FILM
TERTUSUK MIMPI
Rate This Article:
9


Dalam pergulatan meraih mimpi, boleh jadi hanya akan ada dua akhirnya. Tercapai atau terjerebab. Impian juga seperti mata pisau yang bisa diasah dengan dua cara berbeda. Dengan cara-cara halal dan semangat ketekunan, atau dengan cara obsesif dan menghalalkan segala tindakan. Tinggal pilih yang mana.

Tapi sepakat dengan Hanung Bramantyo, mimpi atau impian harus terus terpelihara. Karena mimpi adalah pelecut, energi, suplemen, atau sejenis obat kuat lainnya yang dapat mendorong manusia hidup untuk mencapai mimpi itu sendiri.

Karenanya, ini disadari betul oleh Hanung dan merasa perlu--kalau tidak dikatakan berhutang--membuat film “Menebus Impian” yang tema besarnya memotret perjuangan manusia meraih mimpi. Dalam konteks ini adalah pergulatan para pelaku bisnis penjualan berjejaring (Multi Level Marketing) meraih tujuan. Cukup sepadan memang. Pasalnya orang-orang pelaku bisnis penjualan berjejaring identik dengan semangat baja, pantang menyerah dan tampak selalu optimis. Konteks lebih jauh, Hanung ingin memotivasi orang lewat film ini.

Pertanyaannya adalah; berhasilkah? Jelas di film “Menebus Impian” Hanung sedang menjual mimpi. Tentu bukan menjual mimpi yang artinya secara gramatikal sering kita tonton lewat layar kaca. Tapi menggambarkan dengan detil bagaimana mimpi mula-mula menusuk benak Nur Kemala (diperankan Acha Septriasa), menjadi harapan, berubah menjadi energi, dan akhirnya tercapai.

Proses tersebut sukses dibangun Hanung. Mulai dari realitas buram kaum pinggiran, konflik ibu dan anak dari keluarga tak berkecukupan, sampai mimpi sang anak yang terpaksa berbenturan dengan keadaan. Semuanya diramu menjadi racikan yang cukup enak diikuti. Apalagi hadir pula sosok ‘lelaki penyelamat‘ yang kehadirannya lazim dalam film Indonesia kebanyakan. Bertipikal tampan, kaya, dan baik hati. Untungnya Hanung jeli menempatkan sosok si kaya pada porsi sesuai. Tak lebih tak kurang. Sehingga tak merusak cerita.

Plot film ini menceritakan, Nur Kemala adalah mahasiswi yang menjalani kehidupan yang keras bersama ibunya, Sekar (diperankan Ayu Dyah Pasha). Tanpa kehadiran seorang suami, Sekar terpaksa bekerja keras untuk membesarkan Nur sendirian. Bahkan dirinya rela menjadi tukang cuci untuk membiayai kuliah Nur.

Tapi dasar Nur anak yang keras kepala dan menyimpan sejuta mimpi untuk memperbaiki hidup keluarganya. Dia malah ingin segera bekerja dan membantu menafkahi keluarga. Sementara Ibunya ingin Nur lebih berkonsentrasi kepada kuliahnya.

Pertemuan dengan Dian (Fedi Nuril) menjadi titik penting dalam hidup Nur. Seperti namanya yang berarti obor atau pelita, Dian seolah memberi penerang kepada Nur yang tengah kehilangan cahaya. Bekali-kali Nur tertusuk mimpi. Bekali-kali pula Dian menyemangatinya agar bangkit kembali.

Sampai pada akhirnya Nur merasa mimpi itu menusuk dirinya demikian dalam dan menyakitkan sehingga dia merasa tak sanggup lagi meneruskan perjalanan ke pintu sukses.

Nur akhirnya memang harus berdamai dengan situasi. Dia harus kembali ke jalan permulaan untuk menapaki jalan yang baru yang masih terkunci. Dan kunci itu ada di telapak kaki ibunya. Biar setinggi langit seorang anak punya mimpi, restu ibu adalah pembuka jalannya.

Pesan ini begitu tersirat. Tipis sekali. Bahkan barangkali penikmat film baru menyadari setelah menesulur tema konflik ibu-anak ini secara menyeluruh di akhir cerita.

Kembali ke pertanyaan awal, berhasilkah Hanung memotivasi orang lewat film ini? Tentu saja jawabannya berbeda-beda tergantung bagaimana membaca nafas cerita yang diusung Hanung. Sebagai cerita yang patut diteladani ya. Tapi sebagai cerita yang inspiratif, terlihat masih kurang.

Ini bisa jadi karena ada dua pergulatan dalam batin Hanung. Cerita yang bersimpul pada konflik antara Ibu dan anak atau mengangkat kisah keberhasilan seorang penjual bisnis berjejaring?

Boleh saja ini diurai diatas meja bedah yang berbeda. Namun tampak sekali keduanya tak bisa dipisahkan dalam pledoi Hanung : ingin memotivasi orang. Hanung terlihat kurang banyak menggali lika-liku bisnis penjualan berjejaring. Padahal diakui sendiri oleh Hanung, bahwa bisnis ini juga tak lepas dari intrik, saling makan, serta babak belurnya mereka yang gagal eksis.

Atau bisa jadi bisnis penjualan berjejaring dipakai sebagai latar cerita yang membungkus perjuangan ibu dan anak dalam meraih impian mereka (baca: kehidupan yang lebih baik). Jika konteksnya ditempatkan demikian. Maka selesai. Habis perkara.

Sebagaimana disebutkan Hanung dalam jumpa pers, “Seperti kita nonton televisi di rumah memegang remote control, terserah penonton, kalau suka silakan tonton, kalau tidak suka tinggal pencet saluran yang lain,”.  Beres. (foto: dapurfilm)

Untuk share artikel ini klik www.KabariNews.com/?34771

Untuk melihat artikel Film lainnya, Klik disini

Klik disini untuk Forum Tanya Jawab

Mohon beri nilai dan komentar di bawah artikel ini

______________________________________________________

Supported by :


 
 
 
Post A Comment
* Indicates required information
Comment Title:
* Comments:
Nickname:
* Validation:
0 comments for this article Reverse Comment Order
Google