AMERIKA /KBRI-KJRI
KBRI Watch Press Release: Kaburnya 4 Orang Staf Rumah Tangga Wisma Dubes RI
Rate This Article:
5
Credit - embassyofindonesia.org
KBRI Indonesia
Dari Hasil Pertemuan dengan pihak KBRI Washington membahas Kaburnya 4 Orang Staf Rumah Tangga Wisma Dubes RI


Bersama ini kami dari organisasi KBRI Watch mengeluarkan press release atas hasil pertemuan kami dengan tiga orang diplomat KBRI – dipimpin Kepala Bidang Penerangan Heru Subolo -- yang ditunjuk untuk mewakili Duta Besar LBBP Republik Indonesia di Amerika, Dr. Dino Patti Djalal.

Pertemuan aktivis KBRI Watch dan pihak KBRI dilaksanakan hari Rabu malam (13/4) di KBRI Washington DC, guna membahas concerns dan pengaduan anggota masyarakat Indonesia di Washington DC area, utamanya terkait “kabur”-nya empat orang staf rumah tangga di Wisma Duta Besar Indonesia di Washington, DC.

Dengan masuknya pengaduan dan laporan masyarakat melalui e-mail KBRI Watch atas “hilang”nya empat orang staf RT di Wisma Dubes tersebut, kelompok KBRI Watch telah mengirimkan surat resmi kepada KBRI (cq Duta Besar) tertanggal 10 April meminta penjelasan perihal kasus larinya para Staf RT tersebut. Surat tersebut juga kami lampirkan setelah press release ini.

Dari pertemuan ini, kami mendapatkan beberapa penjelasan sebagai berikut:

(1) Pihak KBRI menyesalkan kenapa berita ini lebih dahulu “bocor” kepada media, sehingga membuat permasalahannya menjadi lebih kompleks. Kami dari KBRI Watch menjawab bahwa dengan adanya keterbukaan informasi melalui Facebook dan sebagainya sangat sulit untuk menutupi informasi yang sudah menyebar di kalangan masyarakat. Kami dari KBRI Watch dan KBRI sepakat bahwa di masa depan perlu dibangun komunikasi yang lebih baik dan konstruktif, meski kedua pihak tetap berbeda pandangan mengenai fungsi dan peran masing-masing. KBRI Watch menegaskan bahwa kami tetap akan menjadi mitra kritis KBRI, dan menjadi “penyambung lidah” adanya laporan dan pengaduan oleh masyarakat, seperti yang terjadi dengan kaburnya staf RT di Wisma Dubes.

(2) Pihak KBRI dan KBRI Watch sependapat bahwa masalah keselamatan Staf RT yang kabur

Wisma Dubes harus menjadi concern seluruh anggota masyarakat Indonesia, karena
banyak kasus para staf yang lari akhirnya menjadi korban human trafficking.

Seorang diplomat dari bidang konsuler juga memberi informasi bahwa kasus 3 (tiga)
staf rumah tangga yang kabur sebelumnya sudah dilaporkan ke pemerintah AS melalui
Department of State karena mereka dianggap menyalahi kontrak, sedangkan staf rumah
tangga ke-4 yang terakhir kabur (yang bekerja sebagai babby sitter) masih terus dicari.
Menurut diplomat ini ke-3 staf RT wisma Dubes yang kabur lebih dahulu paspornya juga
telah dicabut (di-revoke) oleh pihak KBRI.

Untuk staf RT yang ke-4 yang kabur terakhir, diplomat bidang konsuler ini juga
menegaskan bahwa KBRI siap “menempuh segala cara” untuk menemukannya. Ini karena si baby sitter ini kabarnya sudah cukup lama ikut keluarga Dubes Dino Djalal (lebih dari tujuh tahun). Bahkan kata diplomat ini: Kalau perlu KBRI siap “ancur-ancuran” untuk menemukan staf yang satu ini. KBRI Watch sendiri terkejut dan sangat menyesalkan dalam pertemuan resmi ini seharusnya tidak perlu dikeluarkan pernyataan yang sifatnya mengancam atau menunjukkan sikap emosional, karena kami yakin ucapan diplomat tersebut pasti tidak mencerminkan kebijakan yang dilakukan atau yang akan ditempuh KBRI selaku perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri.

(3) Selanjutnya, pihak KBRI tetap berpandangan bahwa permasalahan staf rumah tangga
di Wisma Tilden adalah “permasalahan internal” antara Duta Besar dengan Staf yang
bersangkutan, karena sebelum berangkat mereka para Staf RT itu sudah menandatangani
kontrak kerja (Note: seluruhnya ada 8 orang staf yang dibawa Duta Besar Dino Djalal dari Indonesia) ditambah setidaknya dua staf lama di Wisma Tilden dan pengemudi/sopir yang juga disediakan KBRI.

KBRI Watch mengemukakan concern bahwa persoalan ini tidak lagi “hanya” menjadi
persoalan internal keluarga Dubes, bila masyarakat sudah menanyakan dan melaporkan
pengaduan mengenai mengapa jumlah staf rumah tangga yang dibawa terlalu besar, dari
mana mereka digaji, dan bahkan menanyakan kenapa sampai para Staf RT itu sampai
mengambil resiko “melarikan diri” dari majikannya? Apakah ada perlakuan yang kurang
semestinya atau gaji yang terlalu rendah? Tentu semua pertanyaan ini tidak terjawab karena pihak KBRI bersikukuh bahwa ini adalah permasalah internal.

(4) Pihak KBRI Watch menanyakan apakah benar pihak KBRI hanya membayar 2 (dua) staf RT dengan dana anggaran (APBN), karena menurut perhitungan kami setidaknya ada 10 orang, ditambah seorang sopir yang bekerja untuk keluarga Duta Besar. KBRI Watch menerima informasi ini dari salah seorang diplomat senior, namun seorang diplomat dalam pertemuan menyatakan bahwa jatah staf RT seorang Duta Besar RI adalah 3 (tiga) orang, sedangkan 2 (dua) orang adalah untuk Wakil Dubes atau DCM (Deputy Chief of Mission). Pihak KBRI mengatakan bahwa urusan Staf RT lainnya yang di luar tanggungan KBRI adalah urusan Kami dari KBRI Watch sempat mengemukakan concern apakah dengan jumlah staf RT yang terlalu banyak, yang di luar tanggungan negara, penggajian para staf RT dari dana pribadi Duta Besar itu tidak memberatkan keluarga Duta Besar?

Menurut perhitungan kasar kami, penggajian staf yang di luar tanggungan KBRI bisa
memakan biaya sekitar 5.000 dolar AS lebih per bulan, yang tentunya harus ditanggung dari kantong pribadi keluarga Duta Besar. Jumlah ini menurut pandangan kami merupakan suatu jumlah pengeluaran yang cukup besar, meskipun itu ditanggung oleh seorang Duta Besar sekalipun, sehingga jarang kami temui pejabat selevel Menteri di AS yang mempunyai staf RT sebanyak itu. Apalagi seorang Duta Besar dari negara berkembang seperti Indonesia yang anggarannya tentu serba terbatas. Ini pula yang menjadi pengaduan dan keluhan anggota masyarakat yang masuk kepada KBRI Watch.

Oleh karena itu, KBRI Watch juga sempat menanyakan seberapa besar gaji (tunjangan) yang diterima Duta Besar per bulan sehingga mampu membiayai semua staf RT itu?
Pertanyaan ini tidak terjawab dan KW diminta langsung menanyakan ke Departemen
Keuangan yang mempunyai daftar gaji/tunjangan Duta Besar/Kepala Perwakilan Luar
Negeri. Mengenai kekawatiran KW soal gaji sedikitnya 6 (enam) staf rumah tangga di
Tilden, sekali lagi menurut KBRI itu – sekali lagi -- adalah persoalan internal keluarga Duta Besar, dan bukan persoalan masyarakat.

(6) Terakhir mengenai pembiayaan bagi kegiatan/program KBRI, khususnya acara pemecahan rekor Guinnes Book dengan 5.000 angklung, menurut KBRI memang bisa saja KBRI mencari sponsor untuk membiayai program/kegiatan itu, namun perlu diketahui bahwa pemasukan dari sponsor tidak bisa masuk ke kas KBRI namun harus dikelola oleh organisasi atau badan hokum di Amerika yang ditunjuk menjadi pelaksana atau koordinator program/ kegiatan tersebut. Dan ini memang sering dilakukan KBRI mengingat anggaran program yang disediakan APBN tidak cukup banyak untuk membiayai seluruh kegiatan/program, khususnya yang terkait promosi budaya, di Amerika Serikat.

Demikian press release dari KBRI Watch terkait laporan dan pengaduan masyarakat mengenai kaburnya Staf RT di Wisma Dubes. Memang masih banyak perbedaan pandang KBRI Watch yang menjalankan hak kami sebagai warganegara untuk meminta transparansi informasi badan publik, dengan pihak KBRI sebagai lembaga publik. Menurut KBRI, belum semua lembaga publik atau pejabat publik sudah siap dengan penerapan UU 14/2008 mengenai keterbukaan informasi publik terutama mengenai mekanismenya seperti apa.

Pada intinya KBRI Watch tetap berpendapat bahwa meminta informasi dari badan dan pejabat publik (yang bukan bersifat rahasia negara) adalah hak setiap warganegara, yang harus dihargai dalam rangka ikut melakukan pengawasan atas kinerja badan publik dan pengawasan atas penggunaan anggaran negara.

KBRI Watch juga menegaskan agar sikap kritis KBRI Watch terhadap KBRI sebagai lembaga atau pejabat KBRI jangan ditafsirkan sebagai sikap untuk menjatuhkan dan dinilai dari sudut pandang negatif. Kami mendengar kabar burung (desas-desus) bahwa KBRI Watch dicurigai melakukan “konspirasi politik” untuk menjatuhkan Duta Besar, yang tentunya suatu tuduhan yang sangat-sangat menggelikan. Kami dari KBRI Watch menilai bahwa tuduhan itu sengaja dilontarkan sebagai upaya untuk mendiskreditkan niat dan tujuan mulia KBRI Watch dalam melakukan pengawasan terhadap kinerja KBRI dan kantor perwakilan RI di AS.

KBRI Watch sendiri sudah menegaskan dan berkomitmen akan selalu menjadi lembaga
Watchdog yang non-partisan dan tidak terikat oleh kepentingan politik tertentu (meskipun secara individu para aktivis KBRI Watch tetap bebas untuk berpolitik praktis).

Demikian yang dapat kami sampaikan dari hasil pertemuan dengan pihak KBRI, Rabu malam tanggal 13 April 2011.

Hormat kami,

(Tertanda)

Irwan Rosyadi
Koordinator

HP: +1-202-468-2635
e-mail: kbriwatch@yahoo.com
twitter.com/kbriwatch
Facebook.com KBRI Watch page

Untuk share artikel ini klik www.KabariNews.com/?36619

Untuk Melihat artikel Amerika / KBRI-KJRI lainnya, Klik disini

Mohon beri nilai dan komentar di bawah artikel ini

______________________________________________________

Supported by :




Related Articles
Pembantu Dubes Kabur, Muncul Tudingan Konspirasi
KLARIFIKASI KBRI WASHINGTON DC TERHADAP PRESS RELEASE "KBRI WATCH"
 
 
 
Post A Comment
* Indicates required information
Comment Title:
* Comments:
Nickname:
* Validation:
10 comments for this article Reverse Comment Order
Added: April 30, 2011. 01:03 AM GMT
Saling membantu
Saya bingung aja ya koment yg bilang istilah KENTUT aja di TILDEN se DC bisa tau...waduh berarti BAU nya luar biasa ya..
Nah menurut saya marilah saling membantu menghilangkan KENTUT yang bau nya kemana-mana jangan sampai kita juga ikut2an KENTUT jadi makin BAU...itulah sebab nya bangsa kita susah mau maju mau bersatu aja susah banget...bukan saling membantu malah saling menambahkan gosip dan bumbu2 penyedap...
siapa tau pembantu yg kabur itu juga hasil ojokan2 dari orang luar sehingga mereka KABUR...seperti soal Gaji mungkin yg mereka terima $500/bulan sedangkan kalau mereka kerja di luar jadi Baby sitter bisa mereka dapatkan $ 500/week..
masalah PRT itu gak tau di untung...or dia goblok ya jelas dong mereka pasti gak mau rugi karena ya itu tadi denger2 dari PROVOKATOR nah kalau dia di bilang Goblok ya....dia akan bilang kalau gw pinter gw gak jadi BABU ngkali...
untuk itu marilah kita cari jalan terbaik dan kerja sama nya sehingga nama bangsa kita tidak tercemar....
batu raden
Alert a moderator
Added: April 28, 2011. 01:40 AM GMT
English Version
Again, it is not perfect in English, at lease you will understand this story.
Embassy Watch Press Release: defection 4 Persons Household Staff Ambassador Residence

The outcome of the meeting with the Embassy in Washington to discuss defection 4 Persons Household Staff Wisma Ambassador
Herewith we are from the Embassy Watch organization issued a press release on the results of our meeting with the three embassy diplomats - led by the Head of Information Heru Subolo - who was appointed to represent the Ambassador of the Republic of Indonesia LBBP in America, Dr. Dino Patti Djalal.
Meeting KBRI Watch and Indonesian Embassy staff held on Wednesday night (13 / 4) at the Embassy in Washington DC, to discuss concerns and complaints members of the Indonesian community in the Washington DC area, mainly related to "escape" of his four-person household staff at Indonesian Ambassador Residence in Washington, DC.
With the influx of complaints and reports community via e-mail KBRI Watch for "lost" four-person staff at Ambassador Residence, the KBRI Watch group has sent an official letter to the Embassy (Ambassador cq) dated 10 April requesting an explanation regarding the case of flight of the house staff. The letter also we attach after this press release.
From this meeting, we get some explanation as follows:
• The Embassy regrets why this news first "leaked" to the media, thus making the problem becomes more complex. We are from the KBRI Watch said that with the disclosure of information through Facebook and so on are very difficult to cover up information that has spread among the people. We are, KBRI Watch and agreed that in future will need to build better communication and constructive, although both sides still different views on the functions and roles of each. KBRI Watch said that we still will be a critical partner Embassy, and became a "mouthpiece" of reports and complaints by the public, as happened with the defection of house staff at Ambassador residence .Embassy and the KBRI Watch Party agreed that safety issues of those escaping staff Ambassador Residence should be a concern to all members of the Indonesian people, because human trafficking. many cases the staff who run eventually become victims of human trafficking.
• A diplomat from the field of consular also informed that the case of 3 (three) of Housekeeping staff who fled earlier been reported to the U.S. government through Department of State because they are considered to violate the contract, while the 4th house staff whose finally the final run away (who worked as Babby sitter) still continue to search. According to this diplomat to 3 house staff homestead first ambassador who fled his passport as well been revoked (in-REVOKE) by the Embassy.
• For the 4th house staff that last escape, the field of consular diplomat also asserted that the Embassy is ready to "take all means" to find her. This is because the sitter is reportedly already quite a long time family joined Ambassador Dino Djalal (more than seven years). Even diplomats said this: If I need to Embassy ready "ancur-ancuran" to find staff who one is. KBRI Watch itself shocked and deeply regrets the formal meeting should not have issued statements that are threatened or emotional attitude, because we are confident greeting diplomats would not reflect the policy made by or that may be taken as the representative of the government of Indonesia embassy abroad.
• Subsequently, the embassy remained of the view that problems of domestic staff in the House of Tilden is the "internal problems" between the Ambassador of the staff concerned, because before they left for the staff that have signed as a house staff employment contract (Note: there are 8 people all the staff who brought Ambassador Dino Djalal of Indonesia) plus at least 2 senior house staff in the House of Tilden and driver / driver is also provided by the Embassy.
• KBRI Watch expressed concern that this issue is no longer "only" be Ambassador family internal issues, if people have been asking and reporting complaints about why the number of household staff who brought too large, from where they are paid, and even asking why until those house staff until to take the risk of "running away" from her employer? Is there a treatment that is less
• Of course all these questions unanswered because the Embassy insists that this is an internal problem.
• The KBRI Watch asked whether the Embassy only pay 2 (two) house staff with fund budget (APBN), because according to our calculations there are at least 10 people, plus a driver who worked for the family of Ambassador. KBRI Watch receives this information from one senior diplomat, but a diplomat at the meeting stated that the staff quota an Ambassador is 3 (three), while 2 (two) is to the Deputy Ambassador or DCM (deputy chief of mission) . Parties Embassy said that the affairs of other house Staff outside the Embassy which are dependents of embassy affairs , this not KBRI Watch had expressed concern whether the amount that too many staff, who outside of a dependent state, payroll house staff from personal funds that do not burden the Ambassador family Ambassador?
• According to our rough calculations, payroll staff outside the embassy dependents can cost about U.S. $ 5,000 more per month, which must be borne from the personal pockets Ambassador family. This amount is in our view represents a fairly large amount of expenditure, although it is covered by an ambassador though, so we rarely see my level officials in the U.S. minister has a staff that much. Moreover, an ambassador from a developing country like Indonesia that its budget of course limited. This is also the result of complaints and grievances of community members who came to the KBRI Watch.
• Therefore, the KBRI Watch also had time to ask how much the salary (benefits) received the Ambassador of per month so that they can pay for his all house staff. This question is not answered, and KW was asked directly asking the Department of Finance which has a list of salaries / allowances Ambassador / Head of Foreign Representative Affairs. Regarding concerns about salary at least 6 house staff in Residence/Tilden, again according to the Embassy that - once again - is the internal problems of the Ambassador family, and not a community issue.

• Last of the financing for the activities / programs Embassy, especially the Guinness Book record-breaking event with 5,000 angklung, according to Diplomat Staff, Embassy can indeed be looking for sponsors to finance the program / activity, but keep in mind that revenue from sponsors can not enter the cash Embassy but it must be managed by the organization or legal entity in the United States who was appointed as executor or coordinator of the program / activity. And this is often done Embassy in considering the budget program that provided the state budget is not enough to finance all the activities / programs, especially those related to promotion of culture, in the United States.

Similarly, press releases from the KBRI Watch related reports and public complaints about the escaping of house Staff at Ambassador Residence. Indeed there are many differences of view that runs the KBRI Watch has a rights as citizens to ask for transparency of information by public bodies, with the embassy as a public institution. According to the Embassy, not all public institutions or public officials are ready with the application of Law 14/2008 regarding the public disclosure, especially about what kind of mechanism.
In essence KBRI Watch maintain that request information from agencies and public officials (which is not a state secret) is the right of every citizen, which must be respected in order to participate shall supervise the performance of public agencies, and supervision over the use of the state budget.
KBRI Watch also confirmed for a critical attitude towards the Indonesian Embassy as an institution or embassy officials should not be construed as an attitude to drop and assessed from a negative standpoint. We heard rumors (rumors) that the Embassy Watch suspicion of having committed "political conspiracy" to topple the Ambassador, of course, an accusation that a very, very funny. We are of the KBRI Watch considers that the allegations leveled in an attempt to deliberately discredit the intentions and noble goals KBRI Watch in monitoring the performance of Indonesian Embassy and representative offices in the U.S..
KBRI Watch itself has been confirmed and will always be an institution committed Watchdog is a non-partisan and not bound by certain political interests (although individual KBRI Watch activists remain free to practical politics.)
So who can we convey the results of the meeting with the Embassy, on Wednesday evening April 13, 2011.
Sincerely,

((Signed)

Irwan Rosyadi
Coordinator
hanigan
Alert a moderator
Added: April 27, 2011. 01:51 AM GMT
Ayo KJRI Watch Houston...!!!!
Di Houston ini masyarakat Indonesia banayak sekali, tapi agak2 mlempem...
Houston perlu juga bikin oraganisasi seperti ini, perlu juga belajar ama orang2 di Washington DC...

Hebat dan salud ama warga Washington DC
salud
Alert a moderator
Added: April 26, 2011. 12:04 PM GMT
akan beresiko besar jika harus ditangani Pemerintah setempat
sangat menarik komentar ini, karena akan berbalik arah jika ditangani oleh Pemerintah AS. Hal ini nantinya tak luput dari media dan LSM yg bisa saja mengangkat isu-isu yg berkaitan dengan perlindungan wanita, slavery, abuse, ke tenaga kerjaan dll. Dari dulu desakan-desakannya akan sangat kuat ke Konggres dan ke berbagai kalangan di Pemerintahan


Sebaiknya selesaikan dengan kekeluargaan





"Nannygate"





Dubes DPJ kelihatannya serba salah langkah dan salah tingkah dalam menghadapi berbagai argumentasi KW. Berbagai poin dalam press release KBRI tanggal 19 April 2011 mengindikasikan keadaan terdesak yang mengabaikan aturan hukum berlaku (antara lain UU 4/2008 atau Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara) dan menunjukkan upaya emosional untuk membersihkan nama baik dengan mengada-ada isyu "conflict of interest" maupun memutarbalikan isyu "human traficking" yang secara umum berupaya menjatuhkan kredebilitas KW.











Jaman sekarang, isyu gaji pegawai RT Dubes RI di Washington, D.C. BUKAN lagi merupakan masalah internal keluarga sebagaimana diungkapkan dalam press release KBRI tersebut, apalagi staf yang berjumlah 7 orang ini ditanggung secara pribadi diluar anggaran resmi KBRI. Dubes DPJ semakin lengah dengan realita dan berusaha mengabaikan kenyataan bahwa sebagai pejabat tinggi RI yang digaji oleh uang rakyat maka ybs harus bersedia memberikan Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara seperti halnya Presiden SBY tahun lalu. Sebagai Dubes RI (yang berkuasa pelnuh bla-bla-bla) tentunya diharapkan pula untuk mematuhi segala hukum yang berlaku (termasuk hukum AS) dalam upayanya mendatangkan 7 staf extra ke Wisma Tilden di Washington, D.C.











Dalam peraturan Department of State menyangkut visa A3 (lihat http://travel.state.gov/visa/temp/types/types_2637.html#visaprocessing) dituliskan beberapa persyaratan yang termasuk pembuktian kesanggupan majikan dalam bentuk kontrak kerja untuk menanggung upah stafnya sesuai ketetapan upah minimal Departement of Labor di AS. Pada kenyataannya pada tahun 2010 Dubes DPJ telah berhasil mendatangkan ketujuh staf tambahan ke AS yang berarti pula telah berhasil memenuhi dan membuktikan kepada Kedutaan Besar AS di Jakarta segala persyaratan yang ditetapkan.











Bila diperhitungkan (tanpa menghitung ongkos asuransi kesehatan yang diwajibkan sebagai employer dan hanya menggunakan nilai upah minimal $1500/bulan sebagaimana menurut KW) maka Dubes DPJ dalam kontraknya telah menyatakan kesanggupan untuk menanggung total biaya setidaknya sebesar $10500/bulan ($1500 X 7) hanya untuk pengeluaran upah staf RT. Apakah saat ini Dubes DPJ saat ini dapat mengklarifikasi angka-angka ini sesuai dengan dokumen yang telah diajukan ke Kedutaan Besar AS di jakarta? Bila hal ini tidak ada masalah, maka DPJ semestinya dapat dengan mudah membuktikan kesanggupannya dangan menunjukkan jumlah penghasilannya dan kontrak yang diajukan ke Kedutaan Besar RI di Jakarta.











Kalau ybs saat ini tidak dapat membuktikannya, maka berarti bahwa ybs telah menyalahi hukum AS dengan memalsukan angka-angka gaji dalam kontrak yang disampaikan ke Kedutaan Besar AS di Jakarta. Bila memang demikian halnya, apakah ini bukan salah satu bentuk "human traficking" yang dikelola oleh seorang pejabat tinggi RI? Dalam laporan tahunan 2010 Trafficking in Person yang dibuat oleh Department of State, khususnya di dalam negeri AS sendiri, dikatakan bahwa salah satu kasus yang menjadi permasalahan menyangkut pemberian visa A-3 yang diajukan oleh diplomat asing yang sedang ditugaskan di AS (lihat http://www.state.gov/documents/organization/142984.pdf halaman 338). Walaupun Indonesia tidak disebutkan sebagai salah satu negara utama yang menimbulkan masalah tersebut namun pola atau pattern penyelewengan yang serupa dapat diamati dalam laporan tersebut.











Mantan Dubes Dorodjatun dulu pernah bilang bahwa KBRI Washington, D.C. adalah panggung atau arena paling bergengsi yang dapat melonjakkan atau menjebloskan karir seorang pejabat Pemri. Belum setahun ditempatkan di Washington, D.C., DPJ sudah terkena isyu memalukan menyangkut RTnya. Bayangkan, Menlu Marty sudah diminta penjelasan oleh DPR dalam rapat komisi yang akan datang. Menurut TempoInteraktif.com, BBC telah mentayangkan berita ini. Jangan bermimpi kalau Pemerintah AS, baik di White House, Department of Justice atau Department of State seolah tidak tahu menahu sama sekali soal masalah ini (masih ingat tugas umum National Security Agency?). Masalah ini sudah jelas memalukan Pemri dan mengganggu kinerja Dubes DPJ yang katanya terlalu sibuk dengan misi besar RI-AS namun sempat-sempatnya meng-update twitter accountnya menyangkut 4 staf RTnya yang kabur.











Apakah dia kurang pandai, kurang pengalaman, kurang sigap atau apa yah? Setahu saya ybs berpendidikan jauh lebih tinggi dari sebagian besar pejabat RI di Indonesia, termasuk RI-1 sendiri. Atau dia sebenarnya lebih handal sebagai selebritis daripada pejabat tinggi yang efektif? Tau ah, gelap! Masa bodo ah!





Jimi Hendrix Experience


Nanny Yg Baik
Alert a moderator
Added: April 26, 2011. 05:30 AM GMT
Isunya yang mana yang mau diangkat
Jika dilhat dari segi isi, penulis press release ini kebingungan. Sebenarnya mau mengangkat isu kaburnya 4 PRT atau mau ngungkit soal kekayaan DJP? Aneh.
'KBRIWatch' Watchdog
Alert a moderator
Added: April 25, 2011. 09:44 PM GMT
Sebaiknya jangan menyalahkan dulu
Ini sebetulnya masalah pribadi/ rumah tangga Dubes, tapi akan menjadi masalah publik. Karena 4 orang staf ini ngabur di negeri orang. Di negeri ini terutama sangat banyak LSM dan media yg melindungi korbans seperti ini. Semoga ada jalan keluar yg terbaik dan tetap secara kekeluargaan. Kita sama berkeluarga dan cari nafkah di negeri ini, jangan saling menyalahkan. Salam damai
vodati
Alert a moderator
Added: April 23, 2011. 03:14 PM GMT
cukup memalukan
Sangat memalukan sekali, kabur tanpa minta ijin Boss.
Mang Udel
Alert a moderator
Added: April 21, 2011. 07:09 PM GMT
false press release
press release tiak memasukkan fakta bahwa yang kabur meninggalkan surat yg ditujukan kepada pak Dubes. dalam surat itu, mereka minta maaf, mereka pergi, karena mereka merasa telah gagal menjalankan tugas mereka sebagai pembantu pak Dubes. mereka menjelaskan, mereka pergi agar kerjasama tim para pembantu, tidak terganggu oleh kegagalan mereka menjalankan tugasnya.

di dalam surat itu, mereka juga meninggalkan uang sebesar $1200. uang itu adalah hutang mereka kepada pak Dubes.

masih banyak lagi fakta yang tidak dimasukkan ke dalam press release itu.
insider
Alert a moderator
Added: April 21, 2011. 12:07 PM GMT
kentut saja di tilden semua orang di dc sekitarnya dengar
jangankan berita besar seperti 4 orang pembantu dubes kabur, kentut aja di tilden dalam beberapa menit seluruh masyarakat indonesia sudah tahu, dari dulu sih cuma gak ada yang berani terang2an, dengan adanya perubahan zaman dan ada watcdog dengan berita terbuka, masyarakat ndonesia lebih bisa menilai apakah berita itu benar atau rumor
tordok
Alert a moderator
Added: April 21, 2011. 11:09 AM GMT
Mungkin mereka digaji standard indo (1-2 juta/bln), kaburlah mencari kerja ditempat lain dimana mereka bisa dapet 20 kali lebih besar. Begitulah sifat orang indo.. sudah bagus bisa dibawa kerja sampai amerika, sampai disini kabur... tapi siapa tau, mungkin majikannya memperlakukan kurang baik dan mereka gak ada pilihan lain selain kabur...
Uniqueros
Alert a moderator
Reverse Comment Order
Google