AMERIKA /KBRI-KJRI
Press Release: KBRI Watch Sesalkan Tudingan Pihak KBRI
Rate This Article:
7
Credit - embassyofindonesia.org
Slide Show
Press Release KBRI Watch
KBRI Watch Sesalkan Tudingan Pihak KBRI


Kepada Yth.
Redaksi Harian/Media
di Jakarta

Dengan hormat,
Bersama ini kami dari organisasi KBRI Watch mengeluarkan press release sebagai tanggapan atas pernyataan pers resmi pihak KBRI yang dimuat di Detik.Com hari Selasa (19/4) “KBRI Washington: 4 Staf Dino Sengaja Kabur agar Bisa Menetap di AS”.
KBRI Watch menyesalkan tuduhan Duta Besar Dino Djalal dan pihak KBRI terhadap ke-4 staf RT Wisma Dubes dengan serta-merta menyatakan bahwa mereka sudah merencanakan kabur sejak awal kedatangan mereka di Washington DC, tanpa ada itikad untuk mau melakukan introspeksi atas apa yang menjadi penyebab sesungguhnya para staf RT tersebut hingga nekad meninggalkan Wisma Dubes. KW mendapat pengaduan bahwa staf ke-4 yang kabur (Fasih Atun yang bekerja sebagai baby sitter) hanya digaji $500/bulan dengan jam kerja hampir setiap hari (7 hari seminggu). Sementara KBRI Watch memperkirakan upah minimum di daerah Washington DC yang ditentukan pemerintah AS untuk pekerja seperti baby sitter dengan jam kerja 7 hari seminggu (belum termasuk overtime) bisa lebih dari $1.500/bulan.

KBRI Watch berpandangan bahwa baik KBRI Washington dan Duta Besar belum paham sepenuhnya dan tampak belum siap menerima pelaksanaan UU No. 14/2008 mengenai Keterbukaan Informasi Publik. Sebagai lembaga publik dan pejabat publik – yang dibiayai dengan uang rakyat – seharusnya KBRI lebih tahu dan paham akan UU KIP yang sudah diberlakukan selama tiga tahun. Seyogyanya, Dubes atau pihak KBRI tidak perlu menuding atau mencap macam-macam atas keberadaan lembaga pengawas (watchdog) seperti KBRI Watch. Apapun yang dilakukan KBRI Watch mengawasi lembaga publik sepenuhnya dijamin dan dilindungi oleh UU 14/2008 tersebut.

KBRI Watch juga merasa jengah dengan tudingan KBRI bahwa sejumlah aktivis KW punya konflik kepentingan atas proyek acara budaya di KBRI, yakni dengan keinginan menjadi event organizer (apalagi sampai disebutkan sosok KW telah mendesak Dubes Dino Djalal untuk melanggar hukum di AS). Tuduhan ini sama sekali tidak ada ada dasarnya, dan kami kawatir bahwa ini merupakan taktik pengalihan isu pokok yang dilontarkan KW soal transparansi gaji staf Rumah Tangga Wisma Dubes yang sangat besar, karena pada kenyataaanya seluruh aktivis KWyang berjumlah 30-an orang mempunyai penghasilan tetap, dan samasekali tidak tergantung pada proyek apapun dari KBRI. KBRI Watch menilai tuduhan-tuduhan yang dilontarkan merupakan upaya “character assassination” untuk mendiskreditkan lembaga KBRI Watch yang selama ini aktif mengkritisi kinerja KBRI Washington dan Duta Besar.

KBRI Watch mempertanyakan klaim bahwa Dubes Dino memperlakukan seluruh staf rumah tangga dengan fair dan respectful sebagai layaknya anggota keluarga sendiri dan senantiasa memperhatikan kesejahteraan dan keselamatan mereka.

Namun, menurut pengaduan yang masuk kepada KBRI Watch dan pernyataan Fasih Atun yang dimuat media online Kabarinews, alasan Fasih kabur dari Wisma Dubes adalah karena ia merasa tidak “di-orangkan” (atau tidak dihargai) dan sering dimarahi dengan kata-kata yang kasar dan menyakitkan (yang tidak pantas untuk dikemukakan di sini), padahal Fasih bekerja selama 7 hari seminggu dengan upah jauh di bawah upah minimum yang diwajibkan pemerintah AS.
Fasih juga mengaku mengalami perlakuan tidak semestinya karena pernah dua kali ditinggalkan majikannya di tempat umum, terakhir ia sampai menangis karena tidak tahu bagaimana caranya bisa pulang ke Wisma Tilden (untung kemudian Fasih ditolong oleh warga Indonesia lainnya yang kebetulan berada di sana). Fasih Atun juga mengaku tidak sekalipun dihubungi via telepon sejak dia kabur dari Wisma Tilden. Padahal menurutnya, baik Dubes maupun isterinya mengetahui nomor ponsel-nya.
Disamping itu KW juga menyesalkan pernyataan Dubes dalam akun twitter-nya bahwa dia sangat sibuk dengan misi besar hubungan RI-AS dan tugasnya sebagai Dubes, sehingga tak sempat mengurus masalah pembantunya yang kabur. Pernyataan yang kurang bertanggungjawab dari seorang pejabat publik yang katanya menganggap staf RT-nya sebagai keluarga sendiri.
Fakta-fakta ini tampaknya bertentangan dengan klaim yang diceritakan Dubes Dino yang dilaporkan oleh pihak KBRI.

KBRI Watch juga meragukan bahwa pihak KBRI ingin menyelesaikan masalah ini dengan niatan baik. Pasalnya kami mendapat beberapa e-mail pengaduan bahwa sejumlah warga Indonesia di Washington DC sudah di-interogasi dan ditakut-takuti oleh sejumlah aparat KBRI yang mendatangi rumahnya, malah ada yang mengakui didatangi beberapa aparat KBRI pada saat tengah malam. KBRI Watch sangat menyesalkan andaikata memang kedatangan sejumlah aparat untuk melakukan interogasi ini sengaja diperintahkan oleh Duta Besar.

Sebagai lembaga pengawas badan publik, KBRI Watch menuntut agar cara aparat KBRI menakut-nakuti warga Indonesia yang diduga berhubungan dengan Fasih Atun, seperti cara-cara intimidasi pada jaman Orde Baru ini dihentikan dan tidak diulangi lagi. KBRI Watch berpandangan bahwa tidak selayaknya lembaga publik yang mewakili pemerintah Indonesia dan dibiayai rakyat justru membuat resah rakyatnya sendiri, apalagi ini dilakukan di luar negeri.

Terakhir, dengan pernyataan ini KBRI Watch ingin mengajak pihak KBRI untuk “kembali ke laptop”, yaitu bagaimana mengatasi masalah kaburnya ke-4 staf RT Wisma Tilden ini dengan cara-cara yang lebih manusiawi, bermartabat, dan dengan niatan yang baik. Tidak perlu lagi menggunakan taktik intimidasi warga atau pengalihan isu dengan cara menuduh KBRI Watch berkonspirasi dan memiliki kepentingan ekonomi dalam kasus ini.

Sekali lagi, KBRI Watch hanya menjalankan amanah UU KIP No. 14/2008 untuk melakukan fungsi pengawasan. Masyarakat mengadu, maka kami menerima, dan kemudian mengkomunikasikan pengaduan itu kepada pihak terkait dengan cara-cara kami yang tidak bisa didikte oleh siapapun.

KBRI Watch sendiri sejak berdirinya sudah menegaskan dan berkomitmen akan selalu menjadi lembaga watchdog yang non-partisan dan tidak terikat oleh kepentingan politik tertentu.
Demikian tanggapan resmi KBRI Watch atas pernyataan resmi pihak KBRI di Detik.com tanggal 19 April 2011.

Hormat kami,
(Tertanda)
Irwan Rosyadi
Koordinator
HP: +1-202-468-2635
e-mail: kbriwatch@yahoo.com
twitter.com/kbriwatch
Facebook.com KBRI Watch page

Untuk share artikel ini klik www.KabariNews.com/?36646

Untuk Melihat artikel Amerika / KBRI-KJRI lainnya, Klik disini

Mohon beri nilai dan komentar di bawah artikel ini

______________________________________________________

Supported by :


Related Articles
KBRI Watch Press Release: Kaburnya 4 Orang Staf Rumah Tangga Wisma Dubes RI
Pembantu Dubes Kabur, Muncul Tudingan Konspirasi
KLARIFIKASI KBRI WASHINGTON DC TERHADAP PRESS RELEASE "KBRI WATCH"
 
 
 
Post A Comment
* Indicates required information
Comment Title:
* Comments:
Nickname:
* Validation:
12 comments for this article Reverse Comment Order
  <<  <   1  |  2   >  >>
Added: May 26, 2011. 03:44 AM GMT
DPJ vs KW bukan PRT
Setelah saya membaca komentar2 dari pengurus KW disini. Saya simpulkan salah satunya bahwa KW yg tidak diberi kesempatan untuk menjadi event organizer di KBRI di DC kemudian mencari2 kesalahan dari DPJ dan menjatuhkan ke dudukannya sebagai Dubes RI. Sampai menyinggung masalah harta dan sebagainya dan itu tidak relevan.

Bukan saya membela semata DPJ ini, tetapi saya melihat dari kedua belah pihak yang bersitegang yaitu KBRI dan KW.

Untuk anda ketahui, seluruh pegawai termasuk PRT yg akan diberangkat kan ke luar negeri mereka telah mengetahui, menyetujui dan mendandatangani surat kontrak tsb di Deplu jakarta.
Masalah besarnya gaji pegawai termasuk PRT itu diatur oleh Deplu di Jakarta bukan oleh Dubes.

Jadi ini bukan kesalahan bapak DPJ semata.

Saya rasa PRT tersebut mungkin dihasut oleh orang2 KW untuk kabur dan melindungi mereka. Sebaiknya PRT itu harus diserahkan ke KBRI dan dipulangkan ke Indonesia dengan didampingi oleh KW atau masyarakat Indonesia ke Airport.

PRT ini tidak boleh bekerja selain di KBRI oleh pemerintah Amerika, sesuai dengan Visa A3 nya, kalau bekerja diluar KBRI berarti mereka berstatus ilegal, itu akan membahayakan mereka sendiri.

Saya khawatir, PRT ini dijadikan bahan politik bagi KW yang tidak sukses untuk menjadi Event Organizer, mengakibatkan PRT ini menjadi terlantar nasibnya. Kasihan PRT nya.

Bak pepatah: Sepertinya bapak DPJ terhadap PRT "membesarkan anak harimau yang menerkam dia setelah besar", atau "melepaskan anjing yang terjepit menggigit setelah dilepaskan".

Marilah kita semua membantu meringankan tugas Dubes ini, bukan menjatuhkan dan mencaci maki beliau. Kita tahu semua bahwa dia termasuk Diplomat yg brilliant. Kita mengharapkan ada perubahan yang significant dalam hubungan US dan Indonesia. Masih banyak kerjaan yg harus di selesaikan oleh Dubes tsb. Ini demi negara kita Indonesia.

Tolong direnungkan dan dibaca dengan baik baik tanpa emosi dan pikiran yang jernih apakah benar pendapat saya ini? Semoga bermanfaat, mohon seribu maaf kalau ada kata kata saya yang tidak berkenan di hati pembaca.

Penengah
Alert a moderator
Added: April 27, 2011. 02:25 PM GMT
English Version
Maybe you want to read it, it's not perfect but at least generally you can understand This Press Release:

KBRI Watch Press Release
KBRI Watch regrets of Embassy accusation

Dear.
Redaksi Harian/Media Daily Editorial / Media

Sincerely,
Herewith we are from the Embassy Watch organization issued a press release in response to an official press statement posted on the Embassy Detik.Com Tuesday (19 / 4) "Embassy in Washington: 4 Staff Dino Accidentally Escaped for Can Stay in U.S.".
KBRI Watch deplored the accusation Ambassador Dino Djalal and the Embassy of the House 4 staff of Ambassador to immediately declare that they have planned escape since the beginning of their arrival in Washington DC, with no willingness to want to do introspection on what the real cause Residence staff until leaves his House of the Ambassador.
KBRI watch received a complaint that the staff into a 4th escaping (Fasih Atun, who works as a baby sitter) just paid $ 500/month. While the Embassy Watch estimates that the minimum wage in the area of Washington DC that the U.S. government determined to work as baby sitter with working hours 7 days a week (excluding overtime) can be more than $ 1.500/month
KBRI Watch the view that both Ambassador Embassy in Washington and not yet fully understood and seem not ready to accept the implementation of Law no. 14/2008 about transparency of Public Information.
As public institutions and public officials - that are financed with public money - should have known better and understand Embassy would have enacted the Act on KIP for three years. Should, ambassador or the Embassy does not need to be blamed or labeled for the existence of various regulatory agencies (watchdog) as Embassy Watch. Whatever is done Embassy Watch oversee public institutions are fully guaranteed and protected by the Act 14/2008.

KBRI Watch also feel embarrassed by allegations that a number of activists KW Embassy have conflict of interest in the projects of cultural events at the Embassy of Indonesia, namely the desire to become an event organizer (let alone mentioned the KW figure has urged the Ambassador Dino Djalal to break the law in the U.S.).
This accusation is totally unfounded, and we are worried that this is a diversion tactic that raised fundamental issues about transparency of Household staff salaries at his house, because the entire activist KBRI watch with 30s , already have a fixed income, and absolutely not dependent on any project from the Embassy. KBRI Watch assess accusations leveled an effort to "character assassination" to discredit the Embassy Watch institution which has been actively critical of the performance Embassy in Washington and Ambassador.
KBRI Watch questioned the claim that Mr Dino treats the entire household staff with fair and respectful as the withdrawal of family members own and always pay attention to their welfare and safety.
However, according to a signed complaint to the Embassy Watch and the statement contained Fasih Atun - Kabarinews online media, the reason for escaping from Ambassador residence , fluency is because he was not "in-orangkan" (or not valued) and is often scolded by harsh words and painful (which does not deserve to be mentioned here), whereas Fluent worked for 7 days a week with wages far below minimum wage required by the U.S. government.
Fasih also admitted having improper treatment because her employer had twice abandoned in public places, most recently to cry because he did not know how to get home to the House of Tilden (fortunately then Fasih helped by other Indonesian citizens who happened to be there). Fasih Atun also admitted to not even be contacted via phone since he escaped from the House of Tilden. In fact according to her, both Ambassador and his wife know his phone number.
Besides, KBRI Watch also deplored the statement the Ambassador in his twitter account that he was very busy with a big mission RI-US relations and duties as Ambassador, so no time to take care of problems that obscure aides. This statements that are less responsible than a public official that he considers his RT staff as family.
These facts seem to contradict the claim that the Ambassador told Dino that was reported by the embassy.
KBRI Watch also doubted that the Embassy would like to resolve this problem with good intentions. The reason we got a few e-mail complaint that a number of Indonesian nationals in Washington DC had been interrogated and intimidated by a number of embassy officials who went to his house, instead there is an acknowledged visited several embassy officials at midnight. KBRI Watch very sorry indeed if the arrival of a number of officers to conduct interrogations was deliberately ordered by the Ambassador.
As a public watchdog agency, the Embassy Watch embassy officials demanded that a way to scare citizens of Indonesia who allegedly associated with Fasih Atun, such as ways of intimidation in the days of New Order is stopped and not repeated again. KBRI Watch the view that public institutions should not be representing the Indonesian government and financed by the people actually making their own people uneasy, especially this is done abroad.
Finally, with this statement KBRI Watch would like to invite parties to "go back to the laptop", namely how to tackle the problem escaping of the 4 Tilden staff is in ways a more humane, dignified, and with good intentions. No need anymore to use intimidation tactics citizens or diversion issue by accusing KBRI Watch conspired and economic interests in this case.
Once again, the KBRI Watch only carry out the mandate of Law No. KIP. 14/2008 to perform oversight functions. Communities complain, then we accept, and then communicate the complaint to the relevant parties in ways we can not be dictated by anyone.
KBRI Watch itself since its establishment has been confirmed and committed will always be a watchdog agency of a non-partisan and not bound by certain political interests.
So the official response KBRI Watch for an official statement the embassy in Detik.com April 19, 2011.

Sincerely,
(Signed)
Irwan Rosyadi
Coordinator

e-mail: kbriwatch@yahoo.com e-mail: kbriwatch@yahoo.com
twitter.com/kbriwatch twitter.com / kbriwatch
Facebook.com KBRI Watch page Facebook.com Embassy Watch page

Hanigan
Alert a moderator
Added: April 27, 2011. 01:04 PM GMT
HIMBAUAN BAGI 4 MANTAN STAF DUBES DPJ
HIMBAUAN BAGI 4 MANTAN STAF DPJ
Sekali lagi, hubungi SEGERA Polaris Project (www.polarisproject.org). Nomor tilpon HOTLINE mereka untuk pengaduan:

1-888-3737-888

Alamat mereka adalah :

P.O. Box 53315
Washington, D.C. 20009
Tel: 202-745-1001
Fax: 202-745-1119
Email: info@polarisproject.org

Mohon jangan ditunda! Good luck. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi anda sekalian.
Jimi Hendrix Experience
Alert a moderator
Added: April 27, 2011. 12:47 PM GMT
Nannygate ala DPJ
Isyu pokoknya adalah sederhana:

Dubes DPJ telah melanggar ketentuan hukum Department of State (DOS) dan Department of Labor (DOL) AS untuk mendatangkan 7 orang pembantu ke AS (baca prosedure aturan Department of State menyangkut pemberian visa A-3). Pelanggaran ini telah dinyatakan Pemerintah AS sebagai salah satu bentuk "human trafficking" yang sering terjadi di dalam negeri AS (please baca laporan Department of State tahun 2010 mengenai Humans in Trafficking).

Dubes DPJ sudah dapat dipastikan tidak memiliki kekayaan tersebut untuk menanggung ketujuh stafnya sesuai peraturan DOS dan DOL AS yang berlaku. Dia bukan orang kaya yang mampu membayar US$10,500 per bulan (kurang lebih Rp. 94,500,000/bulan atau Rp. 1,134,000,000/tahun) hanya untuk gaji 7 orang pembantu semata. Non sense! Siapa yang bilang dia orang kaya? (KBRIWatch Watchdog itu naif apa dungu sih? Mungkin keduanya!) Dia bukan ahli waris Warren Buffet, Bill Gates atau memiliki hubungan keluarga Suharto, Kennedy atau Rockefeller. Ayahnya adalah mantan Dubes era orde baru.

Kontroversi dan segala konflik yang pro dan kontra DPJ, khususnya dikalangan komunitas Indonesia (lihat yahoo groups: kulidolar), tidak mungkin terjadi sekiranya DPJ sejak awal tidak melanggar aturan DOS dan DOL AS sebagaimana Dubes-dubes RI di Washington, D.C. terdahulu.

Sekarang setelah semuanya berlangsung semakin memuncak, apa yang DPJ lakukannya? Menggunakan fasilitas dan sarana KBRI (milik Pemerintah RI) untuk menyanggah masalah yang disebut sebagai masalah internal keluarganya; menempatkan pemuka KW dalam "blacklist" KBRI dan Wisma Tilden; menuding keluar KBRI akan adanya oknum "human trafficking" walaupun secara resmi Pemerintah AS mengidentifikasi jenis pelanggaran yang dilakukan DPJ adalah salah satu bentuk "human trafficking" (mohon baca laporan DOS tahun 2010 mengenai Trafficking in Persons).

Sebagai pemimpin, diragukan sekiranya DPJ akan bertindak yang adil dan bijaksana. Langkah-langkah DPJ sejauh ini mengindikasikan sosok berkulit tipis yang merasa mudah tersinggung dikritik, khususnya dalam menempatkan blacklist bagi pemuka KW. Seperti kekanak-kanakan yang sedang ngambek. Mungkin masih perlu kedewasaan? Belum lagi menurut KW ybs telah mengintimidasi warga masyarakat Indonesia di metro-DC yang tentunya dengan menggunakan (fasilitas) pegawai/diplomat KBRI untuk melakukan "dirty work" nya. Jangan heran kalau DPJ semakin gusar semakin hari.

Sudahlah DPJ, sekali lagi: sebaiknya anda pulang saja. Mungkin anda akan lebih bisa dihormati dan dihargai sebagai pemimpin yang mengalah demi menghindari kontroversi/konflik lebih lanjut? Apakah anda tetap yakin SBY akan berada dibelakang anda kalau ybs mengetahui semua pelanggaran yang anda lakukan?
Jimi Hendrix Experience
Alert a moderator
Added: April 27, 2011. 12:34 PM GMT
2010 Trafficking in Persons Report, DOS. DPJ, "maling teriak maling"
"DIPLOMATS AND DOMESTIC WORKERS

Worldwide, domestic workers employed by diplomats suffer abuses ranging from wage exploitation to trafficking offenses. Diplomats are government officials who serve their governments abroad and are generally able to apply for visas enabling domestic workers - often from third countries – to accompany them on their foreign assignments.

Because domestic servants working for diplomats work behind closed doors – cleaning, cooking, and caring for children – they can become invisible to the neighborhoods and communities they live in. Domestic workers brought into a country by diplomats face potentially greater isolation than other workers because of language and cultural barriers, ignorance of the law, and sheer distance from family and friends. They work for government officials who may appear to them to hold exceptional power and/or influence. The resulting invisibility and isolation of such workers raises concerns about the potential for diplomatic employers to ignore the terms of their employment contracts and to restrict their domestic workers’ freedom of movement and subject them to various abuses.

Because diplomats generally enjoy immunity from civil and criminal jurisdiction while on assignment, legal recourse and remedies available to domestic workers in their employ – and the criminal response otherwise available to the host government – are often significantly limited.

The U.S. government has undertaken a number of steps to reduce the vulnerability of domestic workers employed by diplomats to all aspects of labor exploitation, including trafficking offenses. ..."

Halaman 38 Trafficking in Persons, Edisi ke-10, Juni 2010.


"...There are cases of domestic workers, foreigners on A3 and G5
visas, being subjected to trafficking-related abuse by
diplomats posted to the United States..."

Halaman 338 dalam laporan Trafficking in Persons Report 2010, DOS.


Jimi Hendrix Experience
Jimi Hendrix Experience
Alert a moderator
Added: April 26, 2011. 08:48 PM GMT
New York juga perlu punya ...
Mungkin perlu juga NY punya organisasi semacam KBRI Watch ini. Padahal penduduk kita juga banyak disini. Kita bisa kerja sama dengan KBRI Watch kota-kota lain. KBRI Watch networking jadinya.

Ayo New Yorker...!
NY Guy
Alert a moderator
Added: April 26, 2011. 04:45 PM GMT
ada lagi Personal Assistant
Tadi pagi baca di FB, ada lagi yg muncul namanya Susan Simanungkalit, Personal Assistance di Wisma kalau tidak salah. So sekarang berapa total orang yang dibawa Dubes Dino dari Jakarta? Dibayar pribadi atau kas negara?
Sepertinya harus ada kejelasan siapa saja yang dibayar KBRI dan siapa saja yang dibayar pribadi.
Ratih
Alert a moderator
Added: April 26, 2011. 04:31 PM GMT
Hebat orang2 Washington DC
Salut sama orang2 Washington sono,
Seharusnya kita yg di West Coast ini juga harus bisa bikin organisasi seperti. apalagi warga kita banyak banget...
Juga di negara2 lain yg punya banyak warga Indonesia.
Selamat berjuang,...
harvey
Alert a moderator
Added: April 26, 2011. 05:34 AM GMT
Isunya mana yang mau diangkat?
Jika dilhat dari segi isi, press rilis KBRIwatch ini kebingungan. Sebenarnya mau mengangkat isu kaburnya 4 PRT atau mau ngungkit soal kekayaan DJP? Aneh.

'KBRIWatch' Watchdog
Alert a moderator
Added: April 25, 2011. 01:56 PM GMT
Mengaku salah dan minta maaf....
Sebetulnya ini urusan yg bisa dituntaskan jauh2 hari saat 3 orang yg pertama itu ngabur...anehnya 1 lagi juga ikutan ngabur...moga-moga yg sisanya 4 orang juga nggak ikut ngabur...atau siap-siap ngabur... Mengaku saja jika selama ini memperlakukan PRT nya kurang baik, sering marah, gaji kurang, pembayaran telat dll. Silahkan berbicara secara kekeluargaan dan terbuka dengan masyarakat setempat. Jangan masyarakat diluar dianggap sebagai warga kelas 2, atau kelas 3....atau nggak punya kelas malah.


Kalau dibaca pemberitaan dari awal, hal ini jadi rame ketika timbul dugaan KBRI tentang konspirasi, Makelar TKI, seseorang yg berminat sebagai event organizer dll





Mengaku saja salah, bicara secara terbuka. Hal ini malah akan menimbulkan banyak simpati. karena semua orang akan sadar bahwa diantara kita kita semua tidak ada yg sempurna
Rikee
Alert a moderator
Reverse Comment Order
  <<  <   1  |  2   >  >>
Google