AMERIKA / SURAT
Menghapus Diskriminasi
Rate This Article:
1
Pendeta Bob Jokiman
Slide Show
ABOUT THE AUTHOR

Menghapus Diskriminasi
Oleh Bob Jokiman *)
Adalah sangat memprihatinkan bahkan sangat ironis membaca berita ”Komitmen aparat birokrasi untuk menghapus praktik diskriminasi, terutama kepada etnis Tionghoa, dinilai masih rendah, meskipun sejumlah aturan hukum secara tegas menjamin perlakuan yang sama di mata hukum dan pelayanan publik. Untuk itu, perlu kemauan politik yang tinggi dan ketegasan sikap pemerintah kepada aparat pelaksana di lapangan, untuk mengikis diskriminasi sistematis tersebut.” 1) Terjadi di negara Indonesia yang pernah terpilih sebagai ketua Komisi Hak-hak Azasi Manusia di PBB.
Mengapa sampai terjadi rasilaisme dan diskriminasi dalam masyarakat? Sebagai seorang awam saya mengamati bahwa seseorang  bisa menghargai  HAM ataupun tidak dikriminasi sangat tergantung dari keyakinan masing-masing terhadap harkat kemanusiaan itu sendiri. Bukan tergantung agamanya.

Pada tanggal. 13 Februari lalu saya berada di New York dan sekali lagi sempat mengunjungi Gedung PBB. Hari itu ada pameran foro dari sebuah organisasi Yahudi bernama Yad Vashem, sebuah organisasi yang dibentuk oleh DPR (Knesset) Israel untuk mendokumentasikan sejarah orang Yahudi di masa Holocaust perang dunia II untuk memugar kisah dan kenangan 6 juta orang Yahudi yang menjadi korban. Juga untuk memanamkan warisan kepada generasi berikut mengenai Holocaust melalui dokumen-dokumen, perpustakaan, sekolah-sekolah, museum-museum dan  memberikan pengakuan terhadap the Righteous Among the Nations, bangsa-bangsa non-Yahudi yang telah melindungi kaum Yahudi selama masa Holocaust tersebut dengan risiko jiwa sendiri terancam.Yang menarik dari daftar 44 negara the Righteous Among the Nations itu ada 63 orang Yahudi yang di lindungi oleh kaum muslim Albania.2)

Ketika melihat pameran foto tersebut hati dan perasaan saya sangat terharu. Siapa bilang bahwa orang muslim tak bisa melindungan etnik atau penganut agama lain?
Teringat beberapa peristiwa ketika tragedi Mei '98 terjadi ada sejumlah orang Tionghoa yang dilindungi oleh saudara-saudara muslim kita, bahkan haji!
Jadi kalau sampai ada orang Indonesia yang masih rasialis dan diskriminatif itu adalah karena karakter pribadinya yang tentunya dipengaruhi oleh temparamen dasarnya serta lingkungan di mana ia dibesarkan. Oh alangkah bahagianya jikalau di Indonesia lebih banyak lagi orang-orang seperti muslim Albania tersebut!
 
Sebaliknya jika kita mengikuti sejarah Dewan Gereja Sedunia (WCC) pada tahun 60an salah seorang ketuanya adalah Martin Niemoller, seorang pendeta Lutheran Jerman. Ia juga kemudian dikenal sebagai pejuang perdamaian dan rekonsiliasi negara-negara yang saling berperang pada perang dunia II. Ia adalah penerima the Lenin Peace Prize tahun 1967, dan the West German Grand Cross of Merit tahun 1971.
Namun sebelumnya ia adalah seorang yang tidak care terhadap HAM dan sangat rasis. Sebagai mantan kapten U-boat Jerman pada perang dunia I sebelum menjadi pendeta,  ia adalah pendukung Nazi Hitler saat mulai berkuasa. Ketika orang-orang komunis mulai ditangkap ia tidak bersuara karena ia bukan komunis.  Ketika orang-orang Yahudi mulai ditangkap ia juga tidak bersuara karena ia bukan Yahudi. Demikian pula ketika orang-orang Katholik mulai ditangkap ia tidak bersuara karena ia bukan Katholik. Hingga akhirnya ia sendiri ditangkap dan dipenjara selama beberapa tahun karena menentang Hitler, maka tak seorangpun yang tertinggal untuk bersuara baginya. 3)
Jikalau Martin Noemoller tidak mengalami sendiri penderitaan akibat tindakan rasialis, mungkin sejarah tidak mengenal dia sebagai pejuang HAM dan perdamaian.
Kiranya tidak demikian dengan kita, entah mengalami sendiri tindakan rasialis atau tidak, sebagai orang-orang percaya dan pengikut Kristus, kita harus besuara apabila kita melihat atau mengetahui adanya tindakan rasialis dan diskriminatif  disekitar kita hidup. Karena Alkitab mengajarkan : "Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilaiNya demikian. Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." 2 Korintus 5:16-17. Saya percaya jika kita sungguh-sungguh dan benar-benar telah menerima Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan maka seharusnya bukan saja kita tidak rasialis dan diskriminatif  tetapi juga mau menjadi pembela HAM serta berjuang untuk penghapusan rasialis dan diskrimintaif entah dalam bentuk ras, status sosial dan politik serta ekonomi atau sebagai penduduk setempat terhadap pendatang yang banyak terjadi sekarang ini. Juga khususnya diantara sesama kristen karena perbedaan denominasi maupun orientasi theologia kita.
Rasul Paulus yang sebelumnya begitu membenci pengikut-pengikut Kristus, setelah bertobat menulis: ”Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Galatia 3:267-28   Konsep kita terhadap harkat manusia seharusnya berubah setelah menjadi kristen melebihi penganut agama lain. Sehingga kita dapat berkata seperti Paulus: ”Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.” 1 Korintus 9:19-23   Di tengah dunia di mana kasih makin hambar dan ancaman teroris yang tak terbendung, khusus di bumi pertiwi di mana rasialis dan diskrimintaif terhadap kaum minoritas begitu sulit dihapus, marilah kita mohon kekuatan dari Tuhan agar dapat mewujud-nyatakan kasih Kristus yang tak mengenal batas dan perbedaan pada komunitas sekitar kita. Yaitu kasih agape yang mengasihi dan sanggup menerima sesama manusia sebagaimana adanya tanpa syarat, tanpa menghakimi  dan tanpa menuntut. Moga Tuhan memakai kita, orang-orang percaya; untuk memberikan sumbangsih terciptanya masyarakat yang harmonis dan saling menghargai serta hidup rukun penuh damai sejahtera demi kemuliaan Tuhan. *) Penulis adalah rohaniwan dan pemerhati HAM yang tinggal di California Selatan. 1) http://www.prakarsa-rakyat.org/artikel/news/artikel.php?aid=24728 2) http://www1.yadvashem.org/about_yad/index_about_yad.html
3) 
http://www.hoboes.com/html/FireBlade/Politics/niemoller.shtml  
 
 
 
Post A Comment
* Indicates required information
Comment Title:
* Comments:
Nickname:
* Validation:
0 comments for this article Reverse Comment Order
Email this to a friend Print HTML
Google
 
More Amerika / Surat
Top Rated Stories