembali gairah kampung Laweyan seperti jaman kejayaannya dulu. Bersama warga Laweyan Alpha membentuk lembaga kepeloporan bernama Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL) pada September 2004.

Usahanya ternyata disambut baik, ekonomi di kampung batik Laweyan mulai bergeliat kembali. Kini jumlah pengusaha batik Laweyan meningkat pesat menjadi 56 pengusaha padahal pada tahun 2004 jumlahnya hanya 22 pengusaha.

Selain sisi ekonomi, Laweyan juga tengah berbenah menjadi kawasan heritage dan menjadi daerah wisata andalan kota Solo.(yayat)

Untuk share artikel ini, Klik www.KabariNews.com/?32976

Untuk melihat Berita Indonesia / Nusantara lainnya, Klik disini

Klik disini untuk Forum Tanya Jawab

Mohon beri nilai dan komentar di bawah artikel ini

________________________________________________________

Supported by :

April Insurance Agency

 
 
 
Post A Comment
* Indicates required information
Comment Title:
* Comments:
Nickname:
* Validation:
0 comments for this article Reverse Comment Order
Google