2Kabari Banner
 
 
 Web  Majalah Kabari 
Surja

Hidup dengan Kebahagiaan....

04/28/2010 - 9:13 p.m. GMT -- by Surja


HOW TO REGAIN NORMAL SLEEP PATTERN

BY Surja Tjahaja

Here is the Do’s and Don’ts of how to regain normal sleep pattern:

The Do’s:

1. Routine exercise of an hour of cardio vascular type of activities at least every other day (for example jogging, fast walking, swimming, bicycling, etc.).

2. Routine time to go to bed.

3. Eat light at dinner time.

4. Read in bed for half an hour or more in bed before time to sleep.

5. Focus the mind on how tired and sleepy it feels.

6. If you have sleep apnea (obstructed breathing passage during sleep), please consult a doctor.

7. If woken at night (e.g. by need to go to the bathroom), first try to focus the mind on how tired and sleepy it feels. If this does not work, sit up and read a boring book while focusing the mind on how sleepy and tired it feels and it is preferable to sleep than reading the boring book.

8. Tell the mind that now is the time to sleep, all worries or concerns can be picked up the next morning (it will not go stale or go away anyway).

9. Meditate frequently to strengthen concentration and relaxation skills.

10. Maintain positive attitude and think that you will be able to gain normal sleeping pattern.

11. Have confidence that when the body and mind are tired enough, you will sleep.

12. Take on relaxing activities close to bed time (for example take a hot bath and think of pleasant things such as gratitude and love).

13. Maintain your peace throughout the day by thinking positively.

14. Believe that you will be able to go to sleep well tonight.

The Don’ts:

1. Don’t drink more than one glass of alcohol during dinner, alcohol will disrupt the sleep pattern.

2. Don’t take a nap in the afternoon.

3. Don’t’ exercise late in the evening.

4. Don’t s... [Read More]

09/24/2009 - 7:49 a.m. GMT -- by Surja


Menyambung blog 25 Agustus 2009 yang mana telah diuraikan definisi dari konsep kebahagiaan, alangkah bermaanfaat kalau kita telusuri sedikit arti yang bertolak belakang dengan perasaan yang tidak berbahagia.

Mudah dirasakan di badan dan batin, contohnya  bila kita dalam keadaan marah, iri hati, kesal, sedih, jengkel, kecanduan, dendam atau perasaan lainnya yang timbul secara kentara.  Sedangkan yang kurang kentara, sebagai contohnya seperti perasaan berdebar, resah, kurang nyaman, gerah, khawatir, ragu-ragu, malu, sungkan, sibuk, dan rasa malas.

Seringkali sulit untuk dapat sadar bahwa perasaan kurang berbahagia itu untuk dapat dikenali. Marilah kita himbau masalah nomor dua dari urutan yang disebut dalam blog bulan yang lalu, yaitu: rintangan untuk mencapai kabahagiaaan. 

Rintangan tersebut berasal dari dua tempat:  yaitu dari dalam diri sendiri dan dari lingkungan di luar diri kita.  Walaupun rintangan yang berasal dari luar diri kita cukup penting artinya, tapi lebih penting bila kita menelusuri yang berasal dari dalam diri kita.

Bila kita pusatkan penelitian kita atas hal yang datang dari dalam diri kita maka ini memungkinkan untuk menambah kepintaran dan kebijaksanaan.  Selain alas an untuk menambah ilmu, alasan lainnya adalah karena lebih mungkin untuk mengontrol diri kita daripada mengontrol hal yang di luar diri kita.

Kekurang sadaran (sebagai rintangan) atas perasaan kurang berbahagia kadang kala diakibatkan oleh:

1.      Tidak sadar adanya perasaan kurang bahagia:  ini diakibatkan kurang perhatian atas perasaan di badan dan batin, seolah kebal. Hidup hari ke hari tanpa dapat memperhatikan rasa di sanubari dan di badan yang dikarenakan kurang sadar, mungkin karena terlalu sibuk atau hanya belum pernah memberikan perhatian atas perasaan yang kurang enak di badan atau jiwa.

[Read More]

08/25/2009 - 4:55 a.m. GMT -- by Surja


Menyimak unsur kehidupan bagi manusia di dunia ini, tidak perduli dari negara, suku, umur, atau sifat kelaminnya, jurus utama yang kita inginkan adalah kebahagiaan.

Kita bekerja, makan, berkeluarga, beribadah, dan aktifitas lain berdasarkan kehendak untuk mendapatkan kebahagiaan.  Walau terkadang aktifitas tertentu dilakukan, seperti mencari uang, sebagai akhir dari tujuan kita karena lupa atas yang sebenarnya dicari adalah kebahagiaan, bukannya uang yang dicari. 

Sudah menjadi fakta bahwa kekayaan tidak menjamin kebahagiaan, sebagai contohnya:

Stalin, pemimpin Russia diceritakan oleh putrinya, bahwa walaupun ia kaya-raya, penuh kekuasaan, dan dapat melakukan apa pun yang dia inginkan, sangatlah menderita.  Sewaktu ajalnya datang Stalin tidak dapat percaya kepada siapapun termasuk dirinya sendiri.  Dia sempat membunuh anaknya sendiri dan merasa sangat kesepian dan penuh derita.

Jadi alangkah bergunanya untuk direnungkan apakah yang kita lakukan akan memberikan kebahagiaan. Jangan kita menempuh jalan yang sebenarnya menambah penderitaan dan menjauhi kebahagiaan.

Mudah sekali kita dapat terpengaruh melihat orang lain yang bermobil istimewa,  mempunyai istri cantik atau suami yang ganteng, berpakaian mewah, beranak banyak, dan mempunyai kekuasaan, seolah berbahagia dengan segala materi itu.

Sebenarnya kalau kita telusuri, kebahagiaan berasal dari dalam kita, bukan tergantung dari apa  yang  terjadi diluar kita. Dalam hal ini tidak dapat kita memungkiri kenyataan yang mana uang, dalam kebanyakan situasi diperlukan untuk kehidupan.  Juga tidak  kalah pentingnya untuk menyimak berapa banyak uang yang diperlukan dan seatasnya adalah berlebihan.

Pada contoh yang kita telusuri: kekayaan, perlu juga kita pelajari pengaruh uang atas penerimaan sosial.  Tidak asing bila kita temukan kumpulan manusia yang tidak akan menghormati sesamanya kalau dia itu miskin.... [Read More]

Hidup dengan Kebahagiaan....