HOBI
Menuai Sensasi di Sungai Ciberang…
Rate This Article:
4

Salah satu kegiatan petualangan yang cukup digemari di Indonesia adalah berarung jeram. Karena selain sebagai sarana rekreasi, kegiatan ini menawarkan tantangan yang memicu adrenalin. Tak heran penggemar arung jeram terus bertambah setiap waktu.

Jika Anda salah satunya, sudahkah Anda mencoba arus liar di Sungai Ciberang Banten?

Rute Perjalanan

Awal Maret lalu, Kabari diundang mencicipi derasnya arus Sungai Ciberang dalam rangka peluncuran situs wisata, Mlancong.com. Situs ini bekerja sama dengan Banten Rafting, operator arung jeram Sungai Ciberang, dan Boogie, perusahan penyedia pernik kegiatan petualangan.

Bersama 30 orang anggota milis Tamasya Indonesia, kami meninggalkan Jakarta pukul 07.00 menuju Banten. Jalur yang dipilih via Bogor, melewati jalur Dramaga, lalu ke arah Leuwiliang.

Selepas macet di pasar Leuwiliang, perjalanan relatif lancar. Di akhir perbatasan Leuwiliang kami belok ke kiri menuju Jasinga. Mulai dari Jasinga menuju lokasi, perjalanan cukup sulit karena banyak tanjakan dan kelokan tajam. Jadi Anda harus waspada.

Jika naik kendaraan umum, dari Jakarta Anda bisa lewat Bogor. Kemudian naik angkot jenis minibis (biasa disebut elf –red) jurusan Jasinga dengan tarif Rp 15.000. Dari Jasinga lalu naik angkot, juga sejenis elf, menuju ke Desa Desa Muhara, Cipanas, tarifnya sekitar Rp 10.000. Kalau dari Tol Tomang, atau Tangerang, Anda bisa lewat Rangkasbitung lalu ke Jasinga dengan tarif relatif sama.

Setelah tiga jam perjalanan, sampailah kami di lokasi Rafting di Desa Muhara, Cipanas, Lebak, Banten. Desa ini terletak di punggung Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH). Jika kita meneruskan perjalanan ke atas sekitar setengah jam, kita bisa ke kampung tradisional adat Baduy.


Begitu tiba, suara arus liar Sungai Ciberang langsung menyergap seolah menantang kami. Tapi kami harus bersabar karena kegiatan arung jeram bukan kegiatan biasa dan perlu persiapan.


Sensasi Ciberang

Usai mengisi perut dengan sayur asem dan gurame goreng, kami lalu briefing persiapan sekitar lima belas menit yang dibimbing Kang Umar, instruktur Banten Rafting.

Poin penting dalam berarung jeram adalah melatih kerjasama tim. Semua anggota tim harus kompak dan patuh pada perintah Skipper (Instruktur) saat di air. Ada beberapa perintah penting dalam kegiatan ini, diantaranya Boom, yang berarti harus menunduk dan menghentikan dayungan. Stop, berarti perintah menghentikan kayuhan. Maju, berarti mengayuh dayung ke arah dalam. Mundur, anggota tim harus mengayuh dayung ke arah luar.

Kang Umar juga memberi tips untuk bersikap tenang jika perahu terbalik atau kita tercebur. “Sepanjang Anda masih menggunakan pelampung, Anda aman, yang penting jangan panik dan lambaikan tangan tiga kali,” kata Umar sembari memperlihatkan alat penyelamat berupa tali sepanjang 15 meter.

Usai mendapatkan penjelasan panjang lebar mengenai prosedur berarung jeram, kami lalu dibagi per kelompok. Satu kelompok berisi enam orang. Kami juga ditemani seorang skipper yang duduk di belakang perahu arung.

Setelah posisi duduk diatur, perahu arung berbobot 45 kilogram itu siap melaju. “Maju..” ujar skipper memberi perintah, tiga dayung di kanan dan kiri pun mendayung ke arah dalam secara bersamaan. Perahu lalu melaju perlahan membelah Sungai Ciberang.

Jeram Sungai Ciberang memiliki kelas antara 2 – 3+, berdasarkan standar Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI). Pemanfaatan Sungai Ciberang sebagai lokasi arung jeram relatif baru dilakukan, tepatnya sejak Juni 2007.

Debit ideal berarung jeram di Sungai Ciberang antara 70-90 cm. Tapi meski debit sungai ketika itu 50 cm, serunya berarung jeram sama sekali tak berkurang. Malah semua anggota tim semakin kompak, karena sering harus bersama-sama turun untuk menggoyang-goyangkan perahu yang kerap menyangkut di batu-batu kali.

Rombongan kami yang terdiri dari lima perahu yang dikawal satu perahu rescue, tampak antusias. Setiap berhasil melewati satu jeram, mereka berteriak puas. Kadang mereka bermain dengan saling mencripatkan air ke perahu lain.

Dari tiga belas jeram, ada tiga jeram yang cukup ekstrem. Satu diantaranya bahkan ada ‘hole’ di bawahnya. ‘Hole’ adalah istilah untuk pusaran air dengan kekuatan putaran yang bervariasi. Jika putaran ‘hole’ ini kuat akibat berkumpulnya arus bawah dalam satu titik, maka cukup berbahaya. Pengarung jeram yang masuk kedalam ‘hole’ harus mengambil sikap jongkok sembari merapatkan kedua tangan di tumit. Tujuannya agar tubuh lebih mudah terdorong ke permukaan air.

Usai melewati beberapa jeram yang ‘mudah’, sensasi berarung jeram di Sungai Ciberang barulah dimulai ketika perjalanan kami memasuki jarak satu kilometer dari titik berangkat. Jeram-jeram yang kami lalui mulai sulit dan tajam. Tak heran, mulai dari titik ini, perahu-perahu mulai bertumbangan. Ada yang terbalik, nyangkut di batu hingga ada juga anggota tim yang jatuh dari perahu. Suasana mulai tegang dan seru.

Salah satu perahu kami bahkan ada yang terbalik secara frontal akibat menghajar batu kali. Proses terbaliknya cukup dramatis, saat perahu baru saja melewati jeram, mendadak langsung bertumbukan dengan batu kali dari sisi depan, kontan saja, dengan kondisi perahu yang belum seimbang, perahu langsung terbalik ke arah depan. “Byuuur…!” dalam sekejap seluruh anggota tim perahu itu berada di bawah perahu yang telungkup. Untungnya mereka mengingat pesan instruktur untuk bersikap tenang dan berenang keluar secara perlahan. Bukannya takut, mereka malah tertawa-tawa dan tampak puas, “Yeaaah..” teriak mereka ketika diangkat regu penyelamat ke atas perahu.

Seperti layaknya kontur sungai, usai melewati jeram yang tajam, track sungai kembali lurus dan tenang. Disinilah para anggota tim berkesempatan berfoto dengan latar belakang dinding-dinding bukit di sisi Sungai Ciberang. Sungai ini memang cukup eksotik, sepanjang jalur, kita disuguhi pemandangan yang indah punggung Taman Nasional Gunung Halimun. Sungguh luar biasa.

Dua jam kami berkelok-kelok, akhirnya kami mendekati titik terakhir pengarungan. Uniknya, di beberapa ratus meter menjelang titik terakhir, kami disuguhi pemandangan orang kampung yang sedang beraktifitas di pinggiran Sungai Ciberang. Ada yang sedang mandi, mencucuci piring, hingga mencuci baju.

Mereka tenang dan tak merasa tergangggu dengan kehadiran kami di atas perahu yang sedang melongo memperhatikan mereka. Bocah-bocah telanjang tampak asyik bermain air. Mereka tertawa gembira.

Kami lalu berhenti di sebuah dam atau pintu air yang saat ini kondisinya sedang jebol. Seharusnya perjalanan bisa diteruskan hingga 11 kilometer, namun karena hari menjelang Mahgrib, kami berhenti dan naik ke darat melewati sebuah perkampungan.

Dari sana kami dijemput truk bak terbuka untuk kembali ke posko utama. Kondisi baju yang basah dan dingin pun tak terasa, kami malah tertawa sembari saling bercerita tentang pengalaman barusan.

Jika Anda berminat menikmati sensasi berarung jeram di Sungai Ciberang, Anda bisa melakukan pemesanan terlebih dahulu untuk pangaturan tempat. Biaya pengarungan sebesar Rp 185.000 per orang termasuk fasilitas snack, makan siang, guide (skipper), asuransi, dan transportasi lokal.

Selain itu Banten Rafting juga menyediakan saung bagi pengunjung yang menginap, lengkap dengan kamar mandi dan ruang ganti yang cukup memadai. Jika Anda berniat berarung jeram pada akhir pekan, sebaiknya melakukan pemesanan dahulu dan datang lebih pagi, karena biasanya jadwalnya padat (foto:Mayawati Nur Halim).

Informasi dan reservasi :

Banten Rafting Kampung Muhara, Desa Cidaon Lebak Cipanas, Banten.

Telp 021-71450068.


Untuk share artikel ini klik www.KabariNews.com/?34611

Untuk melihat Berita Indonesia / Hobi lainnya, Klik disini

Klik disini untuk Forum Tanya Jawab

Mohon Beri Nilai dan Komentar di bawah Artikel ini

______________________________________________________

Supported by :



 
 
 
Post A Comment
* Indicates required information
Comment Title:
* Comments:
Nickname:
* Validation:
2 comments for this article Reverse Comment Order
Added: March 10, 2010. 03:04 AM GMT
walaupun ga bisa berenang dan akhirnya kecemplung juga .. ga mengurangi serunya ikutan rafting ..

lain kali coba yang grade 4+ yuukk ..
hesma
Alert a moderator
Added: March 09, 2010. 07:22 AM GMT
Seru
Pokoknya seru deh. Mesti dicoba.
Maya
Alert a moderator
Reverse Comment Order
Google