AMERIKA /KBRI-KJRI
Pembantu Dubes Kabur, Muncul Tudingan Konspirasi
Rate This Article:
9
Credit - embassyofindonesia.org
KBRI Washington D.C.

Pembantu Dubes Kabur, Muncul Tudingan Konspirasi

NASIB Fasih Atun, 27, masih belum menentu. Ia tampak sembab dan tergolek lemas meratapi nasibnya. Wanita asal Demak, Jawa Tengah ini, menjadi perhatian masyarakat Washington DC setelah meninggalkan rumah kediaman Duta Besar RI di Tilden Street, Washington DC.

Kedubes langsung membentuk tim, mencari keberadaan wanita ini. Ia dikhawatirkan jatuh ke tangan oknum yang suka melakukan human trafficking. “Perhatian kita ke sana, menyelamatkan Fasih. Jika ditemukan KBRI siap memfasilitasinya, apakah mau berada di Amerika terus atau pulang,,’’ kata Kepala Bidang Penerangan KBRI Washington, Heru H Subolo, mewakili sang dubes.

Fasih adalah orang keempat yang meninggalkan rumah itu dalam satu bulan terakhir. Sebelumnya, ada tiga pembantu lainnya kabur dari rumah megah tersebut dengan alasan masing-masing. Keempat pembantu yang minggat dari kediaman dinas Duta Besar Dino Patti Djalal itu, adalah sebagian di antara delapan pembantu yang dibawa keluarga duta besar ini langsung dari Jakarta.

Raibnya empat pembantu itu, kontan menjadi sorotan masyarakat Indonesia di  Washington D.C.. ‘’Kami sungguh terkejut sebab ini pertama kali terjadi dalam waktu singkat empat pembantu rumah tangga keluarga duta besar, kabur. Tanpa bermaksud mengganggu kinerja Pak Dubes, kita sampaikan pertanyaan ini ke KBRI,’’ ujar Koordinator KBRI Watch Irwan Rosyadi.

Selain Fasih, pembantu yang meninggalkan rumah Dubes secara diam diam itu adalah Ina (wanita), serta dua lelaki Novian dan Bina. Kasus kaburnya pembantu asal Indonesia ini sebenarnya acap kali terjadi, khususnya mereka yang tak puas dengan gaji.

Masalah ini sebenarnya sederhana jika KBRI tidak kebakaran jenggot. Reaksi kritis dari KBRI Watch, ditanggapinya dengan tudingan adanya konspirasi menjatuhkan nama Dino, yang nota bene belum genap setahun berada di posnya.

‘’Kami mendengar gunjingan bahwa KBRI Watch dicurigai melakukan konspirasi politik untuk menjatuhkan Duta Besar, yang tentunya suatu tuduhan yang sangat-sangat menggelikan. KBRI Watch menilai bahwa tuduhan itu sengaja dilontarkan sebagai upaya untuk mendiskreditkan niat dan tujuan mulia KBRI Watch dalam melakukan pengawasan terhadap kinerja KBRI dan kantor perwakilan RI di Amerika Serikat,’’ kata Irwan.

Pihak KBRI dan KBRI Watch sudah menggelar pertemuan di lantai tiga gedung kedutaan, pekan lalu. Sayangnya, pertemuan itu diwarnai dengan sikap over acting seorang  iplomat. Diplomat ini adalah Yusron B. Ambary, sekretaris II bidang konsuler yang menyela dengan kata-kata tidak mencermikan seorang diplomat. Ia terang-terangan mengatakan, KBRI siap “menempuh segala cara” untuk menemukan para pembantu yang kabur itu.  Bahkan, kata diplomat ini, kalau perlu KBRI siap “ancur-ancuran” untuk menemukan mereka yang kabur, khususnya Fasih yang sudah lebih tujuh tahun ikut Dino.

Ancur-ancuran yang dimaksud adalah menemukan dalang, pembujuk dan siapa yang membantu kabur sang pembantu, terutama Fasih. Pihak KBRI merasa belum perlu melaporkan ke polisi setempat karena belum melanggar hukum. Implikasinya sangat luas jika sampai lapor ke polisi, karena khawatir dijerat pasal human trafficking jika yang mengajak kabur ditemukan. Jika itu terjadi, maka nama Dino pun sebagai majikan akan terkait meski tidak terlibat.

Karena itu, kata Yusron, hanya tiga pembantu saja yang dilaporkan ke pemerintah AS melalui Department of State –Deplu nya AS. Ketiganya sebenarmya adalah tenaga professional yakni kepala chef dan anak buahnya. Laporan pun didasarkan pada kontrak kerja yang mereka langgar, sedangkan Fasih –sang baby sitter—masih dicari rimbanya.

Ketiga staf lainnya yang kabur, dua di antaranya pernah bekerja di hotel ternama di Jakarta. ‘’Mereka memang professional, dan sudah menunjukkan tanda-tanda ingin kabur,’’ kata seorang staf KBRI lainnya.

Pasaran gaji pembantu (baby sitter) di Washington DC, bisa mencapai 400 dolar per minggu, lima hari kerja. Itu sebabnya, banyak tenaga kerja wanita asal Indonesia yang kabur, khususnya yang diajak oleh majikan mereka yang berasal dari luar.

‘’Kalau ikut majikan Arab, lebih parah, bisa hanya 200 dolar per bulan,’’ kata Marfu, asal Ponorogo, yang sudah delapan tahun menetap di Maryland. Fasih sendiri, sebenarnya digaji lebih tinggi, yakni 500 dolar per bulan. ‘’Sebenarnya bukan masalah gaji. Saya digaji berapa saja tidak masalah, asal saya diorangkan,’’ tutur Fasih lugu.

Dari empat orang yang kabur, hanya Fasih yang terlacak. Ia sementara ditampung oleh warga negara Indonesia yang bersimpati kepadanya. ‘’Soal pekerjaan tidak ada masalah, meskipun di sini saya ketambahan beban, tidak lagi hanya mengasuh anak tetapi juga menyiapkan pakaian ibu,’’ ujarnya.

Ia diam-diam meninggalkan Wisma Duta Tilden setelah ditolong oleh seorang warga negara Pakistan. Ia enggan menyebut perlakuan majikannya, yang menyebabkan dia kabur. ‘’Ya, nggak ada pengertian saja. Bapak lebih sering marah-marah di sini, anak tidak segera naik ke mobil, saya yang dimarahi, ibu terlambat berangkat mendampingi bapak, saya juga dimarahi bapak,’’ kata Fasih, yang sebelumnya sudah lebih tujuh tahun ikut keluarga Dino di Jakarta.

Fasih adalah tenaga kerja berpengalaman. Ia sebelumnya telah bekerja sebagai pembantu rumah tangga setelah bergabung dengan Yayasan Mitra Bunda. Saat di Jakarta, ia sudah mendapat gaji Rp 1,4 juta per bulan dengan uang cuti Rp 140.000 per dua hari setiap bulannya.

‘’Ketika di Jakarta, saya hanya mengurus anak saja,’’ tambah wanita asal desa Wonosalam Demak ini. Ia sebelumnya sudah pernah bekerja di Bogor satu tahun, dan di Jakarta, Kedoya 3 tahun serta Mangga Dua 2,5 tahun.
‘’Jadi saya punya pengalaman ikut majikan cukup lama, karena saya tidak  memperhitungkan gaji, asal cukup,’’ katanya, menjelaskan bahwa kekaburannya dari rumah Dubes bukan karena gaji. ‘’Ada perlakuan berbeda saja dibanding di Jakarta,’’ kata istri Suaeb, tukang mebel di Kalideres Jakarta ini. Menurut dia, dirinya sudah menceritakan semua yang dialaminya ke suaminya tersebut. ‘’Suami saya bilang, ya jangan dipaksakan kalau tidak kerasan,’’ katanya, menirukan ucapan suaminya yang berasal dari Pati itu.

Setelah meninggalkan wisma Duta, ia berencana mencari kerja di Washington dan sekitarnya. ‘’Saya pengen bekerja, dan menabung,’’ kata sulung dengan tiga adik yang masih memerlukan bantuannya itu. KBRI Watch pun siap membantu mencari Fasih. Tetapi, sebagaimana disampaikan Heru Subolo, kejadian ini sebenarnya adalah “permasalahan internal” antara Duta Besar dan pembantunya yang terikat kontrak.

Namun, KBRI Watch bersikukuh persoalan ini tidak lagi persoalan internal keluarga Dubes. Dengan delapan pembantu, plus dua orang yang sudah ada sebelumnya, KBRI Watch menyampaikan, dengan uang apa mereka digaji.

Pihak KBRI Watch menanyakan apakah benar pihak KBRI hanya membayar dua staf rumah tangganya itu dengan dana pemerintah (APBN). Sebab, menurut perhitungan setidaknya ada 10 orang, ditambah seorang sopir yang bekerja untuk keluarga Duta Besar.

Menurut KBRI Watch, seorang Duta Besar RI hanya mendapat jatah anggaran untuk tiga orang, sedangkan Wakil Dubes atau DCM (Deputy Chief of Mission) dua orang.
Dalam pertemuan itu pun, KBRI mengatakan bahwa urusan staf rumah tangga lainnya yang di luar tanggungan KBRI, dan itu urusan internal Duta Besar.

‘’Menurut perhitungan kami, jumlah gaji staf di luar tanggungan KBRI bisa mencapai sekitar 5.000 dolar per bulan,’’ kata Irwan.  Jumlah ini, menurut dia, cukup besar, meskipun itu ditanggung oleh seorang Duta Besar sekalipun. Pejabat selevel Menteri di AS pun, tidak mempunyai staf rumah tangga sebanyak itu. ‘’Apalagi seorang Duta Besar dari negara berkembang seperti Indonesia yang anggarannya tentu serba terbatas. Ini pula yang menjadi pengaduan dan keluhan anggota masyarakat yang masuk kepada KBRI Watch,’’ tegas Irwan, yang belum lama ini ditolak masuk ke acara pesta di kediaman dinas Dubes.

Lalu, berapa gaji seorang Dubes sendiri pada perwakilan sekelas AS? ‘’Untuk itu, tanya langsung saja ke Departemen Keuangan,’’ kilah Heru Subolo.

(B. Indra Kusumawanto, wartawan Jurnal Nasional di Washington DC)

Untuk share artikel ini klik www.KabariNews.com/?36623

Untuk Melihat artikel Amerika / KBRI-KJRI lainnya, Klik disini

Mohon beri nilai dan komentar di bawah artikel ini

______________________________________________________

Supported by :






Related Articles
KBRI Watch Press Release: Kaburnya 4 Orang Staf Rumah Tangga Wisma Dubes RI
KLARIFIKASI KBRI WASHINGTON DC TERHADAP PRESS RELEASE "KBRI WATCH"
 
 
 
Post A Comment
* Indicates required information
Comment Title:
* Comments:
Nickname:
* Validation:
21 comments for this article Reverse Comment Order
  <<  <   1  |  2  |  3   >  >>
Added: April 28, 2011. 12:26 AM GMT
Himbauan Bagi Mantan Staff Wisma Dubes (Tilden)
HIMBAUAN BAGI 4 MANTAN STAF DUBES DPJ













HIMBAUAN BAGI 4 MANTAN STAF DPJ






Sekali lagi, hubungi SEGERA Polaris Project (www.polarisproject.org). Nomor tilpon HOTLINE mereka untuk pengaduan:













1-888-3737-888













Alamat mereka adalah :













P.O. Box 53315






Washington, D.C. 20009






Tel: 202-745-1001






Fax: 202-745-1119






Email: info@polarisproject.org













Mohon jangan ditunda! Good luck. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi anda sekalian.













Jimi Hendrix Experience




















iis
Alert a moderator
Added: April 27, 2011. 11:35 PM GMT
Contoh Salah Satu Pro/Pendukung DPJ
Saya sama sekali tidak paham apa maksud anda. Apa hubungannya "'SANG RAJA' MERIANG-MERINDUKAN KASIH SAYANG" dengan "TERLALU 'PAGI' MENYIMPULKAN KABUR PEMBANTU INDONESIA DI KBRI ITU KARENA TERKAIT KASUS 'HUMAN TRAFFICKING IN PERSON' DI AMERIKA SERIKAT"?

Pertanyaan saya, apakah anda sudah membaca semua referensi yang saya cantumkan? Kalau sudah, apakah anda memahami apa yang anda baca? Mohon dibaca kembali pelan-pelan agar lebih mudah memahaminya.

Kesimpulan saya didukung oleh laporan resmi Pemerintah AS yang saya cantumkan. Bukan asal tuduh tanpa bukti/dasar. Kalau mau nyanggah, mohon d/h berikan sanggahan yang agak relevan, masuk akal dan mudah dimengerti. Baru kita bisa berdebat dengan beradab dan terbuka.

Pak DPJ Yth.: kalau nyuruh kaki-tangan jangan yang kaya begini dong! Ga ada yang lebih berbobot Pak? I thought you're smarter than this. Why don't you do you own dirty laundry?

By the way: ELO YG GILA! Bukan gw!
Jimi Hendrix Experience
Alert a moderator
Added: April 27, 2011. 03:11 PM GMT
English Version
Maybe you want to read it.
It is not perfect, but at lease you can understand about this artikel:

Maid Ambassador Escape, Conspiracy Allegations Appear

Fasih Atun, 27, is still uncertain. He looked puffy and lay limp lament his fate. Women from Demak, Central Java, a Washington DC public attention after leaving the Ambassador's residence on Tilden Street, Washington DC.
Embassy immediately formed a team, look for the existence of this woman. She feared falling into the hands of persons who like to make human trafficking. "Our attention to it, save Fasih. If found the Embassy is ready to facilitate it, whether to be in the U.S. continue or go home,,' said Chief of Information Division Embassy in Washington, Heru H Subolo, representing the ambassador.
Fasih is the fourth person who left the house in the past month. Previously, there were three other maids run away from the mansion on the grounds of each. The four maids who run away from the official residence of Ambassador Dino Patti Djalal, it is part of the eight maids who brought this family ambassador from Jakarta.
Disappearance of four helpers, the cash into the spotlight the people of Indonesia in Washington DC. 'We were really surprised because this is the first time this has happened in a short time the family housekeeper four ambassadors, blurred. Without intending to interfere with the performance of Mr. Ambassador, we submit this question to the embassy,' said the KBRI Watch Coordinator Irwan Rosyadi.
Fasih In addition, servants who left the ambassador's house in a quiet silence that is Ina (women), and two men Novian and Community Development. The case of Indonesian maids escaping this fact often occur, particularly those who are not satisfied with the salary.

This problem is actually simple if effort is full of anger. Critical reaction from the Embassy Watch was responded with allegations of conspiracy dropped the name Dino, the postscript is not even a year in his post.
'We heard rumors that the KBRI Watch suspicion of political conspiracy to topple the Ambassador, of course, an accusation that a very, very funny. KBRI Watch judge that the allegations were deliberately posed in an attempt to discredit the intentions and noble goals KBRI Watch in controlling the performance of Indonesian Embassy and representative offices in the United States,' said Irwan.

Indonesian Embassy and KBRI Watch Party had held a meeting on the third floor of the embassy building last week. Unfortunately, the meeting was marred by an attitude of over acting 1 Diplomat. This diplomat is Yusron B. Ambary, secretary II, which interrupted the consular field with the words did not reflect a diplomat. He openly said, the embassy is ready to "take all means" to find the maid who escaped it. In fact, this diplomat said, if necessary, the Embassy is ready to "ancur-ancuran" to find those who fled, especially Fluency is already more than seven years of follow Dino.
Ancur-ancuran in question is to find the mastermind, seducer and who is helping run away the helpers, especially Fasih. Embassy party feels no need to report to local police because they have not violated the law. The implication is very knowledgeable when it comes to report to the police, for fear that snared article human trafficking if the invite blurred found. If that happens, then the name Dino also as an employer will be relevant though not involved.

Therefore, said Yusron, only three helpers who were reported to the U.S. government through the Department of State, his U.S. State Department. All three professionals namely , actually they are head chef and his men. The report was based on employment contracts that they violated, while the baby sitter-Fasih-still unknown.
The three other staff who escaped, two of whom had worked in leading hotels in Jakarta. 'They were professional, and already showing signs of wanting to run away,' said one other embassy staff.
Market salary helper (baby sitter) in Washington DC, could reach 400 dollars per week, five working days. That is why, many women workers who run away from Indonesia, especially those taken by their employers from outside.
'If you follow the Arab employer, worse, can only 200 dollars per month,' said Mahfud, from Roxburgh, who has eight years of living in Maryland. Fasih own, actually earn higher at 500 dollars per month. Actually not a problem' salary. I paid how much it does not matter, as long as I was not diorangkan,' (appreciated) said Fasih innocent.
Of the four people who escaped, only the traced Fasih. He was temporarily accommodated by an Indonesian citizen who was sympathetic to him. About ‘job’ she had no problem, although here the duties were increase, not only parenting but also prepares mothers clothes,' he said.
He quietly left Ambassador Residence at Tilden after being helped by a Pakistani citizen. He was reluctant to call her employer treatment, which caused him to flee. 'Yes, there's no sense alone. Dad more often angry here, the child does not immediately go up to the car, who scolded me, mother father accompany late start, I was also scolded the father,' said Fasih, which had previously been over seven years in Jakarta join Dino family.
Fasih is an experienced workforce. She previously has worked as a housekeeper after joining the Partner Foundation Mother. While in Jakarta, he has received salary of Rp 1.4 million per month with money off USD $ 140,000 as of two days each month.
'When in Jakarta, I was just taking care of children by myself,' added a woman from the village of Demak Wonosalam this. He has previously worked in Bogor a year, and in Jakarta, Kedoya Mangga Dua 3 years and 2.5 years.
'So I have a long experience of employers participate, because I do not take into account salary, provided that enough,' she said, explaining that her escaping of the Ambassador's house not because of salary. 'There are different treatment than in Jakarta,'said wife of Suaeb, craftsman furniture in Kalideres Jakarta. According to him, he had told all that happened to her husband is. 'My husband told me, yes not be forced if not at home,'he said, imitating the speech her husband who came from Pati's.
After leaving the guest house Ambassador, he plans to find work in Washington and surrounding areas. 'I want to work, and saving,' said the eldest of three sisters who still need his help it. KBRI also ready to help look for Fasih. But, as stated Heru Subolo, this event is actually the "internal problems" between the Ambassador and aides are under contract.

However, the Embassy insisted KBRI Watch this question is no longer the internal problems Ambassador family. With eight helpers, plus two pre-existing person, the KBRI Watch convey, with what money they paid.

KBRI Watch party asked whether the Embassy only pay two household staff it with government funds (APBN). Because, according to calculation there are at least 10 people, plus a driver who worked for the family of Ambassador.
According to the Embassy Watch, an Ambassador only gets a small budget for three people, while Deputy Ambassador or DCM (deputy chief of mission) two people.
In the meeting it was, the embassy said that the affairs of other household staff outside the embassy dependents, and that the internal affairs of the ambassador.
'According to our calculations, the number of staff salaries outside the embassy dependents could reach around 5,000 dollars per month,' said Irwan. This amount, according to him, quite large, although it is covered by an ambassador though. Officials at the level of minister in the U.S. too, do not have a household staff that much. Moreover, 'an ambassador from a developing country like Indonesia that its budget of course limited. This is also the result of complaints and grievances of community members who came to the KBRI Watch,' firmly Irwan, who recently denied entry to the party at the official residence of the Ambassador.
Then, what is the salary of a class representative Ambassador to the U.S. itself? 'For that, ask directly to the Ministry of Finance,' argues Heru Subolo.

(B. Indra Kusumawanto, National Journal reporter in Washington, DC)
To share this article click www.KabariNews.com/?36623

Hanigan
Alert a moderator
Added: April 27, 2011. 08:41 AM GMT
MERIANG=MERINDUKAN KASIH SAYANG
SANGAT MUSTAHIL PEMBANTU KABUR DARI KBRI WASHINGTON DC TANPA SEBAB MUSABAB YANG JELAS. TEMUKAN SOLUSI YANG ARIF DAN BIJAKSANA UNTUK MENGEMBALIKAN PEMBANTU MINGGAT DARI TEMPAT KERJA. DOLAR AMERIKA TENTU BUKAN MENJADI UKURAN MANUSIA UNTUK DIPERLAKUKAN SEBAGAI MANUSIA YANG BERADAB DAN BERBUDI. JANGANKAN PEMBANTU, "SANG RAJA" SAJA MERINDUKAN KASIH SAYANG ALIAS "SANG RAJA" MERIANG=MERINDUKAN KASIH SAYANG. JADI TERLALU "PAGI" MENYIMPULKAN KABUR PEMBANTU INDONESIA DI KBRI ITU KARENA TERKAIT KASUS "HUMAN TRAFFICKING IN PERSON" DI AMERIKA SERIKAT.
GILE LOH!
Alert a moderator
Added: April 27, 2011. 08:41 AM GMT
MERIANG=MERINDUKAN KASIH SAYANG
SANGAT MUSTAHIL PEMBANTU KABUR DARI KBRI WASHINGTON DC TANPA SEBAB MUSABAB YANG JELAS. TEMUKAN SOLUSI YANG ARIF DAN BIJAKSANA UNTUK MENGEMBALIKAN PEMBANTU MINGGAT DARI TEMPAT KERJA. DOLAR AMERIKA TENTU BUKAN MENJADI UKURAN MANUSIA UNTUK DIPERLAKUKAN SEBAGAI MANUSIA YANG BERADAB DAN BERBUDI. JANGANKAN PEMBANTU, "SANG RAJA" SAJA MERINDUKAN KASIH SAYANG ALIAS "SANG RAJA" MERIANG=MERINDUKAN KASIH SAYANG. JADI TERLALU "PAGI" MENYIMPULKAN KABUR PEMBANTU INDONESIA DI KBRI ITU KARENA TERKAIT KASUS "HUMAN TRAFFICKING IN PERSON" DI AMERIKA SERIKAT.
GILE LOH!
Alert a moderator
Added: April 26, 2011. 11:37 AM GMT
beresiko besar jika ditangani Pemerintah setempat
Jika hal ini ditangani Pemerintah AS, hal ini akan beresiko besar. Karena tak luput dari media dan LSM akan bergerak untuk mendesak orang-orang di Konggres. Isunya nanti macam: Perbudakan, abuse, perlindungan wanita dll>

Sangat menarik untuk dibaca komentar ini:



"Nannygate"



Dubes DPJ kelihatannya serba salah langkah dan salah tingkah dalam menghadapi berbagai argumentasi KW. Berbagai poin dalam press release KBRI tanggal 19 April 2011 mengindikasikan keadaan terdesak yang mengabaikan aturan hukum berlaku (antara lain UU 4/2008 atau Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara) dan menunjukkan upaya emosional untuk membersihkan nama baik dengan mengada-ada isyu "conflict of interest" maupun memutarbalikan isyu "human traficking" yang secara umum berupaya menjatuhkan kredebilitas KW.







Jaman sekarang, isyu gaji pegawai RT Dubes RI di Washington, D.C. BUKAN lagi merupakan masalah internal keluarga sebagaimana diungkapkan dalam press release KBRI tersebut, apalagi staf yang berjumlah 7 orang ini ditanggung secara pribadi diluar anggaran resmi KBRI. Dubes DPJ semakin lengah dengan realita dan berusaha mengabaikan kenyataan bahwa sebagai pejabat tinggi RI yang digaji oleh uang rakyat maka ybs harus bersedia memberikan Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara seperti halnya Presiden SBY tahun lalu. Sebagai Dubes RI (yang berkuasa pelnuh bla-bla-bla) tentunya diharapkan pula untuk mematuhi segala hukum yang berlaku (termasuk hukum AS) dalam upayanya mendatangkan 7 staf extra ke Wisma Tilden di Washington, D.C.







Dalam peraturan Department of State menyangkut visa A3 (lihat http://travel.state.gov/visa/temp/types/types_2637.html#visaprocessing) dituliskan beberapa persyaratan yang termasuk pembuktian kesanggupan majikan dalam bentuk kontrak kerja untuk menanggung upah stafnya sesuai ketetapan upah minimal Departement of Labor di AS. Pada kenyataannya pada tahun 2010 Dubes DPJ telah berhasil mendatangkan ketujuh staf tambahan ke AS yang berarti pula telah berhasil memenuhi dan membuktikan kepada Kedutaan Besar AS di Jakarta segala persyaratan yang ditetapkan.







Bila diperhitungkan (tanpa menghitung ongkos asuransi kesehatan yang diwajibkan sebagai employer dan hanya menggunakan nilai upah minimal $1500/bulan sebagaimana menurut KW) maka Dubes DPJ dalam kontraknya telah menyatakan kesanggupan untuk menanggung total biaya setidaknya sebesar $10500/bulan ($1500 X 7) hanya untuk pengeluaran upah staf RT. Apakah saat ini Dubes DPJ saat ini dapat mengklarifikasi angka-angka ini sesuai dengan dokumen yang telah diajukan ke Kedutaan Besar AS di jakarta? Bila hal ini tidak ada masalah, maka DPJ semestinya dapat dengan mudah membuktikan kesanggupannya dangan menunjukkan jumlah penghasilannya dan kontrak yang diajukan ke Kedutaan Besar RI di Jakarta.







Kalau ybs saat ini tidak dapat membuktikannya, maka berarti bahwa ybs telah menyalahi hukum AS dengan memalsukan angka-angka gaji dalam kontrak yang disampaikan ke Kedutaan Besar AS di Jakarta. Bila memang demikian halnya, apakah ini bukan salah satu bentuk "human traficking" yang dikelola oleh seorang pejabat tinggi RI? Dalam laporan tahunan 2010 Trafficking in Person yang dibuat oleh Department of State, khususnya di dalam negeri AS sendiri, dikatakan bahwa salah satu kasus yang menjadi permasalahan menyangkut pemberian visa A-3 yang diajukan oleh diplomat asing yang sedang ditugaskan di AS (lihat http://www.state.gov/documents/organization/142984.pdf halaman 338). Walaupun Indonesia tidak disebutkan sebagai salah satu negara utama yang menimbulkan masalah tersebut namun pola atau pattern penyelewengan yang serupa dapat diamati dalam laporan tersebut.







Mantan Dubes Dorodjatun dulu pernah bilang bahwa KBRI Washington, D.C. adalah panggung atau arena paling bergengsi yang dapat melonjakkan atau menjebloskan karir seorang pejabat Pemri. Belum setahun ditempatkan di Washington, D.C., DPJ sudah terkena isyu memalukan menyangkut RTnya. Bayangkan, Menlu Marty sudah diminta penjelasan oleh DPR dalam rapat komisi yang akan datang. Menurut TempoInteraktif.com, BBC telah mentayangkan berita ini. Jangan bermimpi kalau Pemerintah AS, baik di White House, Department of Justice atau Department of State seolah tidak tahu menahu sama sekali soal masalah ini (masih ingat tugas umum National Security Agency?). Masalah ini sudah jelas memalukan Pemri dan mengganggu kinerja Dubes DPJ yang katanya terlalu sibuk dengan misi besar RI-AS namun sempat-sempatnya meng-update twitter accountnya menyangkut 4 staf RTnya yang kabur.







Apakah dia kurang pandai, kurang pengalaman, kurang sigap atau apa yah? Setahu saya ybs berpendidikan jauh lebih tinggi dari sebagian besar pejabat RI di Indonesia, termasuk RI-1 sendiri. Atau dia sebenarnya lebih handal sebagai selebritis daripada pejabat tinggi yang efektif? Tau ah, gelap! Masa bodo ah!



Jimi Hendrix Experience

Nanny yg Baik
Alert a moderator
Added: April 25, 2011. 04:10 PM GMT
KBRI dan KBRI Watch
Sebetulnya ini adalah bersitegangnya antara 2 intansi yg berbeda, KBRI Washington DC dan KBRI Watch Washington DC.
Adalah suatu yg kurang etis di negeri ini atau di Eropa, dimana kita harus mengungkit2 secara personal orang-orang yang ada didalamnya, sangat tidak etis. Kita yakin bahwa, orang-orang yg sedikit peduli dan bergabung di KBRI Watch itu juga seperti kita, berkeluarga dan mencari nafkah di negeri ini.
Mohon kepala kita tetap dingin diantara kita sesama para pencari nafkah di negeri ini, jangan saling menjatuhkan
Lain dengan posisi Dino, disini dia sebagai Dubes, Pejabat Publik yg dipercaya melindungi warganya. Dino ini digaji dengan uang dan fasilitas negara. Patut dia memberikan penjelasan secara jujur dan terbuka tentang apa yang sudah diperbuatnya terhadap PRT itu, secara pribadi. Tidak ada yg sempurna, andaikata Dino mengaku salah dan mau minta maaf ... selanjutnya semua bisa dituntaskan secara kekeluargaan... ini akan membuat orang akan sangat bersimpati.
martabat bangsa
Alert a moderator
Added: April 25, 2011. 03:53 PM GMT
Terjemahakan ke Bahasa Inggris
Soal ini patut di terjemahkan ke bahasa Inggris terus di kirim ke seluruh dunia termasuk pemerintah, press, NGO, United Nation. Mungkin dengan bahasa Indonesia , KBRI tidak perlu takut karena sudah cukup backingnya dengan Pemerintah Indonesia SBY. Mungkin ada yang bisa terjemahkan untuk KBRI Watch?
3rd class citizen smart idea
Alert a moderator
Added: April 25, 2011. 02:23 PM GMT
Koq sampai ke negeri Belanda
Wah, isu ngaburnya 4 pembantu ini lumayan rame di bicarakan di masyarakat Indonesia di Belanda, sudah dimuat di Radio Netherland . Sepertinya di Belanda juga perlu punya organisasi semacam ini yg mengawasi kinerja KBRI Den Haag dan KJRI-nya.
Tidak cuma di Belanda saja, mungkin negara-negara lain yang banyak warga negara indonesia-nya.
Orang-orang kita di AS hebat-hebat kita patut banyak belajar dari mereka.
2nd Class Citizen
Alert a moderator
Added: April 25, 2011. 02:16 PM GMT
Salut kepada saudara Indra dan Kabari News
Saudara Indra, Wartawan Jurnas, perlu juga saya mengetahui. Mengapa kasus ini malah tidak diberitakan oleh redaksi anda sendiri? Saya yakin bahwa anda sebagai jurnalis pasti akan mengirim laporan/artikel ke induk redaksinya dulu (Jurnas) ya? Mungkin karena ini berkaitan dengan isu internal orang-orang di kepemerintahan. Jurnas akan disemprot oleh SBY kalo berani-berani memberitakan kasus pak Dino yg kontroversial seperti ini.

Bagaimanapun salut buat saudara Indra dan Kabari News yg sudah berani memuat berita ini.

Sesama Jurnalis
Ropez
Alert a moderator
Reverse Comment Order
  <<  <   1  |  2  |  3   >  >>
Google