| Rate This Article: | ||
|
*Oleh Ulil Abshar Abdalla
Kisah ini terjadi jauh di negeri lain di tahun 50-an. Tokoh utamanya adalah
sembilan murid berkulit hitam, Presiden Dwight D. Eisenhower dari Amerika
Serikat, dan Gubernur negara bagian Arkansas Orval Faubus. Lokasinya, sebuah
sekolah menengah Little Rock High School di Little Rock, ibukota negara bagian
Arkansas. Kisah ini patut menjadi teladan untuk negeri kita, terutama untuk
para pemangku kebijakan.
Inilah kisah selengkapnya
Sejarah perbudakan di AS berlangsung sejak lama, jauh sebelum negeri itu berdiri
pada 1776. Sebelum abad ke-16, lembaga perbudakan ada hampir di seluruh pelosok
dunia, termasuk di dunia Islam. Baru pada pertengahan abad ke-16, muncul
suara-suara protes dari kalangan gereja yang menyerukan penghapusan perbudakan.
Salah satu sekte Kristen yang terkenal dengan semangat anti-perbudakan adalah
Quaker. Bagi mereka, perbudakan adalah praktik yang un-Christian, tidak
Kristiani.
Pada tahun 1865, perbudakan dihapuskan secara resmi di AS melalui amandemen
ke-13, persis setelah perang sipil yang berlangsung selama lima tahun
(1861-1865). Meski demikian, praktik diskriminasi terhadap mantan budak masih
terus berlangsung, terutama di bagian Selatan. Praktik segregasi itu bahkan
disahkan melalui doktrin hukum yang terkenal saat itu: equal but separate.
Inti doktrin itu, orang-orang kulit hitam (belakangan lebih dikenal dengan
sebutan African-American) dianggap sebagai warga negara yang sama dengan warga
lain, tetapi mereka tak diperbolehkan berbaur dengan warga lain itu, terutama
yang berkulit putih. Penganut doktrin ini beranggapan bahwa praktek 'equal
but separate' tak berlawanan dengan amandemen ke-13.
Dengan doktrin ini, orang-orang hitam tak boleh bersekolah di tempat yang sama
dengan orang-orang kulit putih, dilarang masuk ke tempat-tempat umum dimana
orang kulit putih ada di sana: restoran, pub, bar, bahkan toilet. Orang kulit
hitam memang dianggap sebagai warga negara yang sah dan sama kedudukannya
dengan warga lain, tetapi mereka seperti 'dikarantina' di tempat yang terpisah.
Praktik segregasi, terutama di sekolah itu, baru dinyatakan ilegal oleh
Mahkamah Agung (Supreme Court) AS pada 1954 melalui suatu keputusan
yang dikenal dengan Brown v. Board of Education. Keputusan mahkamah ini
menyatakan bahwa seluruh praktik segregasi di sekolah-sekolah AS tidak sah dan
berlawanan dengan konstitusi. Seluruh sekolah diharuskan untuk mengintegrasikan
murid-murid berkulit hitam dengan murid-murid kulit putih. De-segregasi juga
diharuskan di tempat-tempat publik yang lain.
Semua sekolah, tentu dengan enggan, menaati aturan ini. Tetapi ada
perkecualian yang kemudian pecah sebagai insiden yang menghebohkan seluruh
Amerika pada tahun 1957. Insiden itu terjadi di sebuah sekolah menengah di kota
Little Rock, yakni Little Rock High School.
Menindaklanjuti keputusan mahkamah itu, NAACP (National Association for the
Advancement of Colored People), sebuah LSM yang berjuang untuk membela hak-hak
sipil warga kulit hitam, berencana untuk mendaftarkan sembilan murid hitam di
Sekolah Little Rock yang, sudah tentu, seluruh muridnya berkulit putih. Kepala
sekolah setuju. Rencananya, kesembilan murid itu akan mulai masuk pada musim
gugur 1957, persisnya pada 4 September 1957.
Rencana ini diprotes oleh kelompok kulit putih yang pro segregasi. Mereka
ramai-ramai mendatangi sekolah itu dan menghalang-halangi kesembilan murid
tersebut untuk masuk gerbang sekolah. Yang lebih dramatis, Gubernur negara
bagian Arkansas Orval Faubus mendukung kaum segregasionis itu, dan, tak
main-main, mengirimkan pasukan Garda Nasional dari Arkansas untuk membantu kaum
kulit putih mencegah sembilan murid hitam memasuki halaman sekolah.
Sembilan murid hitam itu akhirnya gagal masuk sekolah. Mereka, murid yang masih
ingusan itu, dicegat oleh barisan tentara Garda Nasional. Mereka juga menjadi
sasaran cemoohan dan pelecehan massa kulit putih yang meneriakkan
yel-yel, “Two, four, six, eight... We ain’t gonna integrate!” Mereka
mengejar dan memukuli para wartawan yang meliput peristiwa itu.
Peristiwa ini langsung menjadi isu nasional yang menyedot perhatian seluruh
warga Amerika
Melihat tindakan gubernur Arkansas yang nyata-nyata melawan keputusan Mahkamah
Agung ini, Presiden Dwight D. Eisenhower langsung turun tangan. Dia meminta
Gubernur Faubus menemuinya secara pribadi, dan memerintahkan agar dia tak
membangkang dari keputusan Mahkamah. Gubernur Faubus rupanya tak menggubris.
Terjadilah ketegangan antara pemerintah federal dan negara bagian.
Presiden Eisenhower akhirnya mengambil alih masalah 'kecil' kota Little Rock
ini. Dia mengirim pasukan Divisi Airborne 101 dari Angkatan Darat AS ke
Arkansas untuk melindungi sembilan murid kulit hitam itu. Tindakan Presiden
Eisenhower membuahkan hasil. Pada 23 September 1957, untuk kali pertama,
sembilan murid itu berhasil masuk sekolah dengan dikawal oleh 1.200 pasukan AD
Amerika.
Presiden Eisenhower juga mengambil tindakan drastis lain--memfederalisasi
pasukan Garda Nasional Arkansas dan menempatkannya langsung dibawah komando
presiden, bukan lagi di bawah Gubernur Faubus. Tujuannya jelas: agar Gubernur
Faubus tak menggunakan tentara garda itu untuk melawan pemerintah federal.
Kisah ini sangat mengharukan saya. Sembilan murid hitam di sebuah kota yang
jauh dari ibukota Washington, masuk sekolah dengan dikawal oleh 1.200 tentara.
Hak mereka untuk sekolah hendak dibatalkan oleh seorang gubernur, dan seorang
presiden langsung turun tangan melindungi murid-murid yang masih belia itu.
Keberanian Presiden Eisenhower untuk langsung turun tangan dan ambil alih
masalah ini, merupakan 'kebajikan kepemimpinan' (virtue
of leadership) yang layak diteladani. Sudah tentu, tindakan
Presiden Eisenhower ini kontroversial, dan ditentang oleh orang-orang kulit
putih di kawasan Selatan yang umumnya masih pro segregasi. Tetapi, konstitusi
tetaplah konstitusi, dan harus ditegakkan.
Kasus di negara bagian Arkansas ini mengingatkan kita pada kasus yang nyaris
serupa. Walikota Bogor, Diani Budiarto, membangkang dari keputusan MA yang
telah menjamin hak jemaat GKI Yasmin untuk membangun gereja di sebuah kawasan
perumahan di Bogor. Apa yang dilakukan oleh walikota ini persis dengan yang
dilakukan oleh Gubernur Orval Faubus dari Arkansas.
Dalam kasus GKI Yasmin ini, kita tentu berharap ada 'Eisenhower Indonesia' yang mau turun tangan
langsung dan memastikan bahwa hak-harga warga negara untuk membangun rumah
ibadah yang dijamin oleh konstitusi itu tak dicederai.
Dimuat di Jaringnews 6/1/12
Ulil Abshar Abdalla, pemerhati dan praktisi politik Islam, Peneliti di
Freedom Institute, Jakarta.
Untuk share artikel ini klik www.KabariNews.com/?37832
Untuk melihat artikel Khusus lainnya, Klik di sini
Mohon beri nilai dan komentar di bawah artikel ini
______________________________________________________
Supported by :

|
| - The Ugly Duckling From Berkeley |
| Rating: 272 |
| - Utama: Daftar 100 Orang Paling Berpengaruh Di Dunia |
| Rating: 209 |
| - 22 KHASIAT BAWANG PUTIH |
| Rating: 197 |
| - RAYMOND DISUNTIK OBAT SAKIT JIWA SEBELUM USAHA DEPORTASI |
| Rating: 166 |
| - 10 Cerita Heboh Karena Facebook (Bagian II) |
| Rating: 137 |
| - K-Video: "Perempuan Berkalung Sorban" |
| Rating: 89 |
| - Eulogy untuk Gusdur oleh Romo Mutiara Andalas |
| Rating: 69 |
| - Hidupku Direngkuh Sahabat |
| Rating: 63 |
| - Seni: Seni Kreatif Membuat Layang-layang |
| Rating: 59 |
| - 14 Cara mengurangi Global Warming |
| Rating: 56 |