FILM
K-Video: "Perempuan Berkalung Sorban"
Rate This Article:
89

Bagaimana jika seorang perempuan memperjuangkan eksistensinya di tengah budaya yang menempatkan lelaki sebagai superior?

Hanung Bramantyo berusaha menjawabnya lewat film berjudul “Perempuan Berkalung Sorban”. Film yang diangkat dari novel berjudul sama karya Abidah El Khalieqy berdurasi 2 jam 10 menit ini, seolah menjadi penanda bagi seorang Hanung. Bahwa ia mapan mengangkat tema-tema berbalut  religi seperti karya sebelumnya, “Ayat-Ayat Cinta”.

Anak Kyai

Dikisahkan, Anissa, anak seorang Kyai di sebuah pesantren di Jombang, Jawa Timur, menggugat perlakuan keluarga dan lingkungannya. Ia menggugat kenapa dirinya selalu dibeda-bedakan dengan lelaki. Kenapa ia tidak boleh melakukan   yang boleh dilakukan lelaki? Seperti menunggang kuda atau menjadi ketua kelas.

perempuan berkalung sorban1

Sebagai wanita ia hanya dianggap nomor dua. Keluarga dan budaya pesantren yang dijalaninya menekankan bahwa tugas seorang wanita hanya melayani suami dan mengurus keluarga, lain tidak.

Anissa yang diperankan cukup berhasil oleh Revalina S Temat, terpaksa harus menerima kenyataan tersebut,  tumbuh menjadi wanita yang hidup dibawah bayang-bayang budaya yang mengangkat supremasi lelaki.

Puncaknya ia dipaksa menikah oleh ayahnya, Kyai Haji Hanan (Joshua Pandelaky), dengan Syamsudin (Reza Rahdian), lelaki yang tak dicintainya. Padahal saat bersamaan, ia diterima di sebuah perguruan tinggi di Jogya. Tapi keinginannya untuk kuliah terbentur keinginan Ayahnya yang keras. Anissa pun terpaksa menikah dengan Syamsudin.

Sebelumnya Anissa punya sahabat dekat yang tak lain pamannya sendiri, Khudori (diperankan Oka Antara), tapi pamannya itu pergi belajar ke Kairo. Dan selama 7 tahun Anissa hanya berhubungan lewat surat dengan Khudori.

Selama menjalani perkawinan dengan Syamsudin, Anissa tak bahagia. Syamsudin adalah lelaki yang sama sekali tak mengerti perasaan perempuan. Ia selalu menuntut agar dilayani kapanpun dia mau. Anissa tersiksa. Tapi sebagai wanita muslim yang taat, ia berusaha melayani suami sebaik mungkin. Bahkan ketika Syamsudin menikah lagi dengan Kalsum  (Francine Roosenda).

Perzinahan

Beberapa waktu kemudian, Khudori kembali dari Kairo dan melakukan pertemuan rahasia dengan Anissa di Pesantren Al Huda. Anissa menggugat kepergian Khudori tujuh tahun lalu. Dia yakin tak akan menjalani hidup sepahit ini jika saja Khudori tak pergi meninggalkannya dulu.

Anissa meminta Khudori segera menikahkannya. Tapi pertemuan itu diketahui Syamsudin. Mereka kemudian diusir dari Pesantren karena dituduh berzinah. Karena peristiwa itu, Kyai Haji Hanan meninggal dunia.

perempuan berkalung sorban 2

Adegan berlanjut dengan kehidupan baru Anissa di Jogya setelah bercerai. Anissa meneruskan cita-citanya, yakni kuliah di Jogya. Sementara Khudori entah pergi kemana. Di Jogya Anissa memulai hidup baru, ia bekerja sambilan menulis cerpen.

Suatu ketika, Khudori datang menemui Anissa ke Jogja. Pertemuan itu membuat benih-benih cinta keduanya tumbuh kembali. Meski Anissa belum mampu menghilangkan trauma perkawinan masa lalu, namun akhirnya Anissa menerima pinangan Khudori.

Mereka lalu kembali ke pesantren Al Huda. Selama di Pesantren, Anissa perlahan-lahan menumbuhkan minat  membaca para santri perempuan. Anissa kerap membagi-bagikan buku yang menurut pesantren, termasuk ‘buku berbahaya’.

Tindakan ini ditentang kakak-kakak Anisa yang mengurus Pesantren sepeninggal Ayahnya. Tapi Anissa keukeh, bahkan ia berniat membuat perpustakaan di pesantren itu. Ditengah usahanya, Anissa lagi-lagi harus menerima kenyataan pahit. Khudori meninggal dunia karena kecelakaan.

Ia lalu memutuskan kembali ke Jogya dan bekerja sebagai konsultan lembaga bantuan hukum untuk kaum perempuan. ‘Gairah’ baru yang dihembuskan Anissa di pesantren itu, ternyata menginspirasi tiga orang santri wanita yang kemudian kabur dari pesantren.

Anissa kembali ke pesantren sembari membawa tiga santri yang kabur itu. Usaha dan kegigihan Anissa akhirnya berbuah. Ia berhasil membangun perpustakaan di pesantren itu.

Sinematografi

Menurut alur cerita, film ini dapat dibagi menjadi tiga segmen, pertama kehidupan awal Anissa di Pesantren. Kedua saat Anissa menikah dengan Syamsudin dan ketiga saat Anissa menikah dengan Khudori dan  kembali ke pesantren. Ketiga segmen cukup runtut dikemas Hanung. 

Terlepas bagaimana isi novelnya, jelas banyak unsur dramatisasi yang dibuat Hanung untuk mempertegas cerita. Namun terutama di segmen kedua ketika Anissa berumahtangga dengan Syamsudin, banyak adegan yang sebetulnya bisa dibuang karena tak berpengaruh pada keutuhan cerita.

Misalnya saat Kalsum dan Syamsudin sedang berhubungan suami istri dan Anissa mendengar rintihan mereka dari luar kamar. Terkesan malah persoalan sekslah yang menjadi pangkal persoalan rumah  tangga Anissa, baik ketika menikah dengan Syamsudian hingga menikah dengan Khudori.

Padahal jika digali lebih dalam, banyak narasi  yang bisa dikembangkan. Kenapa Anissa tidak bahagia dengan Syamsudin dan tidak bisa membahagiakan Khudori pada awal-awal pernikahan? Dan jawabannya menjadi berkesan dangkal--jika dibanding megahnya tema--yakni ternyata soal kebutuhan seks.

Di sisi lain, pergulatan ketika Anissa bermetamorfosa menjadi wanita tegar, kurang dibuat detil. Padahal ini bisa memperkuat ‘roh’ film ini.

Seperti layaknya film laga dimana saat sang jagoan bangkit perlahan dengan tubuh berdarah-darah--adegan itu selalu tunggu penonton--, justru di film ini kondisi macam itu tak tergambar jelas.

perempuan berkalung sorban 3

Dan sekali lagi, entah memang dari novelnya atau bukan, ada banyak adegan yang bisa ditebak. Seperti saat Syamsudin memergoki Anissa dan Khudori berduaan di sebuah saung, atau ketika Khudori mengucapkan kata-kata terakhir sebelum kecelakaan.

Dalam adegan kecelakaan pun, Hanung mencoba ‘bermain’ dengan menampilkan sosok misterius yang menabrak Khudori dan akhirnya justru tak dituntaskan Hanung siapa pengendara mobil itu. Hanung membiarkan penonton berpikir sendiri, meski secara eksplisit ada satu adegan yang mengungkapkan pelakunya.   

Terlepas dari semua itu, Hanung memang bukan sutradara kemarin sore. Ia cukup apik  menjaga  ‘nafas’ film ini sehingga penonton enggan beranjak dari kursi meski durasinya cukup panjang. 

Dari segi sinematografi, kemampuan Hanung menterjemahkan novel kedalam layar lebar sulit terbantahkan. Ia sama sekali tak gagap mengangkat terminologi-terminologi agama, dan tanpa kuatirnya ia berkreasi dengan anasir-anasir dirinya dalam memahami budaya pesantren.

Dan memang demikianlah seharusnya, karya kreasi tak perlu memikirkan batas-batas. Batas-batas itu muncul dengan sendirinya saat kita mampu mempertanggungjawabkan karya kita.  

Trailer....

Untuk share artikel ini, Klik www.KabariNews.com/?32505

Untuk melihat Berita Indonesia / Filem lainnya, Klik disini

Mohon beri nilai dan komentar di bawah artikel ini

______________________________________________________

Supported by :




    

 
 
 
Post A Comment
* Indicates required information
Comment Title:
* Comments:
Nickname:
* Validation:
24 comments for this article Reverse Comment Order
  <<  <   1  |  2  |  3   >  >>
Added: January 11, 2012. 10:14 PM GMT
apa hub
gusdur,,, apa hubungannya sama gusdur,,, bukannya dia tuh berpihak sm tetangga,,, islam itu tidak seperti itu,,, bacalah qur'an mu tidak ada satu ayatpun yang menyatakan islam itu seperti itu, itu hanya prilaku jahiliyah yang sejatinya smp skg tentu masih ada hny berbeda zaman namun jahiliyah itu msh tetap akan ada, krn yg jahiliyah itu bukan lagi zamannya, tp prilaku manusianya.
farah
Alert a moderator
Added: August 02, 2010. 10:30 AM GMT
sedikit perobahan
sepertinya ada sedikit perobahan yang harus diperbaiki dalam film ini... seperti yg telah diposkan oleh teman2 ini. dan juga seharusnya hal tersebut kurang pantas bila dikatakan budaya islami, karena setahu saya islam tidak begitu2 amat...
anyone
Alert a moderator
Added: March 04, 2010. 08:40 AM GMT
Betul juga
Betul juga memanfaatkan kesulitan orang,untuk hawa nafsu,itu bukan menolong.Kalau menurut pribahasa Sunda,ngoragan sambari mulungan.Memanfaatkan kesulitan wanita untuk dijadikan isteri.Pantas Islam Taliban tidak menyetujui wanita2 sekolah ,agar bodoh dan tidak punya skill atau kepandaian untuk berdikari dalam segala bidang,kalau sudah tergantungkan pada laki2,mudah dimanfaatkan ,karena manusia butuh makan dan lain2 kebutuhan hidup.
Anonymous
Alert a moderator
Added: January 12, 2010. 05:29 AM GMT
Kembali pada Manusianya!
Sesungguhnya Allah telah menentukan Takdir & Nasib semua umat manusia, Jgn salahkan dr Ajaran islam & Nabi, tetapi apa hikmah dr ajaran tersebut, Nabi Muhammad mempunyai istri bukan untuk mengumbar hawa nafsu belaka, melainkan untuk menolong dan melindungi para wanita & janda yg patut dinikahi, dgn kasih sayang & keadilan bg mereka & menjungjung tinggi harkat martabat wanita, jgn dilihat dari Negatif Poligaminya, tp hikmah yg suci, tp berbeda dgn halnya orang2 yg tidak berpikir, melakukan hal tersebut hanya untuk mengumbar hawa nafsu belaka, jgn dikira orang2/Lelaki diluar islam sesungguhnya jg kepengin berpoligami tp munafik atau bertentangan dgn hukum tertentu yg berlaku disuatu negara, contohnya Tiger Wood, dll, silahkan anda berpikir2, bukan dr agama tapi kembali pada manusianya. Allahualam.
Barnabas
Alert a moderator
Added: October 25, 2009. 12:46 AM GMT
sejatinya
asalammualikum.sejatinya ajaran islam,ya seperti itulah.Oleh karena itu nabinya punya isteri 9,sex maniac.satu2 nya cara,agar wanita mau diperlakukan seperti diatas,menggunakan nama Allah,agar wanita2 menurut.Untung ada Gus Dur dan leluhurnya,yang membuat islam Gus Dur cinta damai dan kasih,jadi yang jelek2nya dirubah.
Anonymous
Alert a moderator
Added: June 07, 2009. 06:05 AM GMT
Ga layakkkk
Islam bukan seperti itu...........
Anonymous
Alert a moderator
Added: May 23, 2009. 02:21 PM GMT
ehm
merendahkan islam ni!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!1
hidnu
Alert a moderator
Added: April 01, 2009. 11:31 PM GMT
Zinahi aku
"Oh, zinahi aku, oh..." wkwkwk kocak!
Anonymous
Alert a moderator
Added: March 02, 2009. 06:41 AM GMT
film berkalung sorban
assalammualaikum? sayang film ini tak blh beredar? ok dah tanks. from batam
ABDI GUNAWAN
Alert a moderator
Added: February 15, 2009. 06:33 AM GMT
filmxa lemot
Anonymous
Alert a moderator
Reverse Comment Order
  <<  <   1  |  2  |  3   >  >>
Google