AMERIKA / SURAT
Sapi-sapi penyelamat dari Putri Cempo
Rate This Article:
17
Sapi 1
Slide Show
ABOUT THE AUTHOR

Hari itu belumlah siang benar. Bahkan masih terbilang pagi bagi sebagian orang, saat ratusan sapi dan diiringi pemulung-pemulung mulai mengais sampah. Maka mulailah sapi-sapi dan para pemulung seperti berebutan sampah di lokasi yang udaranya sangat pengap dengan ribuan lalat beterbangan di mana-mana.


Untunglah pembagiannya sudah jelas. Tidak pernah ada yang memulai atau mengatur sebenarnya. Tetapi ini seperti sudah jelas bagi mereka. Sapi-sapi itu mulai memakan sampah-sampah organik, sisa makanan dari ratusan ribu penduduk, sementara para pemulung sibuk mengais sampah-sampah non-organik, sekadar mencari sisa tempat makanan atau kardus bekas roti yang digunakan orang pada pesta sebelumnya.


Semua seperti sudah diatur, semua memiliki bagiannya masing-masing. Dan mereka lah yang selama ini memiliki peran yang besar bagi warga Kota Solo, namun tidak disadari benar oleh warga.


Masih belum lepas dari ingatan, saat gunungan sampah yang tingginya mencapai sekitar 30 meteran di tempat pembuangan akhir (TPA) Bantar Gebang, Bekasi, mengalami longsor, dan menewaskan sejumlah pemulung pada September tahun 2006 lalu. Begitu juga banjir sampah di Bandung, akibat volume sampah yang cukup besar tanpa diimbangi pengelolaan sampah dan lahan yang memadai, yang mengakibatkan warga menumpuk sampah rumah tangganya di depan rumah.


Sampah kemudian menjadi persoalan serius bagi hampir semua kota besar di Indonesia, dan bukan hanya monopoli kota sebesar Jakarta atau Bandung. Ancaman serupa juga siap-siap menghadang Kota Solo, kota yang mulai menggeliat dengan cepat sebagai kota urban dengan penduduknya yang mencapai 500.000 orang di malam hari, namun bisa mencapai 2 juta orang di siang hari.


Keberadaan sapi-sapi yang bersinergi dengan warga yang berprofesi sebagai pemulung pada akhirnya memunculkan fenomena menarik. Sapi-sapi yang jumlahnya ratusan ekor ini memiliki peran penting dalam membantu pengelolaan sampah di Solo. Saat ini setiap harinya di TPA Putri Cempo, sesuai dengan data dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Pemerintah Kota Solo tercatat volume sampah mencapai rata-rata 250 ton. Angka yang akan terus bertambah seiring meningkatnya jumlah penduduk di kota.


Dari jumlah tersebut, DKP mengasumsikan setiap hari sapi-sapi tersebut mampu mengurangi volume 5 10% volume sampah yang ada atau maksimal mampu mendaur ulang sampah secara alami sampai sekitar 25 ton per hari. Angka yang cukup fantastis di tengah kebingungan Pemerintah Kota Solo mencari alternative pengolahan sampah yang tepat. Ini juga sebuah sumbangsih besar bagi warga Solo.


Dari volume 250 ton perhari tersebut, hanya tersedia lahan seluas 17 hektare untuk pengelolaan sampah, yaitu di TPA Putri Cempo, kawasan Mojosongo, di Solo bagian utara. Bahkan praktis hanya tersedia sekitar 14 hektare untuk menampung sampah, karena kurang lebih 3 hektare dari luas lahan digunakan sebagai lahan untuk membangun infrastruktur kantor pengelolaan sampah. Sampah-sampah non-organik bisa di daur ulang, namun ini pun belum menyelesaikan masalah yang ada.


Maka, sapi-sapi itu pun berubah menjadi penyelamat bagi warga Solo, meskipun tak bermaksud menafikan keberadaan para pemulung yang cukup membantu mengurangi volume sampah non-organik. Jasa sapi-sapi ini pun cukup diakui, hingga Pemerintah Kota Solo. Bahkan pada Oktober tahun 2006 lalu, pemerintah sengaja memberikan bantuan hampir 250 ekor sapi dalam sistem gaduhan kepada warga di sekitar lingkungan TPA Putri Cempo. Sistem ini memungkinkan warga memelihara sapi untuk kemudian menternakkan, dan nantinya mengembalikan hasil ternak sapi ke Pemerintah Kota Solo.


Bagi Pemerintah Kota Solo, hal ini menjadi seperti satu kayuh dua tiga pulau terlampau. Membantu kehidupan warga sekaligus membantu sistem pengolahan sampah alami dengan membiarkan sapi-sapi tersebut mengkonsumsi sampah organik.


Maka kemudian di tengah kebingungan manusia mencari teknologi tepat untuk mengurangi volume sampah, sapi-sapi ini bekerja secara alamiah seakan muncul bak penyelamat bagi warga kota. Mungkin cara ini bisa mulai dikembangkan pemerintah di daerah lain, untuk menghindari ancaman banjir sampah seperti yang terjadi di Bandung. (Arik)


 

Majalah Kabari tidak bertanggung jawab atau berhubungan dengan isi dari artikel pribadi yang dikirim oleh pembaca.

 

 

                                                          April Financial

 
 
 
Post A Comment
* Indicates required information
Comment Title:
* Comments:
Nickname:
* Validation:
0 comments for this article Reverse Comment Order
Google