AMERIKA / MAIN STORY
Mereka Yang Tetap Bekerja Pada Hari Natal
Rate This Article:
2

Love, Miracle dan The Christmas Spirit, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Natal. Mestinya selalu berbagi untuk semua orang. Dengan memahami makna ketiganya, maka tak ada yang menggerutu saat harus berbagi waktu dengan orang lain dalam merayakan Natal dan tak bisa berkumpul bersama keluarga di malam itu.

Beberapa tempat tidak bisa menutup pintu begitu saja di malam atau hari Natal. Pertokoan besar, rumah makan, liquor store atau grocerie stores bahkan tutup beberapa jam saja sebelum misa Natal dan buka lebih siang pada hari Natal. Rumah sakit, kantor polisi, kantor pemadam kebakaran, homeless shelter, rumah yatim piatu, panti jompo, bahkan 24 jam tetap buka standby seperti hari-hari biasa. Pada saat Natal inilah, para staf di sana harus tetap bekerja.

Di tengah orang-orang sibuk yang merayakan Natal, ada sejumlah orang yang malah bekerja sebagai relawan di berbagai tempat. Mereka ini real membagi waktu mereka demi sebuah semangat. The Christmas Spirit. “Setiap Natal, saya selalu mencari tempat yang menerima relawan untuk menambah staf mereka atau menggantikan para staf yang Natalan,” kata Karen, mahasiswi University of Maryland yang selalu memanfaatkan liburan musim dingin untuk bekerja sebagai relawan. Menurutnya, dia bisa bagi waktu merayakan Natal dengan ibu dan saudaranya serta membantu di sebuah tempat yang membutuhkan. “Natal menjadi lebih istimewa kalau bisa membantu orang lain merasakan kebahagiaan yang sama,” lanjutnya.

Kevin, seorang koki resto barbeque di California justru tak ingin di rumah saja saat Natal tiba. “Saya senang memasak dan melihat keceriaan mereka yang datang ke resto. Saya suka suasana ramai berbagi tawa dengan customer dan staf.” Toh menurutnya, setelah resto tutup, dia bisa berkumpul dan pergi ke misa bersama keluarga. Begitu pula Celia, seorang voluntir di homeless shelter (panti tuna wisma) di Illinois. “Siapa lagi kalau bukan kita yang membantu mereka di saat Natal?,” katanya. Celia juga mengajak kita untuk ikut memikirkan panti asuhan bahkan animal shelter. “Mereka juga harus merasakan kebahagiaan Natal seperti kita.”

Menangis di Malam Natal

Berbeda dengan Karen, Kevin dan Celia. Victoria, salah seorang perawat di rumah sakit di Kentucky, mengaku awalnya kesal saat kepala rumah sakit menunjuknya untuk berjaga 24 jam. “Setiap tahun, keluarga besar merayakan Natal bersama, eh tiba-tiba kok saya absen bersama keluarga. Saya merasakan sedih dan sebel saat dapat tugas,” akunya. Tapi ada kejadian yang membuatnya menangis dan akhirnya mensyukuri tugasnya pada malam natal itu.

Saat bekerja pada malam Natal, Victoria melihat betapa banyak orang-orang yang mesti rela berpisah dengan keluarga. Pihak rumah sakit menyediakan waktu dan ruang untuk mereka bisa berkumpul bersama, seperti sebuah keluarga besar, saling berbagi doa dan hadiah. Anak-anak mendapatkan krayon untuk menggambar atau peralatan untuk membuat kartu dan dekorasi pohon natal serta para orang dewasa berbagi cerita pada mereka. Suasana rumah sakit terlihat lebih syahdu dan tidak terlalu sibuk. Hingga sehari selesai Natal, seorang gadis cilik datang dan memeluk Victoria, “Terima kasih untuk hari Natalnya yang indah, kalian semua seperti malaikatku.” Sejak itu, Victoria tak sedikitpun menolak untuk tetap berjaga di rumah sakit pada malam Natal.

Hampir sama yang dialami Santi, seorang penjaga toko mainan anak-anak di Virginia. Cewek Indonesia yang sudah tiga tahun tinggal di Amerika ini sempat marah dengan bossnya yang minta dia menjaga toko di malam Natal dari pagi sampai jam 10 malam.

Kenapa sih tidak tutup lebih awal pada malam Natal dan tutup pada keesokan harinya, sungutnya. Sedangkan menurut bossnya, pada malam itu masih banyak orang datang untuk membeli hadiah untuk anak-anak mereka. “Sebelum bekerja, Natal bagi saya adalah memasak, berkumpul bersama teman-teman, pergi ke misa dan menelpon keluarga di Indonesia.” Makanya Santi sebel diminta tetap bekerja pada tahun lalu.

Malam Natal, toko itu memang tidak terlalu sepi tapi juga tidak terlalu ramai. Setengah jam sebelum toko tutup, Santi pun berkemas, tiba-tiba datanglah seorang ibu memilih dan membeli mainan. Saat membayar, ibu itu berkata, “Terima kasih masih membuka toko ini. Saya berkeliling kemana-mana, tak ada toko mainan yang masih buka. Anak saya minta dibelikan robot kesayangannya sebagai hadiah tahun ini, dan barangkali inilah permintaannya yang terakhir.” Anak satu-satunya menderita leukimia dan sedang bergulat dengan penyakit itu. Santi langsung bersujud syukur setelah ibu itu pulang dan tahun ini dia berharap bossnya meminta dirinya kembali untuk menjaga toko. Dengan hati gembira, Santi akan melayani para pembelinya nanti. (riana)

Untuk share artikel ini, Klik www.KabariNews.com/?34116

Untuk melihat artikel Amerika / Main Story lainnya, Klik disini

Untuk Tanya Jawab tentang Artikel ini, Klik disini

Mohon beri nilai dan komentar di bawah artikel ini

______________________________________________________

Supported by :

 
 
 
Post A Comment
* Indicates required information
Comment Title:
* Comments:
Nickname:
* Validation:
0 comments for this article Reverse Comment Order
Google