Dok dok dok dok … gedoran amat keras di pintu rumah Raymond dan Cindy di kawasan San Bernardino itu segera saja membangunkan mereka dari tidur nyenyaknya. Masih jam 6 pagi, hari pertama September 2004. Heran mengapa bukan bel rumah yang bunyi. Mengendap-endap, dia mengintip siapa gerangan dari balik window blind rumahnya. Gedoran mirip gebrakan itu tak berhenti. Pria Manado ini terpaksa membuka pintu.
Di depannya dua agen federal berbaju preman. Satu berwajah Latino, satunya bule.
+ Anda Raymond ?
- Yes (tertahan)
+ Hari ini juga anda dideportasi ! Ini surat perintahnya !
- Bagaimana mungkin, officer ? Kasus saya masih pending dan ditangani lawyer (memperlihatkan surat-surat)
Usaha Ray meyakinkan petugas sia-sia. Dua tangannya diborgol. Berbekal baju seadanya dan dokumen imigrasi, dia menaiki mobil SUV bersama agen ICE (Immigration & Custom Enforcement) menuju gedung federal di downtown LA. Ray sungguh terpukul. Di kejauhan, istrinya terpaku sedih.
Peristiwa mengagetkan di Colton itu hanyalah secuil perjalanan panjang suami-istri asal Indonesia ini mengurus ijin tinggal di Amerika. Mendarat tahun 1999. Setahun kemudian minta asylum. Usahanya naik banding berujung dengan keputusan final 9th Circuit Court di awal Juni 2004. Kasusnya ditolak. Belum menyerah, Ray kontak satu lawyer top di LA di bulan Juli. Pengacaranya menjanjikan membawa kasusnya ke Supreme Court (setingkat Mahkamah Agung). Saat konsultasi, dia mengingatkan attorney dalam 30 hari surat dari pengadilan tinggi itu harus dijawab. Pilihannya, meninggalkan AS sukarela atau membuka lagi kasusnya. Berharap tetap di AS dan kurang mengerti hukum, dia langsung saja bayar depe. Karena sampai deadline tak ada file apapun dari si Pengacara, terjadilah penangkapan ini.
Sesampai di downtown LA, Raymond harus menjalani interogasi berjam-jam. Sekitar jam 11 siang dia berhasil menelpon Pengacaranya. Si lawyer berusaha menenangkannya. "Dont' worry, Ray, I will let you out from there", tukasnya. Masih yakin bisa bebas, tapi tak ada tanda-tanda lepas sampai malam. Terpaksa harus tidur beralaskan lantai.
Jam 10 malam, Ray dipindah ke Lancaster. Menunggu lagi. Perawat memeriksa kesehatan semua tahanan. Setelah mandi, dia harus berpakaian seragam orange yang bertuliskan 'county jail'. Di saat itulah Ray tidak bisa lagi menahan air matanya. Dia masih shock, kecewa, dan sangat sedih sekali. Seperti kriminal. Seingatnya dia mendekam di barak di paling ujung, bernomor 29. Baru merem sebentar, jam 5 sudah harus bangun untuk breakfast.
Hari ketiga jam 10 malam, Ray sekali lagi ditransfer ke Detention Center di San Pedro. Ray mengenakan seragam warna lain. Protes dengan sang sipir. "Kenapa biru ?", kata Ray. Si petugas keras menjawab dialah yang "in charge" urusan seragam. Belakangan dia tahu, biru itu untuk tahanan non-kriminal, orange untuk tahanan misdimeanor dan merah untuk penjahat kelas berat.
Di penjara imigrasi San Pedro yang bertingkat, Ray menghuni salah satu lantai atas yang disebut Pod. Ada 7 Pod. Meski terhubung, satu Pod disekat menjadi 3 ruangan besar. Masing-masing untuk tempat tidur, tempat makan dan tempat mandi. Ada sekitar 65 tahanan dalam satu Pod. Ada dua security guards.
Menunggu kepastian nasib lebih dari 3 bulan, pagi jam 10 pada 7 Desember 2004 Ray dipanggil petugas untuk menghadap ke Processing Center. Berlokasi di bawah, ini adalah tempat agen federal menginterogasi tahanan imigrasi. Jumlahnya 5 kamar sel ukuran sedang. Ada meja, kursi bench. Juga toilet kecil. Salah satu dinding sel berkaca tembus pandang, dimana petugas bisa memperhatikan gerak-gerik tahanan.
Begitu masuk Processing Center, Ray bertemu petugas yang mengaku dari Texas. Seolah memvonis, officer bilang, "Hari ini anda dideportasi !". Ray bereaksi, "Why don't I get noticed ?" Dia masih yakin bakal bebas. Petugas terus memperlihatkan semacam tiket pesawat dari SQ untuk penerbangan malam itu dari LAX ke CGK. Si petugas juga bilang kalau dia akan menjadi escort, sekaligus nurse, selama penerbangan. Petugas sempat tanya apakah Raymond perlu obat penenang. Ray menjawab spontan tidak perlu. Bahkan, Ray meyakinkan bahwa dia adalah seorang pendeta muda di salah satu gereja berbahasa Indonesia di kawasan San Bernardino. Mendengar berita deportasi tadi, Ray memelas minta ijin menelpon istri dan lawyer-nya. Meninggalkan lokasi, petugas membalas, "No, not now". Pedih sekali rasanya.
Ray mencoba dinner sebisanya. Tiba-tiba saja beberapa petugas berseragam hijau masuk menyergap Raymond di dalam ruangan. Ray sempat terkejut. Sedikit memekik, dia bertanya, "What's going on?" Seorang lady officer berkata akan menginjeksi dia. Ray mencoba menjelaskan."M'am, please, ini tidak perlu, Saya siap pulang sekarang juga" ujarnya. "Saya baik-baik saja. Saya ini pendeta, M'am", ujarnya. Petugas perempuan tadi balik menjawab, "No, no, no. Sudah terlambat! Buka celanamu sekarang!" Sejurus kemudian, semua petugas langsung memegang tangan, kaki dan kepala Ray. Badannya dihempaskan ke bangku terdekat. Kepala dan dadanya terantuk keras. Lalu, diinjeksilah Ray malam itu. Seorang petugas panik "Hold the camera". Akhirnya, dengan sisa-sisa tenaga, Ray berkata, "Mengapa anda lakukan ini terhadap saya. Saya bukan binatang". Dia langsung tertidur. Saat wawancara bagian ini, Ray bersuara serak, banyak jeda dan bernapas panjang mencoba melanjutkan kisahnya.
Begitu siuman, badannya berat, kepalanya pening. Malam itu juga Ray dilarikan dalam van berpendingin udara maximum menuju ke airport. Berlengan pendek, menggigil serasa hampir ajal rasanya. Begitu sampai di runway airport, menunggu dua jam sebelum deportasi. Lalu, satu officer bilang, "Well, Ray, anda lucky tak jadi dideportasi sekarang !".Kenapa tidak?, tanyanya penasaran. "No clearance", jawab petugas singkat. Bukannya senang, Ray malah jengkel sekali. Semalaman masih merasa ling-lung di Pod. Mengutip LA Times, security bandara LAX membatalkan deportasinya karena kurangnya notifikasi dari ICE.
Ray mendekam 27 bulan di penjara kawasan Long Beach ini. Baru lepas 12 Februari 2007 berkat bantuan American Civil Liberty Union Los Angeles yang memenangkan gugatan pelepasan puluhan imigran yang ditahan tanpa batas waktu. Ahilan Arulanantham, pengacara Ray yang pro bono dari organisasi pembela hak-hak sipil di Amerika ini berkata “ Penyuntikan Ray sungguh tidak manusiawi, bahaya dan illegal". Pakar kesehatan mitra ACLU mencatat bahwa obat yang diinjeksikan kepada Raymond termasuk obat psikosis. Buat pasien sakit jiwa yang melawan petugas.
Ray merasa beruntung memiliki istri yang tabah dan setia. Dia masih bisa menelpon Cindy, istrinya, dari balik tahanan. Pasangan ini belum dikarunia anak. Beruntung teman-temannya masih mengunjunginya selama ditahan, meski bertemu-muka dibatasi kaca, berdiri di bilik sempit dan berbicara via telpon. Yang terpenting, Ray tidak lupa berdoa dan terus berjuang.
(Wawancara Kabari dengan Raymond di LA dan Ahilan Arulanantham, pengacaranya, terjadi berkat bantuan American Civil Libery Union, South California. Kasus ini masih dalam proses hukum, data Ray selengkapnya ada pada Redaksi)
Peter Phwan